x

Menteri Hukum dan HAM Amir Sjamsoeddin (kiri), Menteri Perdagangan Gita Wirjawan (kedua kiri), Menteri Kelautan dan Perikanan Syarif Tjitjip Sutardjo (ketiga kiri) dan sejumlah menteri lainnya mengucapkan sumpah jabatan yang dipimpin oleh Presiden Su

Iklan

Agus Supriyatna

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Musim 'Berbohong' Para Menteri

Sepekan ini, isu reshuffle kian kencang saja. Semua media, memberitakannya nyaris tanpa henti. Terlebih setelah merapatnya PAN ke pemerintah.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sepekan ini, isu reshuffle kian kencang saja. Semua media, memberitakannya nyaris tanpa henti. Terlebih setelah merapatnya Partai Amanat Nasional ke pemerintah. Makin ramai lagi, setelah mencuat kabar burung, bahwa Partai Golkar kubu Pak Aburizal Bakrie pun akan mengikuti jejak PAN bergabung mendukung pemerintah. 
 
Kian heboh, setelah beredar nama-nama menteri baru yang disebutkan bakal mengisi kabinet Jokowi-Jusuf Kalla. Sejumlah menteri yang sekarang asyik di posnya masing-masing akan terlempar, digantikan sosok baru. Begitulah kalau melihat daftar menteri baru yang beredar lalu dikutip hampir oleh semua media. Terutama media online. 
 
Publik pun menanti, apa benar daftar menteri itu? Atau kah, mengutip pernyataan Mas Pramono Anung, Menteri Sekretaris Kabinet, daftar itu dibuat oleh orang yang kebelet jadi menteri. Tapi yang pasti, daftar nama menteri, juga masuknya PAN dan kemungkinan merapatnya Golkar ke barisan pendukung pemerintah, membuat dag dig dug menteri-menteri yang sekarang menjabat. Terutama menteri yang namanya tiba-tiba menghilang dari daftar menteri yang kini beredar. Misalnya, nama Mas Imam Nahrowi, tak ada lagi di daftar menteri. Dia digantikan oleh Mas Maruarar Sirait. 
 
Mas Profesor Yuddy Crisnandi juga hilang dari pos Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Di daftar menteri yang berasal dari antah berantah, posisi Mas Profesor digantikan oleh Ibu Siti Nurbaya yang saat ini menjadi Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Wah, saya tak bisa bayangkan bagaimana kalau memang benar Mas Profesor diganti oleh Ibu Siti Nurbaya. Pasti, Mas Profesor kecewa berat. Padahal, kementerian yang dipimpinnya punya ranking bagus menurut hasil evaluasi kementeriannya. Sementara, rapor kementerian Bu Situ, menurut rapor versi kementerian Mas Profesor, tak bagus-bagus amat. 
 
"Lho kok saya diganti?" mungkin itu pertanyaan yang akan muncul dari Mas Profesor, jika benar dirinya kena reshuffle seperti kata daftar menteri yang beredar. 
 
Bisa dikatakan, ramainya isu reshuffle menandai tibanya musim cemas para menteri. Mereka yang sekarang menjabat jadi pembantu Presiden, sedang kebat-kebit. Mereka seperti sedang menghitung bunyi tokek, diganti atau bertahan, di reshuffle atau tetap dipercaya. 
 
Namun musim cemas para menteri juga ikut menandai datangnya 'musim berbohong' para pembantu Presiden. Sebab mereka, para menteri setiap ditanya tentang isu reshuffle selalu menjawab tak terganggu dengan isu pergantian menteri. Dan, dengan gagah mereka selalu menegaskan, tetap bekerja seperti biasa, tidak cemas atau galau.  Urusan reshuffle adalah urusan hak prerogratif Presiden. Lebih gagah lagi, mereka kerap mengatakan, jika Presiden menggantinya akan ikhlas menerimanya. 
 
Menurut kawan saya, pernyataan para menteri yang tak terganggu dan tak cemas,  juga bakal ikhlas menerima bila dicopot, adalah pernyataan omong kosong alias 'bohong'. Mereka yang menyatakan itu, sedang berbohong pada dirinya sendiri, juga kepada publik. Sebab, menurut kawan saya, dipastikan isu reshuffle itu sangat mengganggu kerja para menteri. Mereka kini bekerja dengan tak tenang. Mereka selalu dihantui rasa cemas, terlempar dari kabinet. Padahal, posisi itu yang membuat mereka seakan mendapat 'tuah' dan limpahan hormat. 
 
Kata kawan saya lagi, bila memang tak cemas kenapa tiba-tiba banyak yang mencak-mencak ketika kementerian Mas Profesor Yuddy, mempublikaskan daftar kinerja kementerian yang jeblok. Itu artinya, mereka memang tak siap jika menteri yang berasal dari partainya dicopot. Artinya pula, ada rasa tak ikhlas bila terlempar dari kabinet. 
 
"Jadi ini musim cemas, juga musim berbohong para menteri," kata kawan saya. 
 
 
 
 
 
 

 

Ikuti tulisan menarik Agus Supriyatna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terkini