x

Iklan

Amirudin Mahmud

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Sekolah Hanya Mitra Orang tu

Sebagian dari kita, para orang tua menjadikan sekolah sebagai tumpuan bagi pendidikan anak-anaknya. Apa peran sekolah sebenarnya?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Sebagian dari kita, para orang tua menjadikan sekolah sebagai tumpuan bagi pendidikan anak-anaknya. Tidak sedikit dari mereka  seolah telah membebaskan diri dari kewajiban mendidik, setelah ia memasukkan anak-anaknya ke sekolah. Segala sesuatunya  diserahkan, dipercayakan ke sekolah. Seperti orang mengirim pakaian kotor ke tukang cuci, ia cukup mebayar atau membiayai kemudian menerima hasilnya saja, berupa pakaian bersih. Memasukkan anak ke sekolah, harapanya selesai sekolah anak menjadi pandai, berakhlak mulia, berintegritas tinggi, dan memilki skil atau ketrampilan yang dibutuhkan. Sebuah pemikiran yang praktis sekaligus pragmatis.

Tak sedikit orang tua yang kecewa pada sekolah, tapi tak berbuat apa-apa. Apalagi bagi mereka yang bisanya hanya marah pada guru atau sekolah. Tak memberi masukan. Tak memberi solusi. Tentu salah. Sikap seperti itu berawal dari anggapan bahwa anak berada pada tanggungjawab guru atau sekolah. Mereka berlepas diri dengan argumentasi, bukankah anak sudah dipercayakan ke sekolah? Bukankah mereka sudah membayar semua biaya pendidikan? Ini persis ketika seorang marah-marah karena pakaian yang dicucikan ke tukang cuci masih kotor. Padahal kedua kasus ini sangat berbeda, berlainan. Tak sama.

Menurut Hasanuddin Abdurakhman, orang tua itu sepaatutnya menjadi pengendali pendidikan anak-anaknya. Walau anak di sekolah, kendalinya tetap dari rumah. Karena tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya pada orang tua. Sekolah hanya membantu. Sekoah hanya mitra orang tua dalam pendidikan anak. Guru itu orang lain, berbeda dengan orang tua. Orang tua adalah bagian dari diri anak itu sendiri. Sehingga tak masuk akal jika ada orang tua yang melepas begitu saja anak-anak mereka ke orang lain. (http://edukasi.kompas.com)

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Munif Chatib (2012) dalam bukunya, Orang tuanya Manusia, menegaskan anak adalah amanah dari Allah SWT. Kita sudah terpilih menjadi orang tuanya. Tugas kita sebenarnya sederhana, yaitu menerima dengan ikhlas dan mendidiknya dengan berbagai cara. Bak bintang, sampai sinarnya menerangi dunia, atau minimal menjadi pelita untuk sepetak ruang gelap di rumah kita.

Karena kedudukan orang tua sebagai penanggungjawab bagi anak maka mereka disebut  wali siswa. Wali itu pengertiannya tidak sekadar yang memimpin tapi lebih dari itu merupakan orang yang memilki kewenangan mutlak terhadap diri anak. Wali siswa artinya orang tua yang bertanggungjawab secara penuh terhadap peserta didik. Sebab itu, aneh jika mereka berlepas diri. Tak pantas jika mereka menyalahkan sekolah secara sepihak. Jika pun dianggap salah, itu merupakan kesalahan kolektif kedua pihak yakni orang tua dan sekolah sebagai pihak yang dipercaya mendidik. Sekali lagi, orang tua tak boleh cuci tangan. Melepaskan segalanya pada sekolah.

Orang tua wajib  berperan lebih banyak dalam mendidik anak-anaknya. Kemudian bagaimana peran orang tua terkait sekolah anak-anaknya? Menurut hemat saya, ada beberapa hal penting yang wajib dilakukan. Pertama, memilihkan sekolah untuk anak. Pilihlah sekolah yang cocok. Orang tua disarankan memilih sekolah yang memiliki prinsip yang sama. Hal itu bertujuan guna menyamakan visi orang tua dengan sekolah. Sehingga nantinya tidak sering memunculkan perbedaan pendapat diantara keduanya. Sebab itu, memilih sekolah itu diawali dengan meneliti, mempelajari sekolah yang bersangkutan. Siapa pengelolanya? Jika sekolah milik organisasi tertentu atau yayasan sebaiknya orang tua memahami lebih jauah latar belakang organisasi atau yayasan tersebut. Kemudian siapa saja guru-gurunya? Juga, bagaimana masyarakat sekitarnya? Karena lingkungan pun sedikit banyak berpengaruh pada belajar anak didik.

Kedua, jalin kominkasi  intensif dengan guru di sekolah. Komunikasi diartikan sebagai menjalin hubungan timbal balik. Kunjungi sekolah secara priodik guna melihat keadaan anak di sekolah.  Berilah masukan dan pendapat kepada kepala sekolah atau guru jika ada gagasan guna perbaikan proses belajar mengajar misalnya. Mintalah informasi terkait perkembangan belajar anak. Orang tua sepantasnya menanyakan apa yang kudu dilakukannya di rumah terkait perkembangan pendidikan anaknya.

Ketiga, jadilah sahabat sejati guru. Jujur, sedih jika guru-orang tua bermusuhan. Bagaimana anak akan menteladani jika mereka saling mencurigai, saling membenci atau saling melaporkan ke pihak berwajib. Sepantasnya, orang tua dan guru menjadi sahabat sejati. Keduanya kudu bersatu-padu dalam mengantarkan anak pada cita-cita mereka. Keduanya bisa saling bertanya, berdiskusi bahkan curhat prihal anak didik yang menjadi tangung jawab mereka berdua. Keduanya sepatutnya saling mengisi, bekerjasama dalam segala hal terkait proses pendidikan dan belajar anak. Persahabatan orang tua-guru juga akan menjadi spirit luar biasa bagi anak. Anak akan merasa bahagia menyaksikan keduanya menyangi, memperhatikan dirinya. Sungguh, indah rasanya. Keindahan tersebut memudahkan anak menemukan dan mengembangkan bakat yang terpendam padanya. Maka proses belajar akan cepat dipahami, diikuti.

Keempat, tetap membimbing belajar anak. Sediakan waktu minimal 1 jam pada malam hari untuk mendampingi anak-anak  belajar. Tanyakan apa ada kesulitan dalam belajar mereka. Apa ada pekerjaan rumah, atau tugas? Bantulah dalam bentuk bimbingan , pendampingan atau arahan. Jangan bantu mereka dengan memberikan jawaban atau mengerjakan tugas. Sebab hal seperti itu tak mendidik. Yang ada kita mengajari mereka tentang kecurangan, ketidakjujuran. Guna megendalikan pendidikan anak dibutuhkan komunikasi intesif dengan anak. Karenanya sempatkan waktu untuk sekadar berbincang atau main bersama misalnya. Jadilah pendengar yang baik terhadap segala keluhan anak baik terkait persoalan di sekolah atau lainnya.

Kelima,  memfilter muatan pendidikan. Orang tua berhak memfilter muatan pendidikan yang tak cocok dengan prinsip atau keyakinan yang dimiliki. Misal ketika anak diajari oleh guru di sekolah untuk tidak mengucapkan selamat hari natal kepada teman, saudara, tetangga atau lainnya yang berbeda agama, maka orang tua bisa meralatnya, meluruskan cara pandangan yang cenderung intoleran tersebut. Katakan bahwa kita adalah bangsa yang majemuk. Bahwa kebhinekaan dan kemajemukan merupakan pengikat persudaraan sesama anak bangsa. Bahwa keragamaan agama, ras, juga suku adalah kekayaan kita. Perbedaan adalah potensi. Perbedaan adalah rahmat. Maka selayaknya kita saling menghormati, saling menghargai dan saling membantu. Orang tua tak boleh berdiam diri saat anak dididik secara kurang tepat oleh guru di sekolah. Dan jangan lupa komunikasikan kepada guru atau pihak sekolah agar tidak terjadi salah paham atau salah pengertian nantinya.

Akhir kata, sekolah mendidik anak-anak kita memang iya. Tapi bukan berarti segala-galanya menjadi tanggung jawabnya. Orang tua tetap menjadi penanggung jawab mutlak dan penuh atas anak-anak mereka. Salah besar jika mereka berdiam diri. Tanpa berbuat apa-apa. Menyerahkan semuanya ke guru atau sekolah. Wa Allahu A’lam

Penulis adalah Guru SDN Unggulan Srengseng I, Tinggal di Indaramayu

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Amirudin Mahmud lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler