Sebagian Pikiran Kita Berada di Smartphone - Urban - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Sebagian Pikiran Kita Berada di Smartphone

    Ketergantungan kita kepada teknologi mendorong otak kita jadi malas?

    Dibaca : 4.546 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    “Orang-orang ingin melihat ke dalam pikiran manusia, otak manusia, selama ribuan tahun.”

    --Christopher deCharms (Inventor)

     

    Di era telepon rumah, orang tidak disibukkan dengan berbagai jenis urusan yang seakan tanpa henti menghampiri. Setiap jam, sepanjang hari, sepanjang minggu. Sehabis bekerja di kantor atau pabrik, karyawan bisa pulang dan beristirahat, atau ngobrol dengan keluarga. Bila di rumah ada pesawat telepon, karyawan masih bisa dikontak atasan saat diperlukan. Tapi, bila tak ada pesawat telepon, karyawan terbebas dari tugas dadakan. Masih ada hari esok.

    Itu dulu. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah kenyamanan hidup keluarga. Banyak perusahaan yang mengharuskan karyawan mengatur telepon selulernya selalu dalam posisi ‘menyala’ (tak ada alasan habis baterai atau tengah diisi daya listrik). Karyawan boleh pulang, tapi mesti ‘stand-by’ kalau sewaktu-waktu ditelpon atasan—sekalipun sudah tertidur. “Tadi saya lupa memberi tahu kamu, besok pagi jam 8 laporan sudah harus saya terima ya,” telepon atasan kepada karyawan. Walhasil, rencana makan malam di luar bersama keluarga terpaksa dibatalkan. Atau, tidur karena letih juga dibatalkan.

    Telepon seluler membuat banyak orang mengalami ketergantungan. Ketika smartphone tertinggal di rumah saat bepergian, banyak orang kelabakan. Mengapa? Karena banyak hal dan aktivitas kita bergantung kepada smartphone: kalau ada panggilan telepon bagaimana, kalau ada sms yang harus segera dijawab bagaimana, kalau mau lihat gosip terbaru bagaimana, kalau mau pasang status bagaimana, dan seterusnya.

    Nomor telepon si X ada di hape, catatan kuliahku ada di hape (karena setiap kali kuliah, presentasi dipotret dengan hape karena dosen tak mau file-nya dikopi khawatir tertular virus). Ketika kita tidak dapat mengakses smartphone untuk melakukan berbagai aktivitas itu, kita merasa kehilangan separo nyawa.

    Banyak hal, pada akhirnya, memang kita serahkan kepada peranti digital, bukan hanya smartphone, tapi juga laptop, flash disk, external hardisk, googlebox, hingga e-mail. Sebagian memori kita tersimpan di sana menjadi sejenis ‘perluasan pikiran’ kita—dulu kita mencatat nomor telepon di notes, angka-angka penjualan di buku jurnal, menulis ulang kuliah dosen di buku hingga tangan pegal. Kini, teknologi digital mengambil ahli banyak fungsi dan peran itu.

    Secara fisik, semua peranti itu memang berada di luar tubuh kita (setidaknya hingga saat ini—entah nanti bila kita bisa mengoneksikan otak dengan laptop dan smartphone), tapi peranti itu dalam kondisi tertentu tersambung dengan proses-proses kognitif kita. Analisis terhadap posisi keuangan bulan ini dilakukan oleh aplikasi di laptop, kita tinggal membaca hasil akhirnya: posisi utang-piutang, rugi-untung. Smartphone membangunkan kita jam 5 pagi lantaran alarm biologis kita mulai tidak dapat diandalkan. Smartphone berperan aktif dalam memengaruhi proses kognitif kita.

    Ketika kita mengerjakan laporan bisnis, data penjualan produk tersimpan di hardisk laptop atau dalam server perusahaan. Kita memerlukan hardisk dan server untuk menyimpan data, juga untuk menyimpan aplikasi yang kita pakai untuk memroses data atau menulis laporan. Teknologi digital sudah menjadi bagian dari pikiran kita dan menjalankan sebagian dari pekerjaan yang dulu dilakukan oleh otak kita: mengingat (menyimpan data), mengeluarkan ingatan, melakukan analisis sehingga diperoleh hasil tertentu yang berguna bagi kita untuk mengambil kesimpulan dan keputusan.

    Banyak aktivitas yang dulu dikerjakan oleh otak kita kini beralih dikerjakan oleh peranti digital, termasuk yang online—menerjemahkan tulisan, umpamanya. Peranti-peranti itu mampu memroses banyak hal dengan cepat dengan kemampuan menyimpan memori yang semakin besar. Terlebih lagi ketika ingatan kolektif semakin bertambah volumenya dengan kecepatan yang terus meningkat berkat koneksi internet dan teknologi awan.

    Lantas bagaimana nasib otak kita, apakah menjadi semakin malas untuk bekerja? (sumber ilustrasi: benkokolas.com) **

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: web seo

    Kamis, 11 Agustus 2022 17:33 WIB

    Tip Memanaskan Motor Matic; Jangan Terlalu Lama

    Dibaca : 303 kali




    Oleh: Dwi Kurniadi

    Sabtu, 13 Agustus 2022 09:06 WIB

    Sajadah Basah

    Dibaca : 2.477 kali

    Sebuah Puisi karya Dwi Kurniadi