Memotret Fenomena Transportasi Online

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Transportasi online menuai pro dan kontra, passalnya keberadaannya seketika dapat mematikan pendapatan transportasi konvensional yang tak berbasis aplikasi

Memotret Fenomena Transportasi Online

Oleh. M. Iqbal Birsyada

 

            Maju pesatnya dunia digital, dunia virtual yan mampu memampatkan jarak, ruang dan waktu hanya dalam genggaman tangan manusai lewat gadget, hp, internet serta alat-alat simulasi lainya yang dengan itu manusia dalam hitungan detik dapat mendapatkan kepuasan pelayanan yang ekstra. Bayangkan, dahulu orang ketika membutuhkan alat transportasi panggilan “ojek” maka dia harus mendatangi langsung tempat di mana si-tukang ojek tersebut mangkal. Jika lokasi pangkalan jauh, maka ia harus berjalan kaki terlebih dahulu hingga berkeringat-keringat. Mereka pengguna jasa transportasi konvensional ini sangat dilematis. Sebab, jika ingin memakai jasa transportasi bus umum ekonomi pasti akan memakan waktu yang sangat lama untuk mencapai tujuan. Sebab mereka sang sopir juga mencari penumpang-penumpang lainya.

            Lebih berat lagi jika memilih angkutan taksi konvensional yang harus melephon dahulu kemudian menunggu bermenit-menit sungguh sangat membosankan, disamping biayanya juga mahal. Inilah realitas sosial yang tampak dipermukaan yang dialami masyarakat saat ini ditengah hiruk pikuk kesibukan kerja, waktu yang pendek dan singkat. Singkatnya, tak ada kata lain pemilihan pada transportasi umum yang cepat, mudah dan efisien menjadi idola masyarakat saat ini. Inilah realitas yang harus dihadapi kita semua dalam masa post-industialisasi saat ini di mana terjadi perubahan pola dari produksi barang menjadi produksi jasa. Jasa-jasa jaringan media sosial, sistem jaringan sosial menjanjikan mampu mengatasi kesulitan-ksesulitan masyarakat tersebut seakan menjadi obat mujarab untuk mengatasi segala ketakutan rasional masyarakat terhadap segala bentuk kesusahan dan kesulitan-kesulitan hidup di jalan raya. Definisi hidup pada masyarakat saat ini lebih pada mengarah kesimpelan, mudah, cepat dan instan. Makna hidup pada realitas masyarakat sekarang ini bersifat sangat prifat dan individualistis.

            Lebih berat lagi tatkala dalam menghadapi situasi kegoncangan rasional yang tampak akut pada masyarakat seperti saat ini tatkala keinginan-keinginanya mereka tidak terpenuhi, hasrat individualnya terhambat tidak diimbangi dengan kebijakan pemerintah yang tidak tegas membela masyararakat luas lebih-lebih nampak canggung ketika akan menegakkan aturan. Paling tidak ada tiga hal yang harus kita fikirkan menanggapi arus digitalisasi yang telah mengglobal menciptakan aneka budaya baru bertransportasi yang cepat, efisien lagi murah lewat jejaraning online tersebut. Pertama, pemerintah wajib menciptakan ruang-ruang publik yang layak, nyaman, cepat dan efisien bagi masyarakat. Dibangunya jalur busway di Jakarta faktanya sampai detik ini tak sanggup hadapi kemacetan di Jakarta, artinya transportasi busway yang digadang-gadang akan menjadi transportasi massal rakyat Jakarta belum menunjukkan kemajuan yang signifikan. Edukasi pemerintah pada masyarakat untuk mempergunakan transportasi masal gagal.

            Kedua, tak adanya pembatasan kendaraan bermotor yang masuk kedalam negeri mebuat semakin ruwetnya kondisi jalanan kota kita. Singkatnya, pemerintah sampai saat ini rupanya cenderung mendukung kekuatan kapitalis globalyang seakan siap menciptakan ruang-ruang pemasaran untuk produk-produk kendaraan bermotor mereka. Tindakan tersebut makin irasional manakala fakta menunjukkan kemacetan berdampak signifikan kerugian bertrilun-trilunan pada kegiatan ekonomi yang sedang berputar dalam masyarakat, namun masuknya berjuta-juta kendaraan bermotor baru ke tanah air seakan tak terbendungkan lagi. Ketidak rasionalan pemerintah tersebut menjadikan ketakrasionalan pula pada masyarakat masyarakat dalam mengkonsumsi produk-produk kendaraan bermotor dari luar tersebut, bahkan kepemilikan kendaraan kini menjadi salah satu penanda status dan kelas sosial mereka. Singkatnya, ketunakuasaan pemerintah menghadapi kekuatan kapitalis global sudah dalam posisi akut. Ketiga, dunia digital tak terbendungkan lagi. Oleh sebab itu perlu komunikasi yang efektif antara pemerintah dan stakeholder bersama-sama mengedukasi untuk mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku. Baik transportasi konvensional maupun online jika bersama-sama mentaati peraturan dapat terbina iklim kesadaran sosial seluruh warga masyarakat yang kondusif.   

Bagikan Artikel Ini
img-content
Muhammad Iqbal Birsyada

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Belajar "Pepali Ki Ageng Selo"

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua