x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Penulis Boleh Mati, Buku Mungkin Abadi

Sebuah buku akan ‘abadi’ bukan karena disimpan di perpustakaan, melainkan karena tetap dibaca oleh pembacanya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Sajak-sajak Chairil Anwar dibaca kembali, barangkali setiap tahun saat hari kemerdekaan dirayakan. Di sekolah-sekolah, ‘Aku’ masih dihapalkan dan dibaca di depan kelas. Anak-anak hapal baris-barisnya: “Kalau sampai waktuku, kumau tak seorang pun mengadu; tak perlu sedu sedan itu..”

Nama Chairil Anwar diingat oleh banyak orang. Lebih dari itu, karya-karyanya tetap dibaca, di sekolah saat pelajaran bahasa, di festival baca puisi, atau setidaknya ketika perayaan hari kemerdekaan. Tak semua orang yang menulis puisi memperoleh penghargaan seperti penyair yang mati muda itu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bagi sebagian orang, Indonesia Menggugat dan Indonesia Merdeka adalah inspirasi yang selalu mengingatkan manakala perjalanan bangsa ini melenceng. Namun, rasa-rasanya tak semua politikus kita pernah membaca pikiran-pikiran penting yang termuat dalam pembelaan Soekarno dan Mohammad Hatta di hadapan pengadilan kolonial itu.

Sebagian orang mungkin membaca langsung Perjuangan Kita, buah pikir Sjahrir, tapi banyak orang barangkali hanya sayup-sayup mendengar tanpa pernah membaca isinya, langsung ataupun melalui kutipan perantara. Zaman berubah dan membuat orang merasa perlu memilih mana yang harus dibaca dan mana yang cukup tahu sekedarnya.

Meskipun sebuah karya bagus, hebat, atau menggegerkan pada zamannya, tak serta merta karya itu akan tetap dibaca. Das Kapital karya Karl Marx niscaya tak akan serta merta jadi buku laris andaikan dijual bebas sekalipun. Katakanlah karena alasan-alasan tulisannya begitu teknis, sukar dipahami, dan—yang lebih utama—tebal. Karya Hitler, Mein Kampf, dicari oleh sebagian masyarakat, tapi di Bavaria buku ini dilarang beredar hingga kini.

Banyak karya (tulis) yang memperoleh semacam ‘keabadian’, sebagian lainnya malah dilupakan kendatipun karya itu bagus menurut anggapan banyak orang. Pada akhirnya, sebuah karya tulis—puisi, novel, analisis ekonomi politik, atau buku sejarah seni—akan ‘abadi’ apabila tetap dibaca walau masa berganti. Berganti-ganti generasi meneruskan pembacaan untuk memperoleh makna baru bagi kehidupan mereka yang berbeda. Lysistrata, karya Aristophanes, penulis dari masa Yunani kuno, memperoleh pembacaan baru di tangan almarhum W.S. Rendra.

Bukan karena disimpan di rak-rak buku atau dirumahkan di perpustakaan digital, sebuah karya memperoleh status keabadian, melainkan karena tetap dibaca—seperti sajak-sajak Chairil Anwar yang ditulis puluhan tahun yang silam. Para pembacalah orang-orang yang mengabadikan karya Janes Austen, Ahmad Tohari, Nurcholish Madjid, atau Charles Darwin. Manakala tidak ada lagi orang yang membaca karya mereka, tulisan-tulisan mereka akan kesepian walaupun berada di tengah rak-rak perpustakaan yang padat berisi puluhan ribu buku. (sumber ilustrasi: cryptocoinsnews.com) **

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler