x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Tembok Pembatas Bernama 'Saya Tidak Kreatif'

Kreativitas diawali oleh keyakinan terhadap diri sendiri bahwa ‘saya kreatif’, bukan keraguan bahwa ‘saya tidak kreatif’.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kita barangkali kerap memuji orang lain, “Wah, kok bisa sih, kamu kreatif ya,” atau “Eh, tahu gak, dia itu kreatif banget lho orangnya.” Namun, ketika berpaling kepada diri sendiri, kita mungkin merasa masygul, “Saya orang kreatif gak ya?” Kita lantas merasa minder, dan karena itu cenderung tidak melakukan sesuatu yang kreatif karena pikiran ‘saya bukan orang kreatif’ menghuni benak kita dengan nyaman seolah-olah kita menyediakan tempat hunian untuk pikiran itu.

Jika kamu tidak memandang dirimu kreatif, apakah itu berarti kamu memang benar-benar tidak kreatif? Pertanyaan ini mengusik betul, sebab pikiran itu dapat terus menghantui dan menjadikan orang yang berpikir negatif tentang dirinya tidak akan melihat potensi-potensi hebat yang ia miliki. Banyak sekali orang yang berpikir seperti itu.

Pikiran positif, sebaliknya, memberi dorongan hebat kepada seseorang untuk bertindak dan melahirkan karya kreatif. Clayton M. Christensen, penulis buku mashur The Innovator’s DNA, menyebutkan bahwa di antara dari 6.000 profesional yang mengikuti tes Innovator’s DNA, mereka yang setuju dengan pernyataan survei “saya kreatif” ternyata melahirkan solusi-solusi kreatif secara konsisten. Mereka menciptakan bisnis, produk, jasa, maupun proses-proses baru yang belum pernah dikerjakan orang lain. Mereka memandang diri mereka orang kreatif dan bertindak dengan cara itu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kuncinya adalah mengubah mind-set. Apabila kita mampu mengubah mind-set, kita berpeluang untuk benar-benar menjadi lebih kreatif. Siapapun bisa inovatif, kata Christensen, jika mereka memilih jadi pribadi inovatif. Para inovator melahirkan karya-karya inovatif berdasarkan pilihan, bukan sekedar kesempatan. Sebagian orang punya kesempatan, namun tidak memilih untuk jadi kreatif. Sebagian lainnya tidak mempunyai kesempatan, tapi mereka justru memilih menciptakan kesempatan agar bisa menyalurkan kreativitas mereka.

Para inovator itu tak segan mengajukan pertanyaan-pertanyaan provokatif terhadap kemapanan, mempertanyakan asumsi-asumsi yang berlaku selama ini, menjalin koneksi dengan orang-orang yang memandang dunia dengan cara yang berlawanan 180 derajat, membuat koneksi-koneksi di antara berbagai gagasan, pengalaman, maupun peristiwa yang sepintas terlihat tidak berkaitan. Mereka berani melakukan eksperimen tanpa rasa cemas. Dengan cara ini, mereka berusaha merobohkan tembok pembatas ‘saya tidak kreatif’.

Michael Michalko, penulis buku ThinkerToys, mengatakan bahwa kreatif atau tidak kreatif itu adalah perkara keyakinan. Para pencipta atau penemu adalah orang-orang yang kreatif karena mereka yakin bahwa mereka kreatif. Mereka penuh kegembiraan dan selalu berpikir positif. Mereka melihat “apa yang dapat” dan bukan “apa yang tidak dapat”. Mereka menelisik “apa yang mungkin” dan bukan “apa yang tidak mungkin”. Kata Michalko, mereka lebih suka memasukkan semua kemungkinan, yang nyata maupun yang imajinatif. “Tidak mungkin menjadi kreatif apabila Anda bersikap negatif,” tutur Michalko.

Michalko menunjukkan jalan agar kita mampu mengubah potensi kreatif masing-masing menjadi karya yang aktual. Dengan ‘bermain’, Michalko mendorong kita agar sanggup merobohkan tembok pembatas ‘saya tidak kreatif’. Salah satu contoh permainannya ialah persamaan dalam angka Romawi yang dibentuk dari sepuluh batang korek api. Persamaannya seperti ini: XI + I = X. Anda pasti tahu bahwa persamaan ini salah. Bisakah Anda membetulkannya dengan satu langkah saja tanpa menambah atau membuang korek api tersebut?

Kembali ke Christensen; ia menawarkan tes diagnosis untuk mengetahui apakah kita terkungkung oleh tembok pembatas ‘saya tidak kreatif’. Jawabannya tinggal pilih: ya atau tidak.

Pertanyaan 1:  saya memecahkan secara kreatif persoalan yang menantang dengan memakai gagasan yang berbeda.

Pertanyaan 2: saya kerap mengajukan pertanyaan yang menantang asumsi-asumsi dasar orang lain.

Pertanyaan 3: saya memperoleh gagasan inovatif dengan mengobservasi langsung bagaimana orang berinteraksi dengan produk dan jasa.

Pertanyaan 4: saya seacara teratur berbicara dengan orang-orang yang berlainan (fungsi yang berbeda, geografi yang berbeda, latar belakang yang berbeda) untuk menemukan dan memperbarui gagasan bisnis.

Pertanyaan 5: saya sering bereksperimen untuk menciptakan cara-cara baru dalam melakukan sesuatu.

Nah, apabila Anda menjawab ‘tidak’ untuk tiga atau lebih pertanyaan tadi, Anda membentur tembok ‘saya tidak kreatif’.

Agar menjadi lebih kreatif, dibutuhkan tindakan untuk merobohkan tembok tadi. Soalnya ialah bila Anda tidak memulainya dengan mengubah mind-set, maka tindakan itu tak akan pernah terwujud.

Sekarang, kembali ke persamaan korek api tadi, bagaimana jawaban Anda? (sumber ilustrasi: hipdiggs.com) ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu