Buaya Budi Waseso - Analisa - www.indonesiana.id
x

Lestantya R. baskoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Buaya Budi Waseso

    Dibaca : 18.476 kali

    Budi Waseso rupanya membuktikan ucapannya beberapa saat sebelum ia dicopot sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Polri beberapa waktu lalu.  “Di mana pun ditempatkan saya tetap buas,” katanya.  Buas, yang diucapkan  bisa bermakna semantik atau “buwas” merujuk akronim popular namanya.

    Ketika menjadi Kepala Bareskrim Buwas membuat sejumlah  “gebrakan” yang membuat banyak orang bertanya-tanya: apakah yang dilakukannya murni penegakan hukum atau ada agenda lain –misalnya diminta seseorang. Kurang dari sepekan setelah dilantik menjadi Kabareskrim pada 23 Januari 2015, ia men-tersangkakan Bambang Widjajanto, lalu Abraham Samad. Kemudian puluhan anak buahnya secara atraktif menggeledah Kantor Pertamina Foundation. Dan terakhir, anak buahnya menggeledah Kantor Pelindo II di kawasan Tanjungpriok.

    Orang terperangah  -mungkin ada yang kagum akan tindakannya-  tapi banyak pula yang waswas.

    Tindakannya  menggeledah Kantor Pelindo itu memunculkan kegaduhan politik, lantas  Buwas  pun dimuasi,   bertukar tempat dengan Anang Iskandar.  Ia menjadi Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN).

    Di sini, hanya dalam tempo beberapa hari, Budi Waseso  membuktikan yang diucapkannya. Ia tetap “buwas.”  Ia menangkap para pengedar narkoba, membuat konferensi pers mengumumkan hasil kerjanya, dan di sela-sela itu,  beberapa kali profil dirinya  muncul dalam bentuk  advetorial mungil di pojok Koran Tempo. Di situ diceritakan bagaimana perjalanan karirnya. Disebutkan ia pernah menjadi tukang ojek saat masih berpangkat rendah. Ia tegas, pekerja keras...

    Kemudian muncullah kini gebrakannya terbaru, yakni, akan “mengkaryakan” buaya  menjadi sipir  tahanan narkoba.

    Budi Waseso rupanya  geram dengan bandar narkoba. Bisa jadi setelah ia masuk BNN, ia makin paham peta gurita narkoba itu di negeri ini. Indonesia memang salah satu pasar besar narkoba di dunia. Pencandu narkoba di Indonesia kini sekitar 5 juta orang. Kerugian per tahun karena benda haram ini, setahun, tak kurang dari Rp 63 triliun. Dan lebih dari 70 persen isi penjara  dihuni mereka yang terjerat kasus ini. Para bandar narkoba, dengan segala cara, berupaya membuat pasar konsumen narkoba di Indonesia makin besar. Caranya, menjerumuskan sebanyak mungkin orang menjadi pecandu.

    Para bandar juga rupanya tak takut hukum. Kekuatan uang membuat mereka, bahkan di dalam penjara sekalipun, tetap menjalankan bisnis narkoba. Tentu dengan sebelumnya “mengunci” mulut dan tangan petugas dengan segepok uang, suap.

    Kegeraman terhadap para bandar itu yang membuat Budi, entah dari mana, mendapat ide  membuat penjara narkoba dengan penjagaan buaya.  “Buaya tidak bisa disogok, tidak bisa disuap,” katanya.

    Saat ia memunculkan ide  itu saya kira Buwas main-main. Ternyata tidak.

    Buwas serius. Dia mengunjungi penangkaran buaya terkenal di Medan, Asam Kumbang, yang dihuni ribuan buaya. Ia juga berencana pergi ke tempat yang sama di Sulawesi dan Papua. “Saya akan mencari buaya paling buas,” katanya. (Di dunia ini buaya paling buas konon adalah buaya muara (crocodylus porosus) yang panjangnya bisa lebih dari tujuh meter).

    Buaya-biaya  itu, demikian katanya, akan ditempatkan di sebuah kolam yang di tengah-tengahnya berdiri penjara narkoba. Jadi, para tahanan yang mencoba kabur akan dicaplok buaya.

    Keseriusannya itu tidak hanya ia bicarakan dengan Kementerian Hukum dan HAM,  juga,  Selasa  lalu, ia  menggelar rapat perihal “sipir buaya”itu dengan Menko Polhukam Luhut Pandjaitan.  “Pokoknya program ini akan ditindaklanjuti selama dapat mengurangi jumlah kasus narkotik di Indonesia,” katanya kepada wartawan di Kantor Menko Polhukam.

    Kita tidak tahu bagaimana isi persis pertemuan itu. Tidak ada pemberitaan bagaimana isi dan suasana “rapat buaya” itu. Apakah misalnya sudah menyinggung soal  berapa buaya yang dibutuhkan, siapa penyuplainya, atau bagaimana kelak menyediakan makanan untuk para buaya.

    Jelas tak mungkin penjara buaya hanya dijaga satu atau tiga ekor buaya. Mestinya –melihatnya banyaknya penjahat narkoba- diperlukan puluhan atau ratusan. Dan binatang itu tentu perlu asupan daging segar setiap hari karena sipir model seperti ini tidak doyan karedok atau nasi soto. Dan, lagi-lagi, perlu rekanan penyuplai daging untuk ini.

    Namun bukan soal itu yang membuat saya tak setuju dengan ide penjara narkoba bersipir buaya. Bagaimana pun penjagaan dengan hewan reptil itu tetap tak efektif. Tak ada yang menjamin dengan dijaga buaya, para tahanan tidak kabur atau kemudian takut berbisnis narkoba di dalam penjara seperti selama ini kerap terbongkar.

    Jika Budi Waseso ingin para bandar narkoba tidak kabur atau menghentikan kegiatan terkutuk mereka penjara, maka yang dibenahi adalah sipirnya, atasan sipir, sistem perekrutan sipir,  sistem penjagaannya, sistem penjengukan narapidana, sistem pengawasan sipir,  pertukaran (rolling) sipir, dan seterusnya. Ciptakan  penjara yang benar-benar terisolasi  -tidak dekat dengan pemukiman- yang dijaga sipir yang memiliki integritas  --tentu dengan gaji yang baik. Jika kurang puas, Buwas bisa memerintahkan anak buahnya untuk bekerja sama dengan para sipir menjaga penjara. Jika masih  kurang,  Buwas, bahkan mungkin bisa meminta  CCTV di penjara itu terhubung dengan kamar kerjanya di BNN. Dengan demikian ia juga bisa memantaunya setiap detik.

    Saya tidak yakin para tahanan narkoba itu akan merinding melihat buaya. Yang saya khawatirkan mereka justru akan mempermainkan buaya itu. Menangkapi cicak-cicak di dalam kamar mereka, membalurnya dengan racun, dan melemparkannya ke buaya-buaya itu. Kalau sudah begitu, tak mustahil nanti akan ada berita, “Buaya mati gara-gara cicak...” (*)

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.