Refleksi butir-butir Pancasila dalam perjuangan hak PRT

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Nilai-nilai Pancasila itu perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan cuma menjadi bacaan dan hapalan

Refleksi butir-butir Pancasila dalam perjuangan hak PRT

Apa yang paling kamu ingat jika mendengar PMP?

Kalau aku, ya bu guru Sri yang mengajariku saat SMP. Beliau guru yang paling keren. Bagaimana tidak, jika guru-guru lain hanya berseragam biasa, rok atau celana panjang, siapa yang menyangka kalau beliau menciptakan trendnya sendiri. Berkebaya lengkap dengan sanggulnya. Di jaman itu, bu Sri selalu tampil ayu dan klasik, spesial pokoknya. Bu Sri itu PMP banget. PMP ya bu Sri.

Siapa yang paling suka ulangan PMP?

Nah....ini pelajaran susah-susah menjebak kan. Hayoo....siapa yang masih ingat kalau waktu ulangan pelajaran PMP menggunakan pedoman cari “kalimat yang paling panjang dan isinya baik-baik” sebagai jawaban? Saya termasuk kelompok yang percaya kalau pedoman itu memberikan jawaban yang benar. Hehehe.....jadi teringat berapa puluh tahun lalu belajar PMP, Pendidikan Moral Pancasila. Sampai-sampai tercetus, kalau belajar PMP bisa mencetak orang “baik-baik”.

Beberapa waktu terakhir ini kita melihat banyaknya berita yang menyayat hati, ragam kejadian sepertinya sudah tidak memperdulikan orang lain, saling tonjok sana sini. Sampai-sampai banyak himbauan, saran bahkan isi pesan melalui medsos, menyerukan kita untuk kembali mendalami Pancasila. Mencintai Pancasila. Belajar Pancasila. Menganti photo profile dengan gambar Pancasila. Pokoknya menjadi #PekanPancasila seperti yang banyak dilakukan teman-teman di dunia maya. Lantas, apakah kita benar-benar sudah tidak mengenal apa itu Pancasila?

Saya juga bukan orang yang baik (terus), tidak pernah salah (gak mungkin lah ya), tetapi setidak-tidaknya, pernah belajar isi Pancasila dan masih menganggap bahwa Pancaila itu nilai luhur yang harus diwujudkan, bukan sekedar tertulis dalam buku. Bahkan kalau boleh meminjam istilah seorang teman, “Pancasila itu tujuan hidup orang Indonesia” lho....bukan cuma deretan kalimat yang dibaca saat upacara bendera. Gue setuju banget, Pancasila itu tujuan kita. Ya kitalah orang Indonesia, masa orang dari negara lain. Jadi, walaupun belum 100% terwujud, setidaknya kita bersama menuju kesana.

Saat diminta mengisi sebuah artikel majalah sebuah organisasi perempuan, saya diberi topik mengenai pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Nah lho, ini tantangan, mudah untuk diucapkan, apakah juga mudah dilakukan sekaligus dituliskan? Saya merenungkan topik ini selama beberapa saat, dan menariknya justru ide lanjutannya berasal dari PRT. Ya, Pekerja Rumah Tangga, mereka yang biasa berada di sekeliling kita dan sangat membantu kelancaran kehidupan kita selama ini. Bagi sebagian orang masih menyebut pembantu. Tapi, kami mulai menggunakan istilah Pekerja dengan sebuah tujuan yaitu memperkenalkan bahwa PRT adalah pekerjaan bukan hanya sekedar tindakan bantu-membantu. Memberikan penghargaan bahwa PRT adalah profesi, bentuk pekerjaan, merupakan sikap yang ingin dibangun, bahwa ada banyak orang yang menggantungkan nasibnya dengan melakukan pekerjaan ini.

Kehidupan sebagian keluarga tidak lepas dari kehadiran PRT. Sebanyak 10 juta orang, bekerja di sektor ini (berdasarkan data JALA tahun 2009). Beragam cerita dan kisahnya tentang hubungan keluarga dan PRTnya, tetap menampilkan perlunya kehadiran PRT di hari-hari yang dilalui. Relasi yang terjadi sangat variatif. Ada yang kekeluargaan (banget) karena sudah bekerja puluhan tahun bahkan sudah sampai 2 turunan, atau ada yang sangat rumit karena terus menerus beradaptasi dengan PRT yang berganti-ganti. Tebak, saya termasuk kelompok yang mana?

Membangun komunikasi dan mendudukan hubungan kerja dengan PRT saat ini juga telah mengalami pergeseran. Jika dulu tidak ada yang namanya kontrak, perjanjian atau ikatan kerja yang dilakukan, saat ini makin banyak PRT yang meminta kesepakatan diawal dan mengajukan apa-apa yang dianggap sebagai Hak dan Kewajibannya. Terlebih jika kita mengambil jasa PRT dari perusahaan/ PT/ agen tenaga kerja. Wah, persyaratannya juga banyak dan berbayar mahal juga. Di kota ini saja, uang administrasi yang harus diberikan calon pemberi kerja sudah sekitar 750ribu (itu 2 tahun lalu), kalau di Jabodetabek, pastilah lebih mahal (menurut informasi dari beberapa laman web agen penyalur), bisa mencapai 2jutaan.

Persoalan kontrak ini juga termasuk salah satu yang digagas kelompok/ organisasi/ serikat PRT yang mulai tumbuh di beberapa kota. Ada di Yogya, Semarang, Jakarta, Makassar dan Lampung yang mulai memperkenalkan kontrak kerja sebagai pelindung para PRT dalam memulai kerja di rumah atau pemberi kerjanya. Bagi yang tidak atau belum terbiasa, pasti bertanya, apa perlunya sebuah kontrak bagi PRT? Toh biasa saja pekerjaan mereka. Tapi bagi para PRT, kontrak ini dapat menunjukkan keberpihakan pada dirinya agar mempunyai aturan yang jelas. Jelas menunjukkan tugas yang harus dilakukan termasuk apa-apa saya yang bisa didapatkan sebagai Haknya. Inilah bentuk penghargaan akan keberadaan mereka.

 

Bagi yang belum menggunakan sistem kontrak, sebenarnya sudah menerapkan perjanjian diawal kerja dengan cara lisan. Ini juga bentuk perjanjian, hanya saja sifatnya “cair”, bisa lupa atau berubah karena tidak dituliskan. Kedua belah pihak bisa mempunyai persepsi yang berbeda. Yah, kita sedang bertransformasi, dari cara lisan menuju tertulis sebagai bukti dan pegangan bagi keduanya. Contoh saja, menerapkan waktu libur/ cuti, jika tertulis kan mudah mengingatnya. Kalau terlanjur hanya ucapan, ada lupanya, atau salah mengartikan ucapan saat itu, wah, susah melacaknya.

Masih dalam suasana menggaungkan Pancasila, saya teringat butir-butir yang masuk dalam pengalaman sila Kedua. Seingat saya, jika berhubungan dengan orang lain, itu masuk dalam sila Kedua. Pas sekali pada hari ini semua orang digerakkan untuk mengingat, mencintai dan lebih-lebih untuk memulai kembali membiasakan sifat-sifat baik kepada orang lain. Termasuk sikap untuk “Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia, mengembangkan sikap tenggang rasa, tidak semena-mena terhadap orang lain dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan”. Bukanlah terasa hangat dan nyaman dalam kehidupan kita melakukan dan mendapat perlakuan ini semua? Bisa kan kita melakukan hal ini kepada siapa saja? Termasuk para PRT yang ada dirumah-rumah kita dan sekeliling kita?

Jadi, benar kata Ibu Sri waktu itu, bahwa belajar PMP itu bukan mencentang jawaban ulangan dengan benar, tapi yo dipraktekno. Nilai-nilai itu sangat bisa diterapkan pada PRT yang ada di rumah kita. Bagi yang tidak mempunyai PRT, bisa juga mulai memberikan perhatian jika ada kasus-kasus yang terjadi pada mereka. Banyak kasus PRT tidak terpecahkan karena tidak ada yang peduli dan membantu. Kita bisa membagi perhatian dan bantuan untuk mereka juga. Sebagai majikan, kita bisa juga mengembangan tepo seliro pada mereka kan, bukan karena sudah kita bayar honor/upahnya, lantas bisa kita memperlakukan semena-mena.  Yah,.....masih banyak sebenarnya yang bisa kita lakukan. Supaya jadi pr kita semua, yuk kita kembangkan nilai-nilai luhur Pancasila itu dalam keseharian kita. Ora mung ngomong tok, ayo dipraktekno (tidak hanya bicara saja, tetapi dilakukan).

Semoga hari ini, menjadi energi baru untuk kita melakukan nilai-nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, bagi setiap orang, termasuk para Pekerja Rumah Tangga (PRT). Salam hormat untuk para aktivis, pendamping dan semua pihak yang berjuang untuk penghargaan dan persamaan hak para Pekerja Rumah Tangga di Indonesia. (mcb) 

Selamat hari kelahiran Pancasila!

 

#pengamalansilakedua

#kemanusiaan yang adil dan beradab

#stopprta

#prtadalahpekerja

#kerjalayakprt

 

 sumber foto: 

http://www.teropongsenayan.com/38212-anggota-komisi-x-minta-pelajaran-pmp-dan-penataran-p4-dihidupkan

 

 

 

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
JARAK STOP PEKERJA ANAK

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua