x

Iklan

Luthfi Ersa Fadillah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Klinik Opini: Setelah Ujian Nasional

Tulisan ini merefleksikan dampak aktivitas selepas Ujian Nasional yaitu bergesernya makna belajar dan murid yang semakin tidak menjadi dirinya sendiri.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hanya satu kata yang akan ada di benak seorang murid selepas Ujian Nasional (berikutnya disingkat UN), yakni: lulus. Lulus menjadi kata prioritas yang lebih penting ketimbang rumus-rumus, teori sosial hingga pengalaman historis lain yang sudah dipelajarinya selama 3 tahun belakangan. Di samping itu, kata “lulus” juga menjadi simbol estafet untuk mengejar apa yang menjadi impiannya sekaligus tuntutan masyarakat.

Setelah ini, murid akan berpacu dengan waktu dan saling mengejar kesempatan dalam skala nasional. Pilihannya hanya dua kata: kuliah atau kerja. Kendati keduanya menuntut mereka kembali bergelut dengan beragam ujian.

Ujian saringan masuk kuliah sudah menunggu di depan mata bagi mereka yang belum mendapatkannya sebelum UN dimulai. Selepas UN hingga bulan Agustus akan menjadi waktu tersibuk mereka untuk saling berebut bangku kuliah. Murid akan bertemu lagi dengan satu arena pertarungan dengan model yang sangat klasik: memilih abjad pilihan ganda pada kertas ujian.

Jadi, keberuntungan mereka kali ini ditentukan oleh model ujian, keinginan dan tekanan yang sama dengan sebelumnya. Sekali lagi, untuk mendapat kata “lulus”. Skema kelulusan yang mudah ditebak, yaitu lulus UN, lulus kuliah, lulus interview kerja, bahkan lulus lamaran calon mertua!

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Problem pertama yang muncul adalah ketika makna belajar berubah dari yang esensial kepada yang pragmatis. Jadwal padat yang menanti murid itu seolah menegaskan bahwa baik sekolah maupun universitas hanyalah menjadi pabrik cetakan. Perumpamaan ini digambarkan dengan jelas dalam lagu Pink Floyd berjudul Another Brick in The Wall.

Selama ini, tanpa disadari, murid-murid dalam sistem pendidikan kita hanya berfokus melakukan sesuatu hanya untuk mencapai suatu batas formalitas. Entah itu sekedar menghindari remedial, hanya untuk lulus UN hingga lulus ujian saringan masuk universitas. Terlihat sungguh-sungguh memang, tapi tidak ada maknanya.

Murid dalam hal ini bertindak seperti yang Erich Fromm katakan, seperti automaton. Artinya, murid adalah sebuah robot dengan sistem prosedural mekanistik hanya bertindak tanpa rasa. Persis seperti sebuah mesin.

Angka-angka kelulusan, tercapai memang dan tentu menyenangkan pihak elit sekolah dan birokrat. Hanya saja, hakikat belajar sebagai proses pencarian ilmu pengetahuan dalam diri murid sebagai seorang pembelajar tidaklah tercapai. 

Selain itu, hal yang perlu diperhatikan adalah munculnya problem sosiologis bagi perkembangan kedirian seorang murid. Emile Durkheim, seorang sosiolog, mencetuskan sebuah konsep fakta sosial untuk menjelaskan tentang batas-batas yang mengatur tindakan seorang individu di masyarakat dan bersifat represif. Secara sederhana, ada anggapan di masyarakat kita bahwa setelah UN maka harus kuliah, kuliah pun harus tepat waktu, lalu setelahnya harus secepatnya bekerja. Tekanan ini tidak hanya meluas dari masyarakat tetapi juga dari lingkungan terdekatnya, salah satunya adalah orang tua.

Di dalam kelas pun demikaian. Bila dalam satu kelas, seorang guru mengajar kurang lebih 30 hingga 40 orang, itu berarti terdapat 30 hingga 40 bakat terpendam yang tidak terlihat oleh pihak sekolah maupun gurunya sendiri. Tak jarang, banyak murid juga tidak berani atau bahkan tidak menyadari bahwa di dalam dirinya terdapat sebuah kemampuan yang khas. Ataupun, seandainya mereka menyadarinya, mereka merasa tidak perlu mengutarakannya dan lebih memilih untuk diam mengikuti arus yang diinginkan masyarakat dan orang tuanya.

Negara memang sudah sangat baik dengan menciptakan sebuah sistem dan fasilitas yang menjembatani antara instansi pendidikan menengah atas dengan universitas secara formil. Hanya, kritikan yang muncul adalah sistem yang mereka ciptakan ternyata justru membuat murid tidak bisa menjadi dirinya sendiri.

Saya sedang membayangkan berapa banyak murid yang ingin fokus melukis, fokus mengasah musikalitas dengan bermain alat musik, fokus menciptakan produk teknologi baru selepas lulus UN tanpa harus terikat dengan tuntutan-tuntutan yang tidak dikehendaki dirinya. Sayang, harapan pribadi mereka kalah dengan gaung euforia kelulusan UN itu sendiri dan gemuruh pertarungan perebutan bangku kuliah.

Padahal, hal sederhana yang paling dibutuhkan oleh seorang murid selepas UN adalah aktualisasi untuk menjadi diri mereka sendiri. Menjadi manusia.

Ikuti tulisan menarik Luthfi Ersa Fadillah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler