x

Sekjen DPP Partai Golkar, Idrus Marham (kanan) berbincang dengan Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto (tengah) dalam Rapat Konsultasi Nasional Partai Golkar di Sanur, Denpasar, 4 Januari 2016. ANTARA/Nyoman Budhiana

Iklan

muthiah alhasany

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Setya Novanto Menjadi Firaun

Ulah Setya Novanto, yang mengangkat dirinya sendiri menjadi Ketua Fraksi Golkar di DPR, tak ubahnya seperti Firaun yang mengangkat dirinya sebagai Tuhan

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Setya Novanto telah mengangkat dirinya sendiri untuk menjadi Ketua Fraksi Golkar. Ia membuat surat dengan memposisikan dirinya sebagai Ketua Fraksi Golkar yang menandatangani keputusan untuk mengangkat dirinya beserta beberapa kroni sebagai pimpinan Fraski Golkar di DPR. Ulahnya itu tak ubahnya seperti Firaun yang mengangkat dirinya sebagai Tuhan. Setya Novanto menjadi Firaun kecil di DPR.

Dalam surat keputusan tersebut, Setya Novanto mengangkat Aziz Syamsudin sebagai sekretaris FPG, Robert Joppy Kardinal sebagai bendahara FPG, dan Kahar Muzakir sebagai ketua Banggar FPG. Berarti Setya Novanto telah sewenang-wenang  menyingkirkan Ade Komarudin dan Bambang Soesatyo. Surat ini ditujukan kepada seluruh pimpinan DPR.

"Kami mengharapkan pengukuhan melalui SK DPR RI yang disahkan pimpinan DPR RI," begitu penggalan surat tersebut yang bertanggal 4 Januari 2016. Turut dilampirkan SK DPP Golkar Nomor KEP-68/DPP/Golkar/XII/2015/tanggal 23 Desember 2015.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apa yang dilakukan oleh Setya Novanto? Sebenarnya ini adalah upaya terakhir dari seorang mafia kacangan untuk tetap bercokol di gedung milik rakyat tersebut. Setya Novanto harus mengambil jalan sekasar apa pun agar dirinya tidak tersingkir dari percaturan politik mau pun bisnis mafia. Namun tentu saja, dengan restu Ketua Umum Golkar Abu Rizal Bakrie. Sebagaimana diberitakan, Ical mengatakan bahwa tidak ada dalam masalah internal di fraksi Golkar.  Bagaimana tidak, karena Ical merasa tetap menguasai fraksi Golkar melalui Setya Novanto.

Padahal Golkar dalam kondisi kritis. Akbar Tanjung dengan dukungan Jusuf Kalla telah menyatakan dukungannya terhadap pemerintah. Mereka mendesak diselenggarakannya Munas Golkar untuk menyatukan dua kubu. Hanya kubu Ical yang masih ngotot penuh gengsi, membantah akan adanya Munas tersebut. Gerakan Setya Novanto adalah tindakan nekad dan keblinger.

Apakah ada gunanya memaksakan pimpinan fraksi Golkar di tangan Setya Novanto? Arus politik terlalu kuat untuk dilawan partai berlambang pohon beringin tersebut. Sebagian besar sesepuh Golkar dan kader-kader di akar rumput cenderung mengikuti arus tersebut. Mereka merasakan kerugian yang mendalam jika berseberangan dengan pemerintah. Karena selama ini, Golkar selalu menjadi partner dan bagian dari pemerintahan.

Jadi, lambat atau cepat kader-kader seperti Setya Novanto agar tergusur dengan sendirinya, tenggelam atau menghilang. Agung Laksono CS tak perlu banyak bertindak, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengambil alih dominasi di DPR. Mereka siap bertepuk tangan, sedangkan Setya Novanto gigit jari. Firaun kecil itu akan gagal bertahan.

 

Ikuti tulisan menarik muthiah alhasany lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini