Pendidikan dan Kebudayaan, Senjata Pembentuk Karakter - Analisis - www.indonesiana.id
x

Merdeka Lewat Pendidikan Alternatif

Cak Mun

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Pendidikan dan Kebudayaan, Senjata Pembentuk Karakter

    "Mencerdaskan kehidupan bangsa", begitu mantra sakti yang tertulis dalam pembukaan undang-undang dasar 1945. Maka sebagai wujud realisasi, digelarlah ujian

    Dibaca : 1.915 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hampir genap bangsa kita berusia tujuh puluh dua tahun. Bukan waktu yang singkat dalam dinamika pasang-surut sebuah negara. Cerita bermula dari suatu momen yang kita namai dengan istilah proklamasi hingga hari ini kita masih terus mengkaji sejauh mana cita-cita bangsa teralisasi.

    10 April 2017. Bangsa kita sekali lagi menjalankan ritual rutin tahunan itu demi mewujudkan cita-cita kemerdekaan. "Mencerdaskan kehidupan bangsa", begitu mantra sakti yang tertulis dalam pembukaan undang-undang dasar 1945. Maka sebagai wujud realisasi, digelarlah ujian nasional tingkat SMA untuk kesekian kalinya. Di sisi lain, Evaluasi dan pengembangan yang secara terus-menerus dilakukan oleh pemerintah di setiap tahun merupakan bukti kesungguhan usaha untuk membawa pendidikan Indonesia ke arah yang konon lebih baik.

    Karena pendidikan merupakan sesuatu yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Tidak dapat dipungkiri lagi perihal tersebut. Manusia indonesia perlu merasa sangat membutuhkannya demi menghadapi terjangan arus globalisasi yang tidak gampang dewasa ini. Persaingan ekonomi, teknologi, politik bahkan hingga sentimental ras dan agama membutuhkan sebuah wadah yang mampu menaungi segala problematika yang ada. Karenanya pembentukan karakter masyarakat seperti sebuah solusi yang paling realistis demi mempersiapkan manusia Indonesia seutuhnya.

    Bagaimana tidak. Bila mau sedikit membuka mata, akan kita temui fakta bahwa negara kita sudah dipenuhi dengan orang-orang terdidik dan bahkan telah mencapai derajat "cerdas" dalam kehidupan berbangsa sebagaimana yang dicita-citakan para founding fathers. Namun pada akhirnya, yang kita temui dari mereka hari ini adalah justru penanggalan identitas "cerdas" tersebut dengan berbagai tindakan yang sama sekali tidak terpuji.

    Sedikit mengkhawatirkan memang, bila kita mengingat kembali bagaimana deskripsi karakter bangsa Indonesia oleh Mochtar Lubis dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki, 6 April 1977. Manusia Indonesia hari ini, menurutnya merupakan sekumpulan insan yang memiliki ciri-ciri umum sebagai manusia hipokrit, segan dan enggan bertanggung jawab. Memiliki jiwa feodal yang ingin menguasai segalanya.Masih mempercayai takhayul, penokohan, mantera, semboyan dan jimat-jimat baru seperti Tritura, Ampera, orde baru, the rule of law, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang merata dan adil, hingga insan pembangunan. Selain itu, manusia Indonesia juga mempunyai watak yang cenderung lemah. Karakter kurang kuat, sehingga mudah saja menjual pulau dan harga diri negaranya demi sepeser harta.

    Oleh sebab itu, sejak tahun 2010 pemerintah mencanangkan wacana program bernamakan pendidikan berbasis karakter untuk setiap jenjang lembaga pendidikan. Menurut Mendiknas saat itu, Prof. Muhammad Nuh, pembentukan karakter perludilakukan sejak usia dini. Karena Jika karakter sudah terbentuk sejak usia dini,maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang. Ia juga berharap, pendidikankarakter dapat membangun suatu kepribadian bangsa.

    Hakikat pendidikan karakter bukanlah sebatas sebuah proses sederhana menyampaikan materi dari satu kepala ke kepala lain. bukan pula hanya teori kosong kalimat bahwa kejujuran itu baik dan kebohongan itu buruk. Tapi ia merupakan satu bentuk pendidikan yang ditanamkan melalui kebiasaan dalam jangka waktu yang tidak sebentar.

    Sayangnya, apa yang sudah dicanangkan bersama sejak jauh-jauh hari sepertinya masih jauh dari yang kita harapkan bersama. Dr. Adian husaini,dalam catatannya "Pendidikan Karakter, Penting tapi Tak Cukup", menyampaikan bahwa bisa dikatakan, dunia Pendidikan di Indonesia kini sedangmemasuki masa-masa yang sangat pelik. Kucuran anggaran pendidikan yang sangat besardisertai berbagai program terobosan sepertinya belum mampu memecahkan persoalanmendasar dalam dunia pendidikan, yakni bagaimana mencetak alumni pendidikan yangunggul, yang beriman, bertaqwa, profesional, dan berkarakter, sebagaimana tujuan pendidikandalam UU Sistem Pendidikan Nasional.

    Sadar ataupun tidak. Mewujudkan idealisme tinggi semacam ini sebenarnya tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan satu unsur saja.Alih-alih mendukung, faktanya kita lebih sering mengkambing-hitamkan. Ketika melihat remaja mabuk-mabukan di jalan, kita sebut pendidikan karakter kita telah gagal. Kita sebut ada yang salah dengan sistem pendidikan kita. Padahal, membangun karakter bangsa bukanlah semudah membalikan telapak tangan. Problemnya terlampau kompleks untuk dibebankan sendirian ke pundak lembaga pendidikan formal di bawah kementrian.

    Inilah mengapa di dalam bahasa arab diperkenalkan istilah ta'dibdan tarbiyahserta membedakannya dengan istilah tadris dan ta'lim. Sama dalam menunjukan makna pembelajaran, tapi tidak sama dalam proses dan sarana yang ditempuh. Jika tadris dan ta'lim merupakan pendidikan bersifat formal, maka ta'dib dan tarbiyah adalah antitesa utuh darinya. Ia merupakan suatu proses pembelajaran yang didapat dari dalam tubuh masyarakat. Dimulai dari keluarga sebagai lingkungan dan semesta terkecilnya, hingga lingkup ruang kehidupan masyarakat dalam skala lebih luas yang pada suatu tahapan tertentu kita sebut sebagai budaya.

    Ya, budaya. Seharusnya menjadi maklum bahwa budaya akan terlibat dalam proses pembentukan karakter bangsa. karena budaya menurut definisi E.B. Taylor adalah sesuatu yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

    Apapun dan dimanapun itu, ia memiliki sifat dan hakikat yang berlaku secara umum. Salah satu sifat tersebut adalah bahwa kebudayaan selalu mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiaban-kewajiban, tindakan yang diterima dan ditolak, dan yang dilarang dan diizinkan.

    Kluckholn, menyatakan bahwa setidaknya ada tujuh unsur yang merupakan komponen universal dan relatif dalam sebuah budaya. Perlengkapan hidup, mata pencaharian dan ekonomi, sistem masyarakat, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan dan religi. Ketujuh unsur pembangun inilah yang juga seharusnya bersinergi dengan pendidikan berbasis karakter formal milik kementrian.

    Religi dan adat-istiadat yang mencakup sistem memegang peranan paling penting. Terlepas dari pro dan kontra nilai agama sebagai unsur pembentuk kebudayaan, ia telah menjadi acuan pokok berlaku tidaknya suatuaturan hukum di dalam tubuh masyarakat. Sesuatu yang buruk dalam pandangan religi, wajarnya akan dipandang buruk pula oleh masyarakat yang memang sudah dominan memeluk agama tertentu di wilayah tersebut. Terlebih kasusnya untuk bangsa Indonesia, di mana masyarakat beragama seperti telah memiliki komunitas tempat tinggal tersendiri berdasarkan ajaran agama yang dipeluknya.

    Sementara itu, adat-istiadat yang mencakup berbagai sistem ekonomi dan kemasyarakatan, seperti sistem kekerabatan, hukum, organisasi dan lain sebagainya juga tidak kalah penting. Sesuatu yang secara gamblang menyelisihi adat tentulah mendapatkan sorotan yang tajam dari masyarakat sekitar. Adat-istiadat bisa menjadi semacam acuan baik-tidaknya suatu pekerjaan.

    Dengan dua unsurnya inilah, budaya menjadi salah satu senjata bersama pendidikan formal untuk membentuk karakter putra bangsa. Dan dengan melihat pentingnya kedua hal tersebut, menjadi tugas kita untuk terus mendukung dan memperjuangkan. Pendidikan karakter di bawah kementrian, terus kita dukung dengan mengawalnya realisasinya secara seksama. Sementara di sisi lain,keragaman budaya yang terlegitimasi secara norma agama dan adat-istiadat yang menjadi kekuatan kebinekaan kita harus terus dijaga dan dilestarikan sembari terus diajarkan secara non-formal. Meskipun kita tahu arus modernisasi terus saja menggerusi.

    *Oleh: Munandar Harits Wicaksono

    Ikuti tulisan menarik Cak Mun lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.