x

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Hasyim Muzadi. TEMPO/Imam Sukamto

Iklan

Burhan Sholihin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Mentertawakan Dunia ala Hasyim Muzadi

Kyai NU (Nahdlatul Ulama) dan humor ibarat dua sisi dalam sekeping mata uang. Itu juga yang melekat pada sosok Hasyim Muzadi.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kyai NU (Nahdlatul Ulama) dan humor ibarat dua sisi dalam sekeping mata uang. Mereka selalu saja dalam setiap pengajiannya selalu menyelipkan humor-humor segar yang membikin audien tertawa atau merenung. Itu juga yang melekat pada sosok Hasyim Muzadi, kyai, dosen, politisi dan mantan ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Serumit apa pun persoalan atau pertanyaan dari para santri, selalu dijawab dengan humor yang bijak. Berikut ini adalah humor-humor Hasyim Muzadi. Betapa dia bisa "mentertawakan" perbedaan pandangan antara Muhammadiyah, NU dan bahkan dengan agama lain sekalipun.

1. Kisah Doktor Takut Istri

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pak Hasyim berceria tentang seorang temannya yang bertitel doktor namun bisa seketika turun tingkat keilmuannya. Banyak ilmu yang bermanfaat tapi juga banyak ilmu yg mubazir dikarenakan tidak bisa membedakan antara ilmu dan mas’uliyatul ilm (pertanggungjawaban ilmu).

Begini ceritanya:

“Saya punya teman doktor, wah kalau di universitas dia ditakuti karena killer, tapi kalau pulang dimarahi istrinya bisa bodoh mendadak,” ujar Pak Hasyim.

“Nah ternyata ini guyon tapi betulan. Ilmu yg di otak itu akan goncang ketika ada goncangan dalam hati seseorang,” kata Pak Hasyim.

2. Soal Qunut dan Tidak Sholat

Pak Hasyim bercerita saat ini seorang berilmu harus diuji keilmuannya di masyarakat karena masa di mana seorang menuntut ilmu atau belajar boleh jadi berubah dengan cepat dengan masa di mana penuntut ilmu mengaplikasikan ilmunya di masyarakat.

“Masyarakat adalah alat uji yg paling muktabar di dlm keilmuan, jangan marah-marah terhadap masyarakat karena ilmunya tidak dimengerti masyarakat,” kata Pak Hasyim.

Ketika itu Pak Hasyim masih mondok di Pondok Gontor. Beliau mengungkapkan, “Masyarakat kita saat ini berbeda waktu sugengnya Trimurti (Tiga org pendiri Pondok Gontor), waktu saya masih mondok di sini keadaan masyarakat itu sederhana. Masyarakat itu ada dua, kalau ndak NU ya Muhammadiyah. Ini mau besanan saja takut, takut tidak mendapat barokah dari masing-masing golongannya. Selisih sedikit saja ribut,”

“Masing-masing ribut, satu qunut (saat sholat Subuh), satu tidak qunut. Padahal di kitabnya orang NU ada qunutnya, ada tidak qunutnya,”

“Alhamdulilah sekarang ini sudah tidak ribut, karena sudah tidak solat subuh,” kata Pak Hasyim.

Baca juga: Hasyim Muzadi dan Warisan Humornya

3. Cerita Hari Raya Id

Dulu, kata Kiai Hasyim, beda hari raya itu berkelahi. Padahal selisih NU dan Muhammadiyah itu beda tanggalnya bukan sholatnya. “Kenapa tanggalnya gak sama? Ya ngitungnya tak sama,” kata Kiai Hasyim. Kerena antara yang menghitung ( ahli hisab) dengan yang nyurung (mendorong) bulan ( Allah)  itu beda …ha..ha…itu beliau sampaikan ketika beliau menjabat ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, satu-satunya ormas yang berbeda hari Raya pertama kali secara terbuka (frontal) dengan pemerintah termasuk dengan PBNU ( Gus Dur waktu itu) tahun 1994. Beliau ketua Tanfizdiyah dan KH.Imron Hamzah Rois Syuriyah NU Jawa Timur, dan NU Jawa Timur dengan ketegasannya melaksanakan Hari Raya dengan Rukyatul Hilal (mendahului pemerintah) kerena mendahului tentu disambut dengan gembira oleh warga NU. 

Dengan adanya hari Raya Berbeda banyak cerita-cerita lucu yang mengiringinya antara lain..ada tokoh NU yang Khutbah Hari Raya Idul Fitri 2 kal. Ada Kyai yang tidak mau dengan Keputusan Ikhbar PW NU Jawa Timur kerena dianggap suratnya tidak valid. Bagaimana mungkin surat itu bisa diterima dalam dalam semalam tidak mungkinlah. PW.NU waktu menggunakan faximile untuk mengirimkan berita..ada yang menganggap surat itu palsu kerena stempelnya copy-an dan lain-lain. Di sinilah peran beliau cukup sentral sehingga acara Halal-halal Bihal di derah-daerah hingga pelosok Jawa Timur materi utamanya adalah soal beda Hari raya…

Kiai Hasyim bercerita ketika semasa masih menjabat Ketum PBNU di masa pemerintahan SBY. Ketika itu Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Pak Hasyim dipanggil untuk bertemu Pak JK (Jusuf Kalla).

“Saya diundang sama Pak JK, beliau marah-marah, ini bagaimana nggak bisa jadi satu NU dan MUhammadiyah hari rayanya. Repot masyarakat kalo begini,” cerita Pak Hasyim.

“Saya tanya, caranya bagaimana, Pak?” kata Pak Hasyim.

“Ya, kompromilah,” jawab JK. “Bagaimana kalau Muhammadiyah turun satu derajat, NU naik sedikit,”

“Oh kalo gitu langsung cash and carry saja, pak..” kata Pak Hasyim tertawa mendengar pandangan JK. “Ini fiqhnya pedagangnya ya gini ini,” guyon Pak Hasyim.

“Saya bilang ndak bisa begitu pak,” cerita pak Hasyim.

“Lha terus yang bisa bagaimana?” tanya Pak JK.

“Yang bisa itu (buat) pengertian seluruh umat Islam bhw perbedaan (Hari Raya) itu terbuka dan memang ada. Yang kedua, ini tidak mengada-ada karena sholatnya sama, tanggalnya tidak sama. Wong hari di sini dengan di Amerika saja tidak sama kok.,” ujar Pak Hasyim lagi.

4. Pak Hasyim Sindir Din Syamsuddin

“Saya sama Pak Din sering diundang pidato bareng, kadang saya bisa, Pak Din ndak bisa, kadang saya ndak bisa, Pak Din bisa. Tapi lebih sering saya diundang Muhammadiyah daripada Pak Din diundang NU… Padahal Pak Din ini mantan NU…,” kata Pak Hasyim.

“Kenapa dia pindah (Muhammdiyah)? Karena dia tak kerasan saja sama NU, bkn karena teori yang tinggi-tinggi itu. Ini org NU kok kumuh banget… haha. Ya cuman sekitar itu saja.”

“Jadi meski NU dan Muhammadiyah berbeda dalam soal furu', tapi wawasan kebangsaannya dan wawasan keumatannya sama,”

5. Antara GP Anshor dan Pemuda Muhammadiyah

Pak Hasyim sedang menjelaskan sekarang ini persoalan ushul (prinsip) dalam agama lebih sering dibicarakan keluar secara umum, padahal menurut Pak Hasyim, seharusnya persoalan ushul hanya dibicarakan di kalangan ulama saja.

Oleh karenanya terkadang isi pembicaraan dan isu yg berkembang menjadi tidak karuan.

“Ada Pemuda Anshor dan Pemuda Muhammadiyah ribut soal tahlil. Itu apakah sampai atau tidak tahlil itu kepada yg mati? Kata Anshor, ya sampai karena (alasannya) setiap kiriman tidak pernah kembali. Lha ini ngomong apa?” guyon Pak Hasyim.

“Pemuda Muhammadiyah gak terima, dibalas jawab, lha mana tanda buktinya? haha…” cerita Pak Hasyim.

6. Lia Eden dan Mussadeq

“Saya baru diberi tahu oleh polisi. Pak Hasyim, ada org yg mengaku Malaikat Jibril namanya Lia Eden, ada org yg mengaku Nabi Muhammad namanya Musaddeq, dua-duanya ditangkap, dimasukan ke tahanan, lantas ditanya polisi; “Wahai Malaikat Jibril (merujuk ke Lia Eden), pernahkah kamu ketemu Nabi Muhammad ini (sambil nunjuk ke Mussadeq)? Ternyata belum pernah ketemu… hahaha”

“Lha kalau sudah sampai ini pak, ya sudah harus tegas gak usah ragu-ragu, katakan itu bukan Islam…” kata Pak Hasyim.

7. Sandal Orang Kristen

“Saya kan sering dicemooh oleh orang Kristen, bagaimana org Islam ini, wong ibadah kok sandalnya sering hilang,” kata Pak Hasyim. Lantas beliau jawab, “Ya mesti saja (hilang), karena sandalnya gak dipakai, nah sampean sepatunya dipakai (ke gereja), jadi yang hilang ya bukan sepatunya, tapi sepeda motornya yg ilang…hahaha,”

8. Kiai Hasyim Dibohongi Tukang Lampu

Pak Hasyim bercerita kalau di Jepang mereka sangat mengamalkan akhlak-akhlak Islam dibanding di Indonesia yg kadang lebih banyak tidaknya. Kalau ada yg memalsukan kualitet itu langsung ditutup. Sementara di Indonesia ketika di kita keliru terus, beli buah-buahan  katanya manis tapi nyatanya kecut.,” ujar Pak Hasyim.

Kata tukang buah, “sampean cuma beli 2 kg saja rewel, sedangkan saya 2 keranjang gak protes.”

Dan waktu Pak Hasyim membeli lampu bercerita,

“Saya beli di Jln Surabaya itu lampu yg kuno (antik) harganya mahal Rp 2,5 juta, nah kalau yg baru itu cuma seharga Rp 650 ribu.”

“Saya bilang, saya minta yang kuno pak, oh iya pak haji ini tinggal satu yang kuno, setelah diberikan pada saya ternyata kok lampu baru, keliatan sekali kan itu baru cetakan,” cerita Pak Hasyim.

“Lho ini kan baru pak, bukan kuno,” ujar Pak Hasyim pada tukang lampu.

“Haduh sampean ini kok rewel, sampean biarkan sajananti lama-lama kuno sendiri.. ”

“Mati aku,” kata Pak Hasyim. “Wah, ini org belum tau siapa yg beli ini, akhirnya saya bayar 650 ribu,” kata Pak Hasyim cerita ke hadirin.

“Lho pak haji kurang ini uangnya,” kata tukang lampu.

“Ya nanti sisanya kalau sudah kuno…” jawab Pak Hasyim.

Percapakan dengan tukan lampu pun berlanjut.

“Lho bapak dari Sidoarjo?” tanya tukang lampu.

“Bkn, saya dari Malang,” jawab Pak Hasyim.

“Malang mana?” tanya tukang lampu lagi.

“Itu kan di Malang ada Pondok Pesantren Al-Hikam, nah itu pondok saya,” jawab Pak Hasyim.

“Waduh, bapak ini Hasyim Muzadi toh, kenapa bpk gak bilang, bisa kualat saya..” kata tukang lampu.

“Haduh, haduh… ini orang ini takut sama Allah atau sama Hasyim Muzadi ini?” kata Pak Hasyim.

9. Rokok  Surya  16

Pada suatu ketika beliau memerintahkan staf PW.NU Jawa Timur (Zaini) untuk membeli   Rokok Surya 16…berangkat ia mencari toko tokok di sekitar Raya Darmo 96. Di toko rokok itu yang ada hanya Surya 12 dan rokok eceran surya . Karena perintahnya Surya 16 akhirnya tanpa penjang pikir ia belikan Surya 12  ditambah eceran 4 batang. Lengkap surya 16 batang. Sesampainya di KH.Hasyim Muzadi rokoknya diserahkan kepada beliau, Oleh staf itu diberitahu kalau Surya 16nya kosong, tapi dibeilkan Surya 12 ditambah 4 batang eceran. Mendengar jawaban itu beliau tertawa lepas…ha…ha…Wah aku saiki kalah karo Madura (kerena yang disuruh beli orang Madura) tetapi dengan arifnya beliau mengatakan ya memang tidak salah kerena saya yg minta Surya 16…ha..ha….

Demikian sebagian cerita yang humor2 beliau…mungkin teman2 yang lain ada monggo..di share..

Ikuti tulisan menarik Burhan Sholihin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu