x

Iklan

Burhan Sholihin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Seniman Hebat

Kehebatan temuan Steve Jobs dan Bill Gates adalah contoh kecil tentang berlakunya “hukum” Picasso itu

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“Good artists copy, great artists steal.” Begitulah kata pelukis dan pematung asal Andalusia, Spanyol, Pablo Picasso. Ungkapan itu mungkin terkesan naif, tapi begitulah yang kerap terjadi di dunia ini. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa banyak seniman atau penemu hebat lahir karena “mencuri” ide. Persis seperti yang dikatakan Picasso.

Kehebatan temuan Steve Jobs dan Bill Gates adalah contoh kecil tentang berlakunya “hukum” Picasso itu. Lihatlah Steve Jobs, bos Apple Inc, saat dia masih muda. Dia baru saja mencukur jenggot lebatnya saat komputer Apple pertama mulai diminati orang. Tapi resep cukur jenggot itu tak langsung melambungkan namanya, juga perusahaannya. Apple tetap secuil kuku dibandingkan dengan IBM, yang dikenal sebagai Raksasa Biru.

Penjualannya baru benar-benar mengguncang daratan Amerika Serikat setelah Steve Jobs dan timnya melahirkan komputer dengan tampilan grafis yang memukau, saat itu. Ya, Macintosh-lah yang telah menuliskan sejarah kehebatan Jobs. Saat IBM atau Altair, penemu komputer meja pertama yang menggandeng Microsoft, menyodorkan tampilan melulu teks yang membosankan, Apple muncul dengan desain grafis cantik. Tinggal klik dengan mouse, semua urusan beres.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tampilan grafis dan tetikus (mouse) itulah temuan terhebat pertama Jobs. Tapi, tunggu dulu, dua temuan terhebat ini ternyata bukan temuan orisinal Steve Jobs dan gengnya. Mereka menjiplaknya atau mencurinya dari Xerox yang tak memanfaatkan temuan itu. Begitulah menurut film Pirates of Silicon Valley. Film ini diangkat dari buku Fire in the Valley: The Making of the Personal Computer yang ditulis oleh Paul Freiberger dan Michael Swaine.

Begini kisahnya: di sebuah siang, saat matahari menyapa langit San Francisco yang kerap membikin orang menggigil, Jobs dan teman karibnya, Steve Wozniak, serta beberapa programmer Apple Inc duduk bersama. Otak-otak mereka sedang beradu ide untuk melentingkan penjualan komputer dengan sebuah temuan baru. Seperti biasa, Jobs meniupkan dogmanya. “Kita harus menulis ulang sejarah manusia dengan temuan kita.”

Lalu sebuah ide brilian–dan sedikit nakal–menyambar otak mereka. “Mengapa kita tak mengambil ide tampilan grafis Xerox saja,” kata salah satu dari mereka. Lalu mereka pun meluncur ke pusat riset Xerox dan mengantongi temuan yang tak dilirik Xerox itu dengan harga sangat murah.

“Good artists copy, great artists steal,” kata Jobs menirukan ucapan Picasso. Sejak itulah kejayaan komputer Apple dengan cita rasa seni tinggi berkibar-kibar.

Bill Gates dan Microsoft saat itu masih remah-remah. Mereka tak bisa mengalahkan nilai seni–serta uang–Apple Inc. Keadaan itu baru berbalik setelah Bill Gates “mencuri” ide Apple tentang tampilan grafis dengan melahirkan Windows. Era Windows adalah titik kebangkitan Microsoft. (Lihat gambar, betapa perusahaan-perusahaan Silicon Valley telah menggusur baron-baron raja minyak. Nilai perusahaan mereka jauh lebih tinggi.

Kini orang terkesima kepada seniman hebat yang juga “pencuri”. Ia adalah Cina. Negeri ini kerap dicemooh sebagai tukang jiplak. Apa saja ditiru, dari yang kecil-kecil, seperti peniti dan jepit rambut, hingga kacamata Oakley, tas Gucci, dan mobil. Tapi lihat apa yang dilakukan Cina. Kini mereka menjadi eksportir terbesar di dunia. Juli lalu, menurut Guardian, nilai ekspor Cina mencatat rekor tertinggi, naik 16,8 persen dibanding tahun sebelumnya.

Apa kita harus jadi “pencuri” agar jadi seniman hebat?

Ikuti tulisan menarik Burhan Sholihin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler