x

Iklan

Fatima Az Zahra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Mudik Ditinjau oleh Praktisi Keuangan

Mudik Lebaran ternyata juga memberikan berkah yang sangat signifikan bagi perekonomian, khususnya dalam distribusi pendapatan masyarakat.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tradisi mudik Lebaran di Indonesia yang berlangsung setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri,  tidak hanya  sebagai sebuah peristiwa sosial budaya dan religius, tetapi juga menjadi fenomena  yang memberi manfaat ekonomi yang sangat siginifikan. Momentum ini telah berimbas pada berputarnya sektor riil dari perkotaan ke pedesaan, yakni menjamurnya berbagai usaha kecil dan menengah seperti usaha  kue, oleh-oleh khas daerah, bisnis kuliner lokal, usaha sandang, persewaan mobil, dan berbagai jasa lainnya.

Fenomena mudik Lebaran merupakan ritual tahunan yang berlangsung sejak dulu, menggambarkan bangsa Indonesia yang memiliki  tingkat keterikatan, kekeluargaan, kekerabatan, kedekatan primordial, aktualisasi, dan eksistensi sosialnya yang sangat tinggi.

Mudik Lebaran ternyata juga memberikan berkah yang sangat signifikan bagi perekonomian, khususnya dalam distribusi pendapatan masyarakat. Setidaknya pada setiap tahun, puluhan triliun rupiah dana mengalir ke berbagai daerah. Ritual mudik Lebaran ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara, seperti umat muslim di Timur Tengah, India, Turki, Malaysia, bahkan di China, juga mengalami hal serupa.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Menteri Perhubungan, Ignatius Jonan memprediksikan pada tahun 2016 yang memakai transportasi umum untuk mudik sejumlah 17 juta orang, sedangkan yang mengunkan transportasi pribadi sekitar 8 juta orang.

Mudik kadang kala juga dipandang sebagai kekuatan kedekatan horizontal tidak hanya terhadap sesama manusia, tetapi juga lingkungannya. Praktisi keuangan Eddy Soeparno yang sekarang menjabat sebagai Sekertaris Jenderal (Sekjen) PAN menjelaskan bahwa mudik berdampak positif bagi daerah, terutama daerah yang masyarakatnya banyak bekerja di daerah lain. Perpindahan uang saat mudik lebaran diperkirakan oleh Eddy Soeparno sekitar 50 triliun. Perpindahan uang yang seperti ini harus ditangkap oleh pemerintah daerah.

Daerah-daerah yang menjadi destinasi mudik juga harus mempersiapkan bagaimana memfasilitasi warga yang mudik untuk mengeluarkan uangnya supaya mengerakan roda perekonomian di daerah tersebut. Malah kalau bisa pemerintah daerah tersebut harus mempersiapkan paket-paket investasi yang bisa ditawarkan oleh para pemudik.

“Paket-paket investasi itu bisa seperti dibidang property, pertanian, perkebunan dan transportasi. Dengan adanya paket investasi daerah maka keuntungan yang didapatkan tidak hanya pada saat momen lebaran saja tapi bisa berdampak positif untuk pembangunan daerah dan yang jelas lebih terasa banyak manfaatnya bagi masyarakat,” kata praktisi keuangan Edy Soeparno.

Praktisi keuangan, Eddy Soeparno juga menghimbau kepada masyarakat untuk tidak hanya menggunakan dana pada saat mudik untuk konsumsi saja, namun bisa digunakan ke sektor-sektor yang lebih produktif.

Jika para pemudik ini mencintai daerahnya maka sewaktu mudik digunakan untuk melakukan investasi-investasi untuk menunjang kemajuan daerahnya. Praktisi keuangan Eddy Soeparno berharap momen lebaran tahun ini dijadikan sarana bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengembangkan daerah terutama pada sektor-sektor pengerak perekonomian daerah menjadi fokus utama dalam melakukan investasi.

Terakhir, praktisi keuangan Eddy Soeparno menyarankan kepada masyarakat untuk pintar-pintar membagi dana pada saat mudik jangan sampai dana yang dikeluarkan kurang memberikan manfaat kepada masyarakat dan daerah.

Ikuti tulisan menarik Fatima Az Zahra lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu