x

Iklan

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Vincent Van Gogh

Vincent Van Gogh, tak semata peletak dasar ekspresionisme dalam lukisan. Ia adalah martir yang ditolak dunia. Kemuliaannya selalu telat disadari orang.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Vincent van Gogh, suatu masa dan setelah masa itu berakhir adalah keteguhan hati yang ditakdirkan. Ia mungkin dijaga secara alami hingga hidupnya seolah tak beruntung selama hidup. Tetapi mungkin karena itu kemudian, Van Gogh, rohnya bertahta dalam keabadian waktu untuk dikenang sebagai martir.

Ketika usianya masih awal dua puluh tahunan, ia memulai pekerjaannya sebagai pencatat di sebuah galeri Goupil and Company di Strand, London. Seperti halnya orang tuanya yang keras hati agar ia kuliah dan menjadi seorang pendeta, Van Gogh muda memiliki keteguhan yang sama untuk memberikan rasa cintanya pada umat manusia.

Cinta pertamanya pada Ursula yang tumbuh sebagai rasa sakit mengantarnya pada dunia yang menakdirkannya menjadi martir. Ia senantiasa gelisah pada tiap jengkal penderitaan yang dilihatnya. Pada dasarnya seperti itu, hatinya didedikasikan pada jiwa-jiwa yang terpinggirkan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Di Belgia, Petit Wasmes, di desa Borinage (Desa Hitam), abad 19, adalah sebuah kota tambang batu bara yang sengsara. Di antara cekungan lembah-lembah hitam muram, ia menyaksikan penduduknya terkurung dalam penderitaan gelap yang tak berujung. Ia melakukan kerja dalam suasana yang terasa eskapis dan altruistis.

Sebagai pengabar injil Evengelis, Vincent Van Gogh berkewajiban membangun rasa iman penduduk malang tersebut. Ia meyakinkan bahwa tuhan tak akan meninggalkan mereka yang terpinggirkan. Ia juga mengorbankan semua gajinya untuk memberi bantuan penduduk sekitar. Dan ketika semua gajinya yang kecil tak lagi mampu, ia meminta pihak gereja membantu. Sekali, dua kali dan hingga akhirnya ia sadar, bahwa dogma adalah perkara basa-basi. Ketika pihak gereja kembali menolak keinginannya membantu, ia mulai menyakini tidak ada tuhan lagi dalam hatinya.

Di Borinage juga, di kamar kecil yang ia sewa, Van Gogh mulai melukis, membuat sketsa-sketsa dari wajah-wajah menderita penduduk di sana. Pendeta Pietersen, seorang pelukis profesional dan berpengalaman adalah orang pertama yang mengritiknya dengan standar sekolahan. Ia bicara tentang perspektif dan proporsi tubuh dalam sketsa Vincent Van Gogh. Saat kemudian, Pietersen mejadi sadar, ia malah merusak karakter perempuan dalam sketsa Van Gogh. Piertersen, selanjutnya, adalah kolektor pertama Van Gogh yang tercatat.

Pandangannya yang tajam dan mendalam terhadap kehidupan, seperti kanal-kanal ekpresi yang meluber sebagai teriakan protes terhadap ketidakadilan. Ia melihat manusia, ia melihat alam tidak sebagai impresi semata. Ia mungkin saja, untuk sementara terbawa arus dalam tren seni rupa Eropa di masa itu.

Ia mencoba belajar pada para pelukis besar di masa itu. Jules Breton, adalah salah satu pelukis yang ia kagumi. Untuk itu ia rela berjalan kaki sejauh 170 km dan menggelandang tanpa makan yang cukup. Toh, pada akhirnya, ia malah semakin meyakini jalan kreatifitasnya. Sekolah, baginya, menjadi penjara kreatifitas dan hakekat etetismenya. Impresionisme baginya, hanya jalan hidup yang sempat ia lewati.

Maka ekspresionisme adalah ruang kesadaran yang murni, tempat dimana ia mampu menyuarakan suara-suara hatinya pada keadaan. Melukis, mungkin memang pilihan profesi terakhirnya setelah hidupnya semacam terkhianati. Maka kita melihat, ia total di dalamnya. Menggambarkan tujuan sepenuhnya -dimana ia melihat kehidupan pada idealnya.

Dan di kala itu, sejujurnya, ia berharap diterima serta mapan sebagai manusia terhormat seperti halnya dalam tradisi keluarga Van Gogh. Itu manusiawi. Tetapi, sayangnya, pasar tidak menerimanya. Pasar adalah cara pandang kekuasaan dan kepentingan. Ia menyadari itu dan ia tidak peduli. Ia terus dalam takdirnya yang gila dan nestapa bersama demam di tubuhnya akibat tanpa makan berhari-hari dan juga epilepsi.

Van Gogh, untuk itu, sesungguhnya ia memang harus menjadi martir sebagaimana takdirnya sejak awal. Bahwa kematiannya yang tragis kemudian adalah awal kesadaran tentang perkara bahwa manusia harus punya sikap dan keberpihakan pada eksistensi manusia.

 

Ikuti tulisan menarik Ranang Aji SP lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu