x

Iklan

Ridhony Hutasoit

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Sebuah Refleksi: Kisah Naruto dan Bait Kedua Indonesia Raya

Komik bisa membawa suatu nilai apalagi lagu kebangsaan pada bait keduanya

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ada  hal yang unik dalam pemberitaan tentang dialog secara tidak langsung antara Presiden RI dengan seorang anak. Hal ini diawali dengan undangan Presiden RI untuk setiap anak negeri bertanya apapun kepada Presiden RI. Ada satu anak yang menarik dalam mengajukan pertanyaan. Anak ini bukan bertanya seputar permasalahan yang terjadi di Indonesia, melainkan suatu pertanyaan lucu nan polos berkaitan dengan salah satu komik jepang (manga) yang terkenal berjudul “Naruto”. Pertanyaan sederhana dari anak bangsa kepada Presidennya adalah “Siapa hokage kedelapan?”.

Saya akan menceritakan ringkas komik terkenal yang berepisode 700 ini. Alkisah ada seorang anak bernama Naruto. Di dalam tubuh Naruto disegel siluman rubah ekor sembilan. Siluman ini berwujud raksasa dan memiliki kekuatan menghancurkan yang besar. Siluman ini juga yang menyebabkan kedua orang tua Naruto mati demi melindungi desanya. Naruto menjadi yatim piatu dan dikucilkan di desanya, karena mereka takut kalau-kalau siluman itu lepas dari tubuhnya. Mereka menganggap Naruto sebagai ancaman.

Karena kebutuhan perhatian dalam dirinya, Naruto suka berbuat onar, dan orang-orang desa semakin tidak suka dengan dirinya. Hal yang menarik adalah Naruto bercita-cita menjadi Hokage. Hokage adalah pemimpin desa Konohagakure. Hokage dipilih dari ninja (shinobi) terkuat. Naruto dianggap lemah dan tidak berbakat menjadi ninja. Saat itu Konoha adalah desa ninja yang disegani di dunia perninjaan dalam komik ini. Maka tak heran, cita-cita naruto menjadi bahan olok-olok masyarakat desa itu. Naruto tidak patah arang. Kegigihannya menjawab apa yang diimpikannya.  Dia menjadi penyelamat dunia dan shinobi terkuat di desa itu. Bahkan siluman ekor sembilan bernama Kurama yang ada di dalam tubuhnya dapat Ia pakai sebagai alat untuk menyelamatkan desa yang pernah “membuangnya”. Dari sisi kepemimpinannya, Naruto mampu menghimpun segala kekuatan seantero dunia ninja untuk melawan penjahat di balik layar mahakuat yang hendak mengendalikan dunia. Di akhir cerita, Naruto bukan hanya menjadi hokage ketujuh melainkan pahlawan dunia shinobi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Indonesia memiliki banyak anak muda saat ini. Berdasarkan data dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), jumlah penduduk Indonesia per 30 Juni 2016 adalah 257.912.349 jiwa. Dalam Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035, Badan Pusat Statistik, Indonesia akan menerima bonus demografi. Dalam proyeksi tersebut dinyatakan proporsi anak-anak berumur 0-14 tahun turun dari 28,6 persen pada tahun 2010 menjadi 21,5 persen pada tahun 2035. Dalam kurun waktu yang sama, mereka yang dalam usia kerja, 15-64 tahun meningkat dari 66,5 persen menjadi 67,9 persen dan mereka yang berusia 65 tahun ke atas naik dari 5,0 persen menjadi 10,6 persen. Perubahan susunan ini mengakibatkan beban ketergantungan (dependency ratio) turun dari 50,5 persen pada tahun 2010 menjadi 47,3 persen pada tahun 2035. Artinya, pada periode tersebut Indonesia akan memeroleh kelimpahan usia produktif, mungkin dapat mencapai 80% usia produktif. Maka saat ini adalah saat emas untuk menggerakkan dan mendulang segala potensi yang dimilik anak negeri untuk menjadi pribadi yang berkontribusi lebih bagi pembangunan Indonesia.

Namun kondisi saat ini diperhadapkan dengan masa yang lain. Arogansi politik akan kekuasaan menyudutkan generasi penerus bangsa pada pencekalan-pencekalan persepsi. Pencekalan-pencekalan persepsi ini berupa pembatasan ruang gerak untuk generasi penerus bangsa ini berkembang dan bermanfaat, salah satunya menjadi pemimpin negeri. Indonesia saat ini sedang dihadang oleh satu paradigma bahwa tidak mungkin seorang kepala daerah berasal dari golongan bukan mayoritas, apalagi menjadi “hokage” negeri ini, yaitu Presiden. Sebenarnya di dunia birokrasi dan pendidikan hal ini ada dan sangat halus dimainkan, namun paradigma ini makin kuat sejak Pilkada DKI, apalagi makin kental ketika putusan bersalah pada sesorang yang “katanya” berasal dari minoritas dikukuhkan oleh pengadilan. Maka tidak heran, curahan-curahan hati anak negeri di luar negeri untuk tidak kembali ke tanah air, atau bahkan yang sedang di dalam negeri untuk hijrah mencari ibu pertiwi lain mulai kuat terdengar di sana-sini. Bahkan yang sedang dipenjara kini, sudah didesasdesuskan tidak mau menjadi pemimpin negeri lagi, karena sudah kapok menikmati kengerian berjuang dalam politik di negeri sendiri.

Ah, jikalau ada saja anak bangsa seperti Naruto, yang terbatas namun gigih memperjuangkan cita-citanya, kemudian akhirnya mimpinya terhempas lepas karena satu persepsi terbatas tadi, apa jadinya bangsa ini di kemudian hari? Jangan-jangan untuk bermimpi menjadi pemimpin negeri ini pun, sebagian generasi mendatang mulai kehilangan daya, karena mereka menyaksikan sendiri sejarah persatuan negeri dan seleksi kepemimpinan dikalahkan oleh pembodohan masif yang acap-acap mengatasnamakan Tuhan dan surganya sebagai legitimasi. Atau, pertumbuhan diri anak bangsa menjadi kerdil karena masih berkubang pada isu SARA dalam mengelola tanah air, padahal negara-negara lain sudah terbang ke bulan dan mencari kehidupan di luar bumi. Mungkin inilah alasan W. R Supratman menuliskan lirik dalam bait kedua Indonesia Raya yang diguratkan seperti ini:

Indonesia, tanah yang mulia,

Tanah kita yang kaya,

Di sanalah aku berdiri,

Untuk s’lama-lamanya.

 

Indonesia, tanah pusaka,

P’saka kita semuanya,

Marilah kita mendoa,

Indonesia bahagia.

 

Ref:

Suburlah tanahnya,

Suburlah jiwanya,

Bangsanya, Rakyatnya, semuanya,

Sadarlah hatinya,

Sadarlah budinya,

Untuk Indonesia Raya.

Dalam pemahaman sejarah kemerdekaan Indonesia yang saya baca, bukankah konsepsi NKRI tidak mendikotomi warganya menjadi mayoritas dan minoritas? Bukankan kita semua memiliki identitas yang sama sebagai warga negara Indonesia? Bukankah ini juga yang diperjuangkan oleh para pendiri dan pahlawan bangsa ini sejak awal, bahkan puncaknya ketika membahas dan menetapkan Pancasila sebagai dasar negara, khususnya ketika merevisi sila pertama yang berbasiskan agama tertentu, menjadi dapat diterima umum untuk dapat menyatukan seluruh keberagaman dalam negara ini?

Maka saatnya kini, kita harus membangkitkan kesadaran hati dan budi seluruh komponen bangsa, seperti seruan dalam bait kedua Indonesia raya tadi. Demi merealisasikan paradigma hakiki bahwa tidak ada satupun komponen dalam SARA yang dapat menghalangi diri untuk berkarya lebih bagi negeri. Demi memulihkan sebagian anak negeri yang tersakiti hatinya sehingga enggan kembali atau pergi lari karena situasi politik yang makin mengesankan perpecahan dan kepentingan diri. Dan menggerakkan seluruh insan Indonesia untuk terus memiliki semangat juang dan merasa percaya diri bahwa terbuka ruang atas segala peluang menjadi seorang pemimpin demi Indonesia sejahtera dan bebas korupsi. Siapa tahu kelak ada anak negeri yang bukan hanya menjadi pemimpin bangsa, melainkan mengangkat harkat Indonesia lebih lagi, seperti menjadi tokoh dunia yang disegani.

(Sumber Gambar: www.devianart.net)

Ikuti tulisan menarik Ridhony Hutasoit lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu