Pekerja Rumah Tangga yang Berdaya

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pemberdayaan PRT untuk perjuangan nasib PRT sebagai Pekerja

Kisah Pak Sai’in dalam menggerakkan para PRT di Malang

Mengawali tulisan kali ini, saya ingin memberikan gambaran sebuah kegiatan pemberdayaan di kota dan kabupaten Malang. Program pemberdayaan memang sudah biasa didengar (masyarakat), dilakukan/ dimplementasikan (LSM) atau dicanangkan (para pimpinan daerah), bahkan banyak yang menjadikan pemberdayaan ini sebagai program unggulan di sebuah wilayah. Nah, kali ini program pemberdayaan yang diinisiasi LPKP, sebuah LSM yang cukup lama bergerak di isu pemberdayaan komunitas, memberikan perhatian pada kelompok Pekerja Rumah Tangga (PRT).

Sebuah kegiatan baru bagi PRT itu sendiri, baru bagi pendamping lapang dan baru bagi stakeholder, sehingga masih diperlukan sosialisasi tentang program ini dan memperkenalkan program ini ke banyak pihak di kota Malang. Hal baru juga untuk saya yang biasanya membina kelompok masyarakat/ kelompok anak di program-program yang sebelumnya. Tak terasa, 2 tahun sudah saya melakukan pendampingan di kelompok PRT ini. Banyak kisah ingin saya sampaikan sebagai sharing pengalaman dan mendapat masukan untuk memperbaiki strategi selanjutnya.

Bersama 3 orang pendamping lapang lainnya, saya bertugas mendampingi kelompok PRT di wilayah Pandanwangi, Balearjosari, Singosari dan Karang Ploso. Wilayah ini ternyata menjadi lokasi tinggal banyak PRT yang berkontribusi bagi rumah tangga di kota/kabupaten ini. Orang-orang yang bekerja untuk memberikan “kehidupan” bagi orang lain. Seluruh anggota kelompok merupakan PRT dengan kategori “pulang hari” atau bahasa kerennya “Live out” (saya sendiri baru tahu ada istilah ini). Ya, mereka tidak tinggal di rumah pengguna jasa, sehari-hari  mereka datang di pagi hari dan pulang di siang/ sore hari”. Sudah beberapa pendekatan kami coba mengajak PRT yang tinggal di rumah pengguna jasa (live in), belum berhasil mengajak para PRT bergabung, yah….kami harus mencari strategi lainnya.

Memulai pertemuan-pertemuan dengan para PRT membutuhkan keteguhan niat dan kesabaran. Inilah saat kami diuji dengan cuaca yang tidak bersahabat, jarak yang jauh, komitmen berkumpul, beragamnya aktivitas di tingkat lokal serta kondisi fisik para pendamping lapang. Menanamkan sebuah pemahaman bahwa PRT adalah Pekerja, seperti membangun rumah dengan pondasi yang kokoh. Persepsi “menjadi PRT adalah pengabdian, takdir, sudah jalannya, tidak ada pilihan lain” memerlukan upaya “merombak” dan “menanamkan” sikap baru pada PRT.  

Para PRT itu tidak mempunyai tujuan saat diajak berkumpul dan berkegiatan bersama. Inilah yang menjadi peluang dan tantangan kami, memberikan sebuah “kesadaran akan nilai”. Nilai bahwa PRT adalah Pekerja. Membangun kesepahaman dalam setiap pertemuan, bukan sekedar bertukar cerita, curhat-curhatan, tetapi memang membongkar persepsi mereka. Kami ini pendamping lapang yang berperan sebagai fasilitator, merekalah yang harus berperan lebih untuk perubahan nasibnya. Nasib sebagai pekerja bukan pembantu.

Tidak semua PRT ingin bergabung dalam kelompok yang sedang dibangun. Mungkin karena tidak ada iming-iming bantuan secara langsung, apalagi berupa uang. Kami memang sedang membangun kesadaran baru bagi PRT, ditambah juga memberikan kesempatan untuk peningkatan keterampilan yang menunjang pekerjaan yang dilakukan. Pertemuan yang dilakukan secara rutin ternyata juga menumbuhkan rasa kebersamaan yang tidak habis karena terbatasnya periode program. Para PRT membuat pertemuan antar mereka lebih bermanfaat. Mereka mengembangkan sistem simpan pinjam yang berguna untuk kebutuhan mereka tanpa berhutang di tempat yang lebih memberatkan mereka. Pertemuan menjadi ajang belajar bersama dan berbagi pengalaman baru, baik untuk “kesehatan batin” dan menambah ilmu-ilmu baru. Apalagi dengan kehadiran para mahasiswa yang magang di LPKP, banyak pengetahuan dan bahan diskusi menarik tentang situasi kerja disampaikan oleh mereka. Kelompok PRT mulai merasakan manfaatnya. Bukan lagi sekedar memenuhi sesi belajar tiap bulan, tapi menjadi bentuk pemberdayaan kelompok, dari yang tidak punya tujuan, menjadi “tahu tujuan” ikut kelompok dan mau berusaha untuk membangun kelompoknya. Untuk saya, itulah nikmatnya menjadi pendamping lapang, kelompok yang didampinginya menjadi berdaya.

Kebanggaan yang lainnya adalah keberhasilan beberapa kelompok menyelesaikan tugas belajarnya mengenai kerumahtanggaan. Para PRT belajar mengenai Memasak dan Membersihkan rumah secara komplit, bahkan telah mengikuti uji kompetensi pada tanggal 26 Januari 2017. Mereka menguji dirinya melalui soal dan tugas praktek sesuai materi yang telah diajarkan 4 bulan terakhir ini. Hasilnya, 63 PRT dari 64 PRT yang ikut dinyatakan lulus tanpa mengulang. Inilah kompetensi yang dicita-citakan, diwujudkan dan diterima oleh mereka karena berjuang dalam kelompok yang didampingi selama ini.

Selamat untuk para PRT yang telah berhasil memperoleh ilmu baru. Pemberdayaan belum selesai, masih ada tujuan besar yang belum kita terima dan rasakan, yaitu mencapai situasi Kerja Layak PRT yang sesungguhnya, masih ada anak-anak yang menjadi PRTA. Kita belum selesai untuk mewujudkan tujuan tersebut. Mari terus mengembangkan potensimu, sehingga banyak orang setuju dengan perjuangan kita, PRT ADALAH PEKERJA.

Tunggu kabar pemberdayaan kami selanjutnya.

Salam,

Sai’in

 

 

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
JARAK STOP PEKERJA ANAK

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua