x

Iklan

akhlis purnomo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

6 Jenis Penulis Pecundang

Jenis-jenis penulis bervariasi. Berikut beberapa di antaranya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Lumayan menghibur menonton film berjudul "Authors Anonymous" ini. Kisahnya tentang sebuah klub menulis yang isinya para penulis pecundang yang memburu penerbit.

Ketua klub menulis ini seorang penulis palsu. Saya katakan palsu karena ia cuma merekam ide-ide melulu tapi tak pernah menuliskannya. Bukan masalah besar jika ia tak ada karya untuk dijual sebab toh dia sudah kaya raya dari pekerjaan utamanya sebagai dokter mata yang sukses.

Lalu ada istrinya yang mengaku penulis tapi saat ditanya siapa penulis idolanya, jawabannya membuat risih orang,"Saya adalah idola saya." Inilah penulis narsistis. Selalu merasa terhina dan terluka berlebihan karena ditolak penerbit sebab ia pikir bakatnya sangat luar biasa padahal tulisannya mirip stensilan picisan. Penuh kosakata kotor dan vulgar yang membuat cuping hidung megar.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kemudian ada anak muda yang penampilannya tak mirip penulis tetapi atlet. Bakatnya ada. Pun kemampuan dan keuletan. Membaca juga banyak karya sehingga wawasan sastranya luas. Sudah menulis barang 2 atau 3 naskah novel tetapi sejauh ini belum ada penerbit melirik. Satu kelemahannya ialah kurang percaya diri. Ia hanya butuh pengungkit agar bisa melejit. Inilah jenis penulis minder.

Pemuda lainnya lebih mirip penulis penuh 'gaya'. Maksudnya, ia suka gaya hidup penulis idolanya. Ia tiru semua tingkah polah penulis pujaannya, dari gaya berbusana sampai cara menggaet perempuan. Tapi satu yang ia tak bisa tiru ialah kepiawaian si idola merangkai kata. Kerjanya cuma merevisi tulisannya yang tak seberapa. Benar-benar tidak ada bakat dan kegigihan sastrawi. 

Peserta klub yang lain ialah seorang gadis pirang bertabiat periang. Ia mengaku suka menulis, tapi tak gemar membaca karya sastra. Alhasil, tulisanya rata-rata, kering, biasa saja. Mirip esai anak SMA. Ya memang karena ia juga cuma lulusan SMA, tidak seperti yang lain yang kuliah. Ibunya selalu suportif tentang keinginannya menjadi penulis. Dan tampaknya ibunya sangat paham kemampuan anaknya biasa saja tetapi tak tega membunuh asa si anak. Ia menjadi satu-satunya penulis di klub ini yang karyanya pertama menembus penerbitan. Sayangnya, ia harus rela menjadi selingkuhan petinggi perusahaan penerbitan dan tidur dengan produser film agar naskahnya bisa diloloskan ke Hollywood. Semboyannya "menulis prioritas pertama dan utama hidupku". Begitu kuatnya motto itu masuk dalam pikirannya sampai ia tak keberatan menggadai tubuh demi menyandang status "a published author". Jenis ini namanya penulis ambisius.

Seorang kakek terobsesi juga masuk ke klub ini. Maunya seterkenal penulis novel militer Tom Clancy. Egonya juga tak kalah tinggi karena tak mau kalah dari mereka yang lebih muda. Karena tiada penerbit yang bersedia menerbitkan naskahnya, ia pun menerbitkan secara indie. Hasilnya memalukan. Foto sampulnya membuat orang bingung dengan isi dan tema novelnya. Saat dijual pun bukunya tidak diminati karena salah pilih lokasi. Ia luncurkan bukunya di supermarket, bukan toko buku. Pantas saja tidak ada yang membeli kan? Tiap hari ia rajin sekali memeriksa peringkat penjualan novelnya di Amazon.com lalu mengeluh dengan nada berang,"Tom Clancy di peringkat lima. Novel saya di peringkat 5 juta bla bla..." Ia mewakili jenis penulis delusional.

Film yang sangat 'nyelekit' memang. Satir yang menusuk-nusuk. Kalau saya cermati, diri saya masuk yang mana ya? Kalau Anda sendiri? Jangan jangan semuanya masuk. (*/ Foto: Wikimedia Commons)

Ikuti tulisan menarik akhlis purnomo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler