x

Iklan

goestie wulan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Berita Bukanlah Sebuah Lelucon

Sebuah berita bisa menjadi seluruh hidup seseorang, terutama bagi mereka yang namanya tercantum dalam kolom surat kabar atau muncul di layar kaca.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pinocchio, sebuah drama asal Korea Selatan yang tayang perdana pada akhir tahun 2014, dengan total 20 episode. Tentang Choi In Ha (Park Shin Hye), pengidap sindrom pinokio —sebuah kondisi dimana ia tidak bisa berhenti cegukan, sesaat setelah mengatakan kebohongan- yang ingin menjadi seorang reporter TV, sama seperti ibunya. Hasilnya bisa diduga, tidak ada satupun satsiun TV yang menerimanya setelah tahu ia seorang pinokio, dengan alasan,

"Seorang pinokio tidak mungkin menjadi reporter. Dia tidak akan bisa mengali sebuah berita, karena dia tidak bisa berbohong."

Dulu setelah saya berhasil menamatkan seluruh 20 episodenya, saya sudah memutuskan tidak akan melihat drama ini untuk yang kedua kalinya. Alasannya simpel saja, Park Shin Hye bukan aktris favorit saya, jadi rasanya perlu banyak sekali alasan dan pengecualian untu saya akan melihat daram ini lagi di kemudian hari. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Lalu entah ada angin dari mana, redaktur di tempat magang saya sekarang "memaksa" saya untuk berdamai dengan Park Shin Hye dan mau tak mau harus melihat drama Pinnochio (lagi). Katanya, akan ada banyak sekali point yang akan saya dapatkan sebagai seorang wartawan lewat drama ini. 

Apa yang saya kerjakaan saat ini sebenarnya sama dengan apa yang dilakukan Park Shin Hye, dalam karakternya di darama. Bedanya, wajahnya muncul dalam layar kaca salah satu TV saat menyampaikan berita, sedang saya, cukup menuliskannya dalam kata yang diketik rapi. Tapi tugas kami tetap sama, memberitakan berita. 

Setelah melihat drama ini (lagi), ada beberapa catatan yang saya buat untuk dijadikan bahan pelajaan sebagai seorang wartawan. Atau juga untuk pekerjaan lain yang berhubungan dengan hal “memberi informasi kepada orang lain,” agar tidak ada yang dirugikan dalam sebuah pemberitaan. 

Pertama, jangan mengabaikan fakta walau hanya 1 persen

Ini penting diingat menurut saya, bahwa 99 persen kemungkinan yang kita miliki belum tentu bisa menjadi bukti akan kebenaran yang terjadi. Dalam menyampaikan sebuah informasi, kita tidak boleh mengabaikan 1 persen fakta yang ada. Dasarnya sederhana, karena bisa saja 1 persen itu adalah kebenaran yang sesungguhnya.

Berkali-kali dalam drama ini kita diingatkan, verifkasi ulang. Sebuah keharusan untuk dilakukan sebelum informasi disajikan kepada publik. Bahwa sebuah kesimpulan diharamkan untuk dibuat sebelum ada keputusan final dan ditemukan fakta kebenaran yang sesungguhnya. Singkatnya, hasil akhir tidak boleh dibuat dari hasil spekulasi sendiri. Jangan mengira-ngira, dan cari lebih banyak fakta.

Kedua, jangan menipu

Saya memahaminya seperti ini, persaingan yang sengit dalam media massa akhir-akhir ini membuat banyak orang berlomba-lomba untuk menaikan rating, menarik pembaca, penonton, atau konsumen agar “produk”nya laku di pasar. Akibatnya, beberapa orang melakukan cara yang kurang pantas. Seperti dalam drama ini misalnya, dimana seorang reporter melakukan penipuan dengan cara melebih-lebihkan nilai berita, memberitakan banjir yang hanya setinggi lutut menjadi seolah-olah setinggi dada orang dewasa.

Berita atau informasi, seharusnya disampaikan dengan baik dan sejujurnya. Banyak orang membutuhkan keakuratan dan kebenaran isi berita untuk menambah wawasan dan memenuhi kebutuhannya akan informasi. Media yang baik tidak seharusnya menipu khalayak hanya untuk menarik simpati dan perhatian.

Ketiga, berhati-hatilah dalam mengelurakan pernyataan

Dalam drama ini dikisahkan, bagaimana kehidupan Choi Dal Po (Lee Jong Suk) dan kelaurganya berakhir berantakan akibat tuduhan yang dikeluarkan seorang reporter pada ayahnya yang seorang pemadam kebakaran. Reporter tadi, tidak melakukan pengecekan ulang pada temuan yang ia peroleh, dan tergesa-gesa membuat kesimpulan yang menyerang dan menuduh anggota keluarga Choi Dal Po. 

Ada bagian atau sisi yang lebih ditonjolkan sang reporter pada saat mengemas berita dengan alasan, agar membuatnya lebih menarik. Fatalnya, fakta lain yang berisi kebenaran justru disimpan dan daisembunyikan, hingga membuat keluarga Choi Dal Po berantakan. 

Hal ini lalu menjadi pengingat bagi saya, jika jangan sekali-kali mengeluarkan pernyataan tanpa memikirkan akibatnya.

Saya memahami, mengapa hal ini dilarang terjadi. Karena khalayak adalah orang ketiga, dan kebenaran yang mereka peroleh tergantung dari bagaimana media mengemas informasi yang ada. Jika reporter, wartawan, atau media lainnya menyampaikan berita yang tidak akurat kebenarannya, maka masyarakat yang tidak melakukan pengecekan ulang akan mudah percaya begitu saja. Dampaknya, merugikan bukan hanya pembaca berita, tapi juga mereka yang sedang diberitakan. 

Bagian terakhir dan yang paling penting menurut saya dari drama ini adalah, 

"Berita bukanlah sebuah lelucon"

Ada satu dialog dalam drama ini yang pling saya ingat. Kalimatnya kurang lebih seperti ini, 

“Acara TV bisa membunuh orang yang tidak bersalah dengan satu pernyataan.”

Pada akhirnya, fakta dan kebenaran selalu menjadi dua hal yang paling penting dalam sebauh berita. Dimana setelahnya harus dilakukan pengecekan berulang kali agar tidak ada kesalah yang luput dan terjadi. 

 

Sebuah berita kadang tidak berarti apa-apa bagi mereka yang tidak punya kepentingan dengan isinya. Tapi sebuah berita juga bisa menjadi seluruh hidup seseorang, terutama bagi mereka yang namanya tercantum dalam kolom surat kabar atau muncul di layar kaca.

Oleh seba itu, kebenaran sebuah berita menjadi hal yang sangat penting. Berita bukan lelucon, apalagi untuk main-main. 

Ikuti tulisan menarik goestie wulan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu