Jangan Ragu, Kerahkan Imajinasimu - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Jangan Ragu, Kerahkan Imajinasimu

    Dibaca : 2.098 kali

    “Imagination is more important than knowledge.”

    --Albert Einstein

     

    Dulu, sewaktu bekerja dengan banyak manajer senior, saya kerap dinasihati agar selalu mencermati pengukuran. Segala sesuatunya mesti terukur. Misalnya, berapa jumlah pelanggan baru, berapa jumlah produk yang laku, berapa lama keterlambatan produk sampai ke konsumen. Hasil-hasil pengukuran itu menjadi titik tolak untuk mengambil keputusan, untuk bertindak, untuk memperbaiki proses dan mekanisme kerja, untuk menetapkan target selanjutnya, untuk mengantisipasi masa depan.

    Petuah yang lazim mereka ucapkan kira-kira seperti ini: “Jika kamu tidak bisa mengukurnya, kamu tidak bisa mengelolanya.” Ketika itu, saya menangkap adanya persepsi bahwa manajemen yang baik adalah manajemen yang terkait erat dengan pengukuran yang baik. Saya menangkap kesan bahwa apabila kita telah mengetahui tentang sesuatu dalam angka-angka, kita hampir pasti mampu mengendalikannya, dan kita dapat melangkah maju. Mungkin ya, tapi kemajuan seperti apa?

    Berpikir seperti itu tidak ubahnya menarik garis ekstrapolasi. Apabila begini, maka begitu. Jika kita mendapatkan angka-angka tertentu pada saat ini, kita dapat memproyeksikannya untuk enam bulan ke depan. Sayangnya, pergerakan dunia tidak selalu mengikuti garis ekstrapolasi. Perubahan yang berlangsung tiba-tiba adalah peristiwa wajar yang kerap kita hadapi. Dengan mengandalkan hanya pada apa yang sudah kita ukur, pandangan kita mengenai realitas jadi lebih terbatas.

    Kita menempatkan diri dalam kurungan apabila mengikuti cara berpikir seperti itu. Kita tidak ubahnya katak di dalam tempurung. Gagasan-gagasan segar sukar lahir dari cara berpikir ekstrapolatif. Charles Sanders Peirce, filosof pragmatis yang hidup pada akhir abad 19 dan awal abad 20, menunjukkan bahwa tidak ada gagasan baru yang dihasilkan oleh logika induktif atau pun deduktif. Jika kita bersikukuh hanya mengandalkan hasil pengukuran, kita tak akan bisa menciptakan sesuatu yang berbeda dari masa lampau. Kita mungkin merasa takut untuk ‘menyimpang’ dari hasil pengukuran dan melompat kepada gagasan lain yang sama sekali berbeda.

    Kalaupun kita mengikuti cara berpikir ekstrapolatif tadi, belum tentu apa yang terjadi di kemudian hari akan seperti yang kita esktrapolasikan. Menghadapi situasi seperti ini, para manajer suka menyalahkan situasi dan kekuatan yang berada di luar kendalinya. “Bagaimana kita bisa meramalkan bahwa kejadiannya akan seperti ini?” adalah ‘jurus berkelit’ yang sering dilontarkan.

    Pernyataan itu, betapapun, mengandung kebenaran juga. Kejadian masa depan tak bisa diprediksi. Yang menjadi soal ialah mereka terlampau mengandalkan logika induktif atau deduktif sebagai cara berpikir yang benar untuk membayangkan masa depan. Untuk kemudian, mereka bertindak atas dasar itu.

    Menghadapi situasi yang tak pasti di masa depan, imajinasi memainkan peran yang lebih krusial. Masa depan adalah ihwal imajinasi, bukan pengukuran. Temuan Peirce menunjukkan kecenderungan itu. Untuk membayangkan masa depan, kita mesti melihat dengan melampaui variabel-variabel terukur, melampaui apa yang telah terbukti dengan data masa lampau.

    Apa yang dilakukan oleh Alexander Graham Bell adalah contoh dari kekuatan imajinasi. Pada masanya, orang belum bisa bercakap-cakap dari jarak jauh. Kabar mengenai keluarga disampaikan melalui pos dan telegram.  Bell berpikir melampaui kemungkinan yang terbatas dari kedua sarana ini. Ia berpikir “di luar kotak”. Ia menggunakan imajinasinya untuk bergerak melampaui cara-cara berpikir biasa.

    Contoh lain. Ketika Yahoo! sudah cukup lama hadir dan percaya diri dengan kehebatan mesin pencari dan portalnya, datanglah Google yang memperdalam kekuatan mesin pencari dengan berbekal algoritma yang lebih canggih. Tapi dedengkot kedua raksasa ini tidak berpikir tentang memanfaatkan internet untuk menyambung silaturahmi antarpenggunanya hingga Facebook datang. Mark Zuckerberg melakukan lompatan logika ketika sampai kepada gagasan kreatif itu, melampaui fungsi mesin pencari.

    Cara berpikir inilah yang disebut oleh Peirce sebagai abductive logic, yakni suatu lompatan logika dalam pikiran. Dunia seakan menjadi tak terbatas, dalam arti kita bisa berpikir sebebas-bebasnya perihal berbagai ragam kemungkinan. Meminjam teori “sum over histories” fisikawan Richard Feynman, bahwa semesta memiliki banyak sekali sejarah, maka masa depan pun mempunyai banyak sekali kemungkinan.

    Seperti juga dikatakan oleh Albert Einstein, “Imajinasi itu lebih penting daripada pengetahuan.” Para ilmuwan, penemu, dan inovator adalah orang-orang yang berpikir melampaui hasil pengukuran, mereka melompat bersama imajinasinya.

    Nah, menghadapi dunia yang serba penuh kejutan, kita perlu memakai frasa lain, “Jika kamu tidak bisa membayangkannya, kamu tidak pernah bisa menciptakannya..” Jadi, kerahkan imajinasimu, bayangkanlah sesuatu yang luar biasa, dan raihlah. Imajinasi digunakan bukan untuk lari dari realitas, melainkan justru untuk menciptakannya. (sumber ilustrasi: goodtherapy.org) ***

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.