Indonesia di Ambang Krisis Nurani - Analisis - www.indonesiana.id
x

Faza Syahriza Mutahajjad

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Indonesia di Ambang Krisis Nurani

    Secara tidak resmi, kini posisi uang telah menggantikan jabatan hati Nurani. Segalanya dilakukan bukan lagi tentang keikhlasan.

    Dibaca : 2.891 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Setiap manusia, di dalam hati kecilnya pasti memiliki nurani yang akan membimbing mereka dalam menjalani kehidupan. Tak terkecuali seorang Atheis, mereka yang mengaku tidak berTuhan pun sesungguhnya menuhankan keyakinan di dalam hatinya. Terlebih lagi ketika manusia sedang menghadapi berbagai macam masalah atau pilihan sulit. Secara tidak sadar, ada kekuatan luar biasa di dalam hati seseorang yang siap merangkul, menenangkan dan meyakinkan manusia. Itulah yang disebut dengan nurani.

    Sayangnya, tak selamanya manusia mau mendengarkan kata hati. Terlebih pada kehidupan modern seperti ini. Posisi Tuhan yang seharusnya menjadi penentu kehidupan manusia kini telah digantikan oleh selembar kertas yang biasa disebut dengan uang. Seseorang akan dianggap bahagia apabila memiliki uang yang banyak dan manusia akan dianggap melarat apabila tidak memiliki uang. Oleh karena itu, sebagian besar masyarakat Indonesia bekerja hanya untuk menimbun uang demi dianggap sebagai manusia yang berbahagia.

    Secara tidak resmi, kini posisi uang telah menggantikan jabatan hati Nurani. Segalanya dilakukan bukan lagi karena keinginan berbuat baik, tetapi karena selembar kertas yang hampir diTuhankan oleh sebagian masyarakat modern.

    Dalam aspek politik misalnya, tujuan utama seorang wakil rakyat bukan lagi demi menyejahterakan rakyatnya.  Apalagi memikirkan kondisi negara yang semakin hari semakin semraut. Tujuan mereka telah berevolusi, setidaknya untuk menambah jumlah saham, apartemen dan mobil mewah yang mereka koleksi. Tak peduli bagaimana pun caranya, uang kini telah mampu menjadi posisi nomor satu di hati mereka. Menggeser posisi Tuhan, atau lebih parah lagi, yaitu menuhankan uang.

    Begitu juga dalam aspek sosial. Kini masyarakat menghormati seseorang sesuai dengan jumlah rupiah yang dia koleksi. Tak ada lagi penghormatan khusus kepada seorang guru. Apalagi hanya sekadar guru honorer. Padahal, beberapa puluh tahun yang lalu posisi guru sangatlah dihormati di lingkungan masyarakat. Terlebih lagi guru agama, tak peduli rumahnya hanya terbuat dari gubuk, jika seorang guru agama lewat maka para warga akan berbondong-bondong untuk bersalaman atau setidaknya mempersilakan guru itu jalan terlebih dahulu. Namun kini jarum jam telah berputar, merubah kehidupan masyarakat sedikit demi sedikit, menjungkir balikkan pemikiran yang seharusnya telah mengakar di suatu kampung hingga akhirnya mereka pun ikut menuhankan uang.

    Masih banyak bukti-bukti lain yang berseliweran di kehidupan sekitar kita yang membuktikan bahwa kondisi masyarakat Indonesia modern telah menggeser posisi Tuhan yang sebenarnya. Uang yang tadinya diciptakan hanya sebagai alat tukar menukar, akhir-akhir ini telah merebut hati seluruh manusia hingga tenggelam dalam lautan cinta yang sangat dalam. Setiap melakukan sesuatu, harus ada imbalannya. Meskipun hanya menjaga motor kurang dari satu menit, menemukan dompet di pinggir jalan, bahkan membersihkan kaca mobil di sekitaran lampu lalu lintas. Entah sepuluh ribu, dua puluh ribu atau berapa pun asalkan cukup untuk membeli sebungkus nasi di warung makan pinggir jalan.

    Parahnya lagi, mahasiswa yang dulu dianggap sebagai ancaman kekuasaan bagi para pejabat yang berkinerja buruk , kini tak mau lagi melangkahkan kakinya untuk berdemonstrasi, protes dan melakukan aksi lainnya jika tak mendapatkan beberapa lembar uang dari organisasinya. Tak ada lagi keikhlasan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Istilah tolong menolong ataupun gotong royong kini telah berubah menjadi jual beli. Lagi-lagi karena posisi Tuhan yang mengajarkan keikhlasan telah tertutup oleh Tuhan palsu yang biasa dipanggil dengan sebutan uang.

    Tak peduli kaya atau miskin, uang kini telah berevolusi bahkan hingga kampung-kampung terpencil di Indonesia. Apalagi jika pemilu sebentar lagi tiba. Masyarakat terlihat sangat bahagia dan sumringah. Bukan karena pesta demokrasi demi menciptakan pemimpin yang adil. Lebih tepatnya karena mengharapkan “serangan fajar” yang dilakukan para calon pemimpin. Bagi mereka, uang limapuluh ribu sangat berharga. Masabodo dengan siapa calon yang terpilih, yang terpenting adalah hari ini bisa makan. Lagi-lagi, penyebab utamanya adalah uang.

    Aku sangat mengerti betapa posisi uang memang sangat vital bagi masyarakat Indonesia yang sedang bersemangat memajukan ekonomi pribadinya. Tanpa uang, kehidupan mereka mungkin akan sangat sulit, tetapi bukan berarti semuanya harus bergantung pada uang saja, hingga akhirnya mereka lupa bahwa masih banyak faktor lain yang menjadi penyebab kebahagiaan jiwa seseorang. Mereka lupa dengan keikhlasan, gotong royong, hidup bersosial dan berbagaimacam faktor lainnya yang kini jarang mereka tengok karena terlalu sibuk mencari uang yang pada akhirnya akan mereka berikan lagi kepada orang lain.

    Bukan tidak mungkin, suatu saat masyarakat Indonesia yang terkenal ramah, suka menolong dan berbuat baik di mata dunia, akan berubah menjadi masyarakat individualistis yang tak peduli lagi pada kehidupan sekitarnya. Apalagi hanya untuk menghadiri acara yang diadakan oleh karangtaruna setempat. Tak ada lagi waktu untuk menghadiri acara yang tidak ada uangnya. Semuanya telah tertutupi oleh asap polusi materialistis yang justru akan menjauhkan mereka dari kebahagiaan sejati karena terlalu lelah mencari kebahagiaan palsu yang dianggap hanya dapat mereka temukan pada lembaran-lembaran kertas yang berisi nominal rupiah dan dolar.

    Harapanku hanya satu, semoga kelak Indonesia akan menjadi negara maju tanpa harus mengorbankan ciri khasnya sebagai negara gotong royong, ikhlas dan ramah. Apalagi hingga terjangkit virus individualistis yang akan membuat kita kehilangan jati diri sebagai negara yang mengutamakan persaudaraan.

    Ikuti tulisan menarik Faza Syahriza Mutahajjad lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.