Kisah Pendampingan Pekerja Rumah Tangga di Malang

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Perjuangan community organizer mendampingi Pekerja Rumah Tangga

Pagi ini aku berangkat menuju rumah sakit daerah Soepraon yang jaraknya sekitar 10 km dari rumah. Memulai perjalanan pukul 06.00 dengan harapan bisa mendapat nomor antrian yang tidak terlalu besar, maklumlah saat ini banyak sekali masyarakat yang ingin mendapatkan pelayanan dari rumah sakit.

Sekitar pukul 07 00 aku sampai di loket antrian. Disana sudah ada petugas yang membantu mengambilkan nomor dengan menggunakan mesin. Eh, ternyata aku mendapat nomor urut 157, pikirku masih dapat nomor urut dibawah 20! Tapi ya sudahlah, aku terima nomor itu sembari mencari tempat duduk. Memulai dialog dengan pengunjung yang duduk di sebelahku, ternyata dia mendapat nomor antri 5. Usut punya cerita, dia (harus rela) berangkat sejak subuh!. Dan bukan hanya itu saja, berdasarkan pengalamannya, pada jam segitu, sudah ada orang lain yang berada didepan no mesin antrian. Weleh…weleh…..ternyata masih ada orang yang lebih awal (lagi) berangkat dari rumah sebelum bapak ini. Kutunggulah sajalah, memang kurang pagi berangkat sehingga harus sabar menanti nomor ini dipanggil.

Akhirnya, setelah menunggu 3 jam, sampai juga nomor urutku dipanggil. Langkahku menuju poli saraf. Sudah 4 kali ini aku berobat jalan untuk memeriksakan keluhan di kelopak mata. Jika mata ini kupejamkan, sulit sekali terbuka secara otomatis. Keluhan ini sangat terasa jika harus berkendara jauh. Tidak jarang aku harus berhenti, menepi untuk membuka mata dengan tanganku. Pernah suatu saat, pulang dari kegiatan penjangkauan PRT di daerah Pandanwangi, aku mengalami kejadian tabrakan. Saat itu mata ini tidak bisa terbuka, aku tidak bisa mengendalikan motor yang kubawa. Padahal mobil itu sudah ancang-ancang mau berhenti. Memang, untung tak dapat diraih, malang tak dapat dihindari. Dashbordku pecah karena membentur bagian belakang mobil. Syukurlah, pemilik mobil mengerti kondisiku dan memaafkan kejadian ini.

Pengalaman menunggu antrian pagi ini menggugah kesadaranku, bahwa ada kalanya perlu waktu (panjang) untuk berproses, mencapai apa yang diinginkan. Persis sama dengan pekerjaan yang kulakukan saat ini, menjadi seorang community organizer/ CO Pekerja Rumah Tangga (PRT).  Tidak semua jalan mulus dilalui, ada kalanya tantangan kecil menjadi besar karena diri kita berharap cepat mendapat hasil.

Melakukan pendampingan masyarakat, dalam hal ini PRT itu hal baru. Sejak 2001, aku bekerja di LPKP Malang untuk masyarakat desa, petani, keluarga-keluarga di pelosok-pelosok. Sedangkan untuk bekerja dengan PRT, aku sendiri baru memulainya kira-kira dua tahun terakhir ini. Diriku juga masih perlu proses mengenali, memahami, dan merumuskan langkah-langkah kegiatan untuk sebuah cita-cita besar. Ya, cita-cita yang ingin kami capai dalam program ini “Kondisi Layak bagi Pekerja Rumah Tangga dan Penghapusan Pekerja Rumah Tangga Anak”. Tujuan jangka panjang yang masih perlu diperkenalkan, diadvokasi secara luas, dikampanyekan secara terus-menerus.

Kendala kesehatan bukan jadi penghalang bagiku. Aku terus berusaha untuk selalu bersabar dan mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah sesulit apapun. Pekerjaanku ini tidak lepas dari tantangan untuk mengkoordinir teman-teman PRT, mengatasi respon masyarakat sekitar. Aku terus berusaha, memperjuangkan sebuah kondisi yang layak bagi PRT di Malang. Bersama tim besar di LPKP Malang, kami berupaya “menanamkan rasa percaya diri” pada PRT. Kelak, mereka akan mampu menikmati Haknya sebagai Pekerja, bukan sekedar orang yang tidak dianggap selama ini. Ya, langkah pendampingan ini harus menunggu waktu, menunggu perubahan sikap dan pemikiran banyak pihak, termasuk Pekerja Rumah Tangga itu sendiri. Sembari terus berupaya ada kebijakan yang lebih mengayomi teman-teman PRT di Indonesia.

Aku, tak menyerah karena sakitku ini. Aku masih bersemangat melakukan kegiatan belajar bersama para PRT di daerah Kendalsari. Sama-sama menanti antrian untuk perwujudan “Kerja Layak bagi Pekerja Rumah Tangga”.  Antrian harus makin pendek, bukan tambah panjang, karena itu langkah harus lebih kompak dan menggandeng banyak pihak. Ah, inilah mimpi paling indah dari seorang CO, menyaksikan dampingannya mandiri dan mau berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. 

(kisah seorang CO di LPKP malang, Bapak Issoe Pamungkas, 54 tahun)

Bagikan Artikel Ini
img-content
JARAK STOP PEKERJA ANAK

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua