x

(ki-ka) Anggota DPR fraksi Partai Golkar Tantowi Yahya bersama musisi Ahmad Dhani, seniman Ratna Sarumpaet dan anggota DPR fraksi PAN Anang Hermansyah, saat mengikuti diskusi Perlukah Artis dan Seniman Berpolitik, di Jakarta, 16 Maret 2016. Diskusi t

Iklan

Agus Supriyatna

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Mas Dhani Masih Sebatas Bernyanyi

Mas Ahmad Dhani, mau nyagub. Begitulah berita yang ramai akhir-akhir ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mas Ahmad Dhani, mau nyagub. Begitulah berita yang ramai akhir-akhir ini. Bagi yang suka Grup Dewa, pasti hapal siapa itu Mas Ahmad Dhani. Ya, dia pentolan grup yang sempat jadi 'raja' di blantika musik di Indonesia. 
 
Lewat grup itu, nama Mas Dhani mencuat. Mas Dhani pun populer. Hingga kemudian dia ditasbihkan jadi artis papan atas. Televisi, dan program tayangan infotainment, adalah dua pihak yang punya andil besar mengangkat nama Mas Dhani. Bahkan mempertahankan kepopulerannya hingga sekarang.
 
Segala tindak tanduk Mas Dhani jadi berita. Dari soal rumah, hingga urusan pribadinya, jadi berita. Di jejalkan ke ruang publik. Hingga nama Mas Dhani pun belum juga lekang dari memori pemirsa. Sekarang Mas Dhani, lelaki kelahiran Surabaya itu berniat maju jadi calon Gubernur DKI di Jakarta. 
 
Penjajakan pun sudah dilakukan kepada partai-partai. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), adalah partai yang sudah membuka pintu bagi Mas Dhani. Sisanya, baru sebatas klaim Mas Dhani, bahwa partai lain pun kepincut meminangnya. 
 
Mas Dhani juga sudah bersuara. Bahkan, telah terang-terangan pun melakukan 'perang urat syaraf' dengan petahana, Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta. Bukan perkara mudah memang maju sebagai calon Gubernur. Ajang politik pemilihan gubernur, terlebih di Jakarta, tentu bukan ajang kontes Indonesian Idol atau X Factor Indonesia. Apalagi yang bakal jadi lawan, adalah petahana, Basuki atau Ahok yang sedang jadi 'media darling'. 
 
Melawan Ahok, tentunya bukan seperti melawan Mas Farhat Abbas. Ahok sedang menjabat. Punya 'tuah' sebagai petahana. Ahok juga pintar memainkan isu, hingga mantan Bupati Belitung Timur itu selalu jadi pusat sorotan media. Itu baru Ahok. Belum lagi menghitung bakal calon lain seperti Pak Yusril Ihza Mahendra, yang juga tak boleh diremehkan. 
 
Pak Yusril, pengacara senior itu juga tak bisa dianggap remeh. Pak Yusril punya segudang pengalaman di pemerintahan, mulai dari tukang tulis pidato mendiang Presiden Soeharto,. menteri hingga ketua umum partai. Artinya Pak Yusril punya bekal, selain bekal teori sebagai pakar hukum tata negara. 
 
Lalu Mas Dhani? Kawan saya bilang, Mas Dhani juga jangan dianggap remeh. Dia musisi terkenal. Pintar buat lagu. Cerdas dalam memenej grup musik, dan pernah jadi juri ajang pencarian bakat nyanyi. Sering membuat hal yang kontroversi. Pendek kata, Mas Dhani adalah orang populer. Jadi, jangan anggap remeh itu...
 
Ya, dalam politik, popularitas adalah salah satu modal terpenting selain elektabilitas. Karena lewat popularitas, elektabilitas bisa dibangun. Hukumnya seperti itu. Setidaknya merujuk pada hasil survei, juga hasil pemilihan kepala daerah baru-baru ini. Lihat saja. Dek Zumi Zola, yang terpilih sebagai Gubernur Jambi. Atau Mas Pasha Ungu yang sukses terpilih jadi Wali Kota Palu. 
 
Dua yang disebut tadi, adalah contoh, bagaimana popularitas bisa berubah jadi elektabilitas. Mas Dhani pastinya sadar akan hal itu. Ia sekarang sudah punya bekal paling penting dalam politik : popularitas. Tinggal membangun elektabilitas. 
 
Karena itu, Mas Dhani mulai tebar pesona bahkan 'serangan'. Petahana jadi sasaran, karena pasti Mas Dhani menganggap Ahok adalah lawan terberatnya. Maka, keluarlah preketek. Saya membaca itu, hanyalah  cara Mas Dhani membangun rasa percaya diri berhadapan dengan Ahok yang terlanjur jadi sosok yang kuat. Tak ada cara lain, selain mendegradasikan sosok Ahok. Mas Dhani merasa perlu meremehkan Ahok. Setidaknya itu yang saya baca dari langkah Mas Dhani menuju kursi Gubernur. 
 
Perang urat syaraf lain yang sudah diumbar Mas Dhani berhadapan dengan Ahok, adalah lontarannya tentang wacana menghapus Trans Jakarta. Ini tentu wacana yang kontroversial. Bisa menyulut pro kontra. Mungkin Mas Dhani berpikir, karena Ahok doyan mengeluarkan statemen kontroversial, maka mesti dilawan dengan cara yang sama. Kontroversi di lawan kontroversi. 
 
" Kalau ngatasin kemacetan ya bangun flyover. Dan yang pasti, kalau saya jadi gubernur nggak akan ada busway," begitu bunyi pernyataan Mas Dhani, saat ditanya wartawan, apa solusinya mengatasi macet Jakarta, andai terpilih jadi gubernur nanti. 
 
Sayang, Mas Dhani masih sebatas bernyanyi. Wacana penghapusan Trans Jakarta, berhenti sebatas itu. Tak ada kemudian penjelasan, kenapa ia merasa perlu menghapus moda transportasi andalan warga ibukota tersebut. Tidak ada solusi tandingan. Yang ada baru nyanyian. Hanya akan membangun flyover, begitu nyanyian Mas Dhani tentang wacana penghapusan Trans Jakarta. 
 
Pun soal preketek, itu pun baru sebatas nyanyian. Bagi saya bunyi preketek,  sama seperti bunyi  judul lagu yang dinyanyikan Mas Dhani, Neng Neng Nong Neng . Begitu juga dengan konsep 'kasidah cinta' yang menurut Mas Dhani, akan jadi model dialog antara pemimpin Jakarta dengan warganya. Ini pun masih berupa nyanyian. Tak jelas, polanya nanti seperti apa. Dan, yang saya tahu, 'kasidah cinta' adalah salah satu judul lagu Dhani. 
 
Yang pasti, Mas Dhani sudah mulai mengkonkritkan 'kasidah cintanya' yang ternyata, tak lain seperti pertemuan biasa. Bahkan Mas Dhani mengaku, konsep 'kasidah cinta' mencontek 'kenduri cintanya' Emha Ainun Nadjib. Konsep yang agak jelas mungkin soal zero growth kepemilikan mobil pribadi. Kata dia, orang yang sudah beli mobil pribadi, tak akan diperbolehkan nambah mobil. Sehingga kepemilikan mobil pribadi di Jakarta dapat dibatasi. Menurut Mas Dhani, ini solusi kemacetan Jakarta. 
 
Mungkin nanti Mas Dhani akan mengeluarkan amunisi lainnya, sehingga nyanyian-nyanyian itu bakal lebih lengkap bisa dibaca nanti. Kalau pun tak lengkap, saya pikir itu tak akan mubazir. Sebagai musisi pintar, nyanyian politik yang sudah diumbar Mas Dhani bisa jadi lagu barunya. Kasidah cinta untuk warga Jakarta. Atau preketek cinta. 
 
Berbeda dengan Pak Yusril yang sudah berlari dengan konsep yang relatif lebih jelas, andai pengacara yang suka pakai kaos Mickey Mouse itu terpilih jadi 'meneer' ibukota. Pak Yusril, visi misinya relatif lebih bisa dibaca. Dan, ia sudah bisa menawarkan hal yang berbeda dengan petahana. Soal posisi gubernur misalnya, Pak Yusril menawarkan pola pengelolaan ibukota sama seperti misalnya di Filipina atau Kuala Lumpur. 
 
Gubernur Ibukota Jakarta, dalam pandangan Pak Yusril harus jadi bagian dari pemerintah pusat. Levelnya pun mesti sekuat menteri, bukan lagi seperti dirjen. Sehingga, daya tawar dengan daerah lain pun lebih kuat. Pun, parlemen Jakarta, menurut Pak Yusril baiknya digabungkan dengan Senayan, dengan dibentuk komisi khusus yang mengurus ibukota. Bagi saya ini wacana yang relatif jadi pembeda Pak Yusril dengan calon lainnya, termasuk dengan Ahok.
 
Bagaimana dengan Mas Dhani? Ah, bagi saya dia masih sebatas bernyanyi. Belum berbunyi apalagi berlari. 
 

Ikuti tulisan menarik Agus Supriyatna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan