Rihlah Negeri, Ringkai Nurani

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebuah Dilematis atas kondisi negeri dan setitik peringatan dini demi Tanah Air

Hidup bagaikan gersang,

Yang menari karena gelisah.

Inilah sebab kemarau kerap menjadi benalu ria.

Tapi ingat, hujanpun dapat menjadi bencana.

 

Mungkin akhirnya diri memilih hujan berintik.

Namun dingin dan kelabu akan dikritik.

Kepuasan memang tak pernah bertitik.

Karena kepuasan adalah surganya intrik.

 

Lihat saja yang sudah kaya sejak lahir.

Tetap tak bisa berhenti berisik.

Untuk melukai orang-orang fakir.

Mungkin bukan dengan adu fisik.

Tapi cukup dengan diam tak peduli.

 

Atau lain lagi, dengan insan yang telah berkuasa.

Mulai lupa dengan janji dan sumpah dihadapan Tuhan.

Katanya menjalankan amanat.

Tapi takut kehilangan mandat.

Dulu saat kampanye tak enggan mengelap ingus rakyat.

Sekarang tak sudi walau hanya memberi nasi sesuap.

Karena pikirnya, keluarganya harus sehat, dan kantongnya harus tebal.

Supaya dirinya tak lenyap, tergantikan oleh perubahan selera.

 

Rakyat pun tidak jarang ikut begitu.

Berontak ketika korupsi merajalela.

Memaki ketika fasilitas umum rusak berantakan.

Bahkan berteriak: “mana uang kami, mana hak kami, mana dan mana!!”

Tapi ketika diberikan pemimpin yang berjuang amanat.

Berbalik menyerang karena beda latar belakang.

 

Alasannya demi perbagai pembelaan.

Alasannya demi surga.

Alasannya demi Tuhan.

Tapi alasan sesungguhnya sedang dipermainkan uang.

 

Karena ada yang tidak kedapatan jatah.

Ini bukti ada serupa rakyat tapi kanibal,

mulai merincis bangsa sedikit-demi sedikit,

memakai SARA sebagau bumbu untuk beraksi .

 

Jadi apa arti kepuasan,

jikalau mentari cerah saja dilaknat karena terlalu panas.

Atau hujan dihujat karena terlalu deras.

 

....................................................Sela...............................................

 

Sebuah lagu lirih:

Idihh...idih sengkarut lirih

Anjir..anjir...tergenang pedih

Lirik hidup lupakan mati

Tapi ingat setelah mati tidak mungkin sesunyi peti

 

Kadang-kadang aku berkhayal biadap,

Kalau-kalau aku adalah Tuhan.

Mungkin aku mudah bersabda: “Tumpas!”

Karena bumi sudah terlalu bebal untuk diajar.

Padahal sudah diberikan belas kasihan,

Atau dikabulkan segala asa.

Yang tak jarang dalam takwanya berdoa,

Memohon pemimpin yang berjuang demi rakyat.

 

Ahh, tapi syukur aku bukan Dia,

Karena ku tahu Dia panjang sabar dan setia.

Yang masih sabar menyaksikan kedengkian hati,

Yang masih lemah lembut menghadapi para pencatut nama-Nya,

Yang mengatakan maha rahim dalam tengadah tangan,

Tapi dengan telunjuk mudah ucapkan kafir atas sesama!

 

Tapi aku mulai menangisi negeri,

Karena anak-anak yang murni hatinya, mulai mengikuti.

Generasi penerus yang disisipi benih dengki.

 

.....................................................Sela..............................................

Semua harus diakhiri.

Semua harus berdiri menjaga NKRI.

Jangan sampai akhirnya kita menyesali diri.

Hancur lantak karena kebodohan diri.

Dan Tuhan hanya mampu menggelengkan kepala berkali-kali.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Ridhony Hutasoit

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Pemberdayaan Keluarga dalam Pendidikan Anak

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
img-content

Koperasi Modern, Koperasi Akar Rumput

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler