x

Iklan

indri permatasari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Riuh Rendah Sahur yang Terlampau Semarak

Membangunkan orang sahur itu perbuatan mulia, namun alangkah baiknya jika dilaukan dengan cara-cara yang simpatik dan penuh kasih sayang.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Sebenarnya ini masalah klasik, masalah klise. istilahnya dari dulu sampai sekarang yo sudah ada. Tapi mungkin levelnya saja yang berubah dengan variasi yang makin beragam. eh sebentar, saya tidak hendak bicara tentang kue lebaran lho, masih lama itu nanti malah keburu habis dibuat cemilan sebelum sahur. saya ini lagi pingin nulis tentang panggilan sahur yang kepalang meriah.

Lho terus hubungannya apa coba sama paragraph pertama tadi? hmm..ya ada lah pokoknya kalau dihubung-hubungkan, pasti itu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Alkisah, tadi pagi saat iseng ngecek timeline fb  -ya timeline medsos memang lebih menggiurkan  bagi saya daripada berbuat kebaikan lain dibulan suci ini- saya nemu sebuah status teman yang sedikit gemes gregetan dengan seruan sahur yang sangat seru di kompleks perumahannya.

Jadi ceritanya rombongan yang membangunkan para umat untuk melaksanakan  sahur itu mempergunakan drum band sebagai piranti penambah kehebohan, selain kentongan yang sudah termasyhur itu tentunya. Drum Band sungguhan lho ini heuheueheu.

Iya sih, saya bisa mbayangin bagaimana serunya, ketika di sebuah fajar yang hening dan syahdu, tiba-tiba dimeriahkan oleh rombongan drum band dan seruan-seruan penggugah semangat dalam tempo allegro atau malah prestissimo. Nyawa yang belum terkumpul sempurna pastilah akan bereaksi terhadap bunyi yang mengagetkan begitu. Njomblak dan deg-deg an adalah reaksi wajar dari peristiwa itu.

Masalah kemudian bertambah ketika bukan hanya orang-orang dewasa dan anak-anak menuju akhil baliq -yang sedang berupaya  belajar berpuasa- saja yang bangun. Anak balita dan bayi yang notabene lebih sensitive itu akhirnya juga ikutan nangis kejer karena kelewat kaget. Walhasil orang tua mereka mesti nambah kerjaan untuk bisa menenangkan mereka kembali sebelum akhirnya mempersiapkan masakan untuk disantap di waktu sahur.

Akan lebih apes kalau ndilalah yang bangun dan nangis kejer adalah bayinya pasangan non muslim yang jelas tidak diwajibkan untuk sahur. Bayinya sudah terlanjur nangis, orang tuanya sudah terlanjur kancilen dan sulit tidur, ya sudahlah akhirnya semua berlanjut menjadi emosi.

Nanti dulu sebentar jangan keburu mecucu. Saya tidak mau ngrembug dan melebarkan ini jadi masalah toleran-intoleran atau lebih serius ke masalah polemik menghormati yang tidak berpuasa. Saya hanya ingin berbagi cerita tentang sesuatu hal yang sudah melebihi batas kelaziman dari etika-etika normal. Sudah itu tok, ndak lebih.

Sekarang coba kita beri jeda sedikit pada ruang pikir dan hati kita. Bagaimana jika hal tersebut terjadi pada kita dan terus menerus pula. Kalau njenengan masih punya pendengaran yang normal, ya tentu wajar saja kalau jadi terganggu. Terganggu sehari dua hari mungkin ndak pa pa tapi ya kalau tiap hari , semuanaya jadi ndak lucu lagi.

Ternyata setelah melihat komentar yang bersahutan, hal seperti itu tidak hanya terjadi di satu tempat saja. Masih banyak kehebohan dan atraksi yang dilakukan untuk membangunkan orang bersahur. Ada yang memukul kentongan dan tiang listrik dengan frekuensi ultrasonic, memutar lagu kasidahan dengan volume sak pol-e sejak dini hari, meledakkan petasan , bahkan ada juga yang menggunakan sepeda motor dengan knalpot bodong yang suara cemprengnya level maksimal warbiyasah. Dijamin bisa membangunkan manusia satu kampung.

Saya menghargai kreativitas dan niatan mulia dari para rombongan. Pasti ada pahala menanti mereka karena telah melakukan tindakan baik yaitu mengajak orang bangun untuk sahur syukur-syukur bonus sholat tahajud. Tapi bagaimanapun seyogyanya, yang namanya mengajak berbuat baik itu kan ya harus dengan cara yang baik pula to.

Puasa ramadhan itu adalah sebuah rutinitas yang berulang. Harusnya di tiap-tiap lingkungan mbok ya mulai diatur lagi. Kalau toh memang sudah ada grup yang bertugas membangunkan sahur, cobalah dilakukan dengan penuh empati. Tidak perlu jor-joran nyaringnya, wong kalau sudah niat untuk berpuasa di malam harinya, respon tubuh ini akan bekerja secara alamiah dan bangun dengan sendirinya di waktu sahur.

Marilah kita jaga bulan yang suci ini dengan saling menghargai. Ndak perlu ndakik-ndakik lah harus gimana. Menjaga norma, etika dan kelaziman yang sudah berlaku dari dulu sepertinya adalah hal paling mudah untuk dilakukan.

Atau mungkin kita memang penyuka keberisikan. Manusia-manusia yang takut dan phobia dengan kesunyian. Hmm kalau itu yang terjadi ya sudahlah, apa mau dikata.

---

gambar www.infolengkap.net

Ikuti tulisan menarik indri permatasari lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu