Doa Anak Suriah untuk Kalian yang Bahagia - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Doa Anak Suriah untuk Kalian yang Bahagia

    "Dan aku berdoa kepada Allah semoga orang lain di luar sana dikarunia kebahagiaan,"

    Dibaca : 3.217 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Al Hajar Al Aswad, sebuah kota di kawasan Dasmsyiq, Suriah adalah cermin semua kawasan yang hancur di seluruh Suriah. Kota yang semula indah dan makmur berubah menjadi kepingan memilukan.

     

    Ketakutan, kelaparan dan semua kegelapan masa depan adalah satu-satunya keadaan. Penghuni di dalamnya, adalah semua rasa yang menyerupai monster yang ingin dijauhi manusia dan jin, kecuali ketabahan dan kesabaran.

     

    Di kota itu yang sekarat oleh perang, di antara reruntuhan dan puing-puing harapan, di suatu siang yang hampa, dua anak kecil bersaudara terlihat berjongkok dan memunguti remah-remah roti kad yang tersebar menyatu bersama tanah kering yang tandus. Satu gadis berusia 10 tahun dan satu lagi saudara lelakinya berusia 8 tahun.

     

    Tangan-tangan mungil itu sibuk memungut dan mengumpulkan setiap butiran yang tersisa. Seperti tak ingin kehilangan, setiap remah yang menonjol diantara tanah-tanah segera dipungut dan dimasukkan ke dalam mulut kecil mereka. Suara kunyahannya berdetak. Sisanya lagi dikumpulkan menjadi satu gundukan kecil.

     

    "Orang-orang sekarang suka membuang makanan," kata gadis kecil itu. Mereka lebih suka membuang makanan di sini ketimbang memberikan pada orang."

     

    Dua anak ini, telah dua tahun lebih menjalani hidup seperti ini sejak perang dimulai di Suriah tahun 2011. Ke dua orang tuanya tak berdaya dan juga kelaparan. Ketika ayahnya kehilangan kartu indentitas, semuanya menjadi seperti ikut hilang, termasuk hak mendapatkan bantuan makanan. Sejak itu mereka ditinggalkan.

     

    "Semua pergi dari sini, mencari makan di luar, dan hanya kami di sini menahan lapar. Semua pergi kecuali Allah."

     

    Dua anak ini, mungkin menderita seperti ribuan anak-anak lain di Suriah, namun ketabahan dan kesabarannya mengalahkan dentuman mortir-mortir yang menghancurkan tembok-tembok tebal rumah di Suriah. "Kami tengah bersabar dan semoga Allah menyelesaikan masalah ini."

     

    Meskipun, ia ingin semua kembali seperti semula yang damai agar bisa menikmati makanan tanpa rasa kuatir kelaparan, namun gadis kecil itu tak ingin mengabarkan keadaannya pada dunia.

     

    "Kami tak ingin mengatakan apa-apa. Kami dulu keluarga besar, tapi semua orang pergi meninggalkan kami." Wajahnya datar dan sabar.

     

    "Dan aku berdoa kepada Allah semoga orang lain di luar sana dikarunia kebahagiaan," kata gadis 10 tahun itu sembari terus memunguti remah-remah roti kotor di tanah.

     

    [ direportase dari sebuah video Suriah]

    Ikuti tulisan menarik Ranang Aji SP lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.