Film 'Impossible Dream' yang Mendobrak Kesadaran PRT

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Media film dapat menjadi sumber belajar untuk kader PRT dalam mengenali jenis-jenis kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

Di siang itu, para ibu yang sebagian besar adalah kader penggerak kelompok PRT di Malang Raya sedang menonton film kartun. Tidak seperti film hiburan di televisi, tokoh dalam film itu sedang menunjukkan beberapa aktivitas biasa, sangat biasa, seperti keseharian selama ini.

.....seorang ibu sedang memasak, dibantu anak perempuannya

.....seorang bapak persiapan berangkat kerja

......seorang perempuan mendapat siulan dari para lelaki saat berjalan

......anak perempuan yang membantu membereskan perlengkapan makan

......anak laki-laki yang menonton televisi

Oooh, ada juga gambaran tentang “upah tenaga kerja perempuan yang diberikan lebih murah/ sedikit dibanding pekerja laki-laki.”

Inilah gambaran ketidakadilan pada jenis kelamin tertentu (maksudnya: perempuan) yang masih terjadi, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di banyak negara. Film yang merupakan media kampanye UN ini berdurasi 8 menit saja, tetapi mampu menjadi pendobrak kesadaran para kader PRT. Mereka dipaparkan beberapa kejadian yang selama ini dianggap wajar oleh masyarakat dan mereka menerima semua perlakuan tersebut tanpa bertanya, mengapa kami (perempuan) yang harus mengalaminya?

Hingga saat ini, fenomena seperti tayangan diatas masih dirasakan mereka, ya para PRT ini. Banyaknya perempuan yang dianggap lemah, sehingga posisi perempuan sepertinya hanya condong pada melakukan pekerjaan domestik, melayani keluarga, tidak punya akses layanan seperti pendidikan, menjadi tipikal perempuan. Bahkan, saat melakoni pekerjaan sebagai PRT, itu dianggap karena kodratnya perempuan, maka layaklah bekerja di sektor itu dan menerima upah seadanya dan siap-siap menerima kekerasan sebagai sanksi bila melakukan kesalahan.

Film kartun ini membuka mata hati para PRT, itulah yang dinamakan ketidakadilan gender dan ragam bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kalau selama ini mereka tidak mengerti ada istilah ketidakadilan gender atau KDRT, itu karena memang belum ada forum belajar untuk para PRT sebelum pendampingan dan pengorganisasian PRT. Jadi, pengorganisasian PRT ini memang sudah tepat sebagai wadah perjuangan karena selalu dikuatkan dengan pengetahuan yang belum pernah diterima selama ini.  

Setelah melakukan proses pembelajaran yang interaktif, para PRT menjadi memahami ternyata tidak semua perlakuan itu, bisa dianggap wajar, karena nyatanya hal-hal tersebut adalah bentuk kekerasan karena pemahaman yang tidak tepat. Kini, para PRT bisa membedakan apa yang dinamakan kekerasan verbal/ psikologis, fisik dan seksual beserta contohnya.

Ketidakadilan gender memberikan dampak buruk (utamanya) terhadap perempuan, termasuk anak perempuan. Hal ini disebabkan masih kuatnya paham patriarki yang melekat pada masyarakat, sehingga perempuan dianggap harus tunduk pada laki-laki. Banyak hal yang oleh masyarakat itu diturunkan/dibiasakan/diajarkan untuk terus dilestarikan yang ternyata sudah tidak sesuai dengan keadaan jaman. Jika dulu, anak perempuan dianggap bukan bukan pencari nafkah sehingga masa depannya paling hanya dirumah sehingga tidak punya akses ke sekolah dan lebih membiasakan melakukan pekerjaan di dalam rumah saja. Kini, masa depan itu milik anak laki-laki dan perempuan, maka saatnya akses ke sekolah haruslah dibuka lebar baik bagi mereka.

Mengapa para PRT perlu mengerti apa itu ketidakadilan gender? Apa pentingnya untuk mereka? Apakah kalau sudah mendapatkan pelatihan kesetaraan gender, lantas mereka dihargai? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting untuk dijawab karena materi yang disampaikan kepada kader PRT haruslah memberi manfaat dan penguatan pada pribadinya. Kader PRT menjadi “corong” potensial untuk membukakan persepsi anggota kelompoknya. Termasuk, mengenali apa-apa saja yang selama ini terjadi dan masuk dalam kategori kekerasan sebagai bentuk ketidakadilan gender. Dengan demikian, makin banyak PRT tersadar untuk tidak diam bila mengalami perlakuan kekerasan. Sudah saatnya, berbagai perlakuan buruk itu dihentikan dan PRT menjadi agen untuk berubah baik pemikiran, sikap dan perilaku secara nyata.

Sudah bukan jamannya, perlakuan, sikap dan pemikiran kita dibedakan-bedakan karena jenis kelamin, apalagi menguncinya seolah-olah itu kodrat, sesuatu yang berasal dari Tuhan. Laki-laki dan perempuan adalah mahluk yang saling melengkapi. Memang berbeda, tapi bukan untuk dibeda-bedakan. Laki-laki dan perempuan punya kesempatan yang sama dan berhak diterima dengan hormat (respek). Bukan hanya memberi respek pada jenis kelamin tertentu.

PRT menjadi agen penting untuk melakukan perubahan. PRT juga ada yang berperan dalam pengasuhan keluarga pemberi kerja, terlebih sangat mungkin diterapkan pada keluarganya masing-masing mengenai kesetaraan gender ini. Ketidakadilan gender tidak boleh dilestarikan, karena kalau terus dilakukan hanya akan membuat kekerasan berulang. Wawasan dan pengetahuan baru sudah didapatkan para kader PRT, kini saatnya menerapkan pola-pola interaksi yang adil gender.

Dituliskan oleh Ulifah, seorang CO yang mendampingi kelompok Pekerja Rumah Tangga di Malang.

sumber film:

https://www.youtube.com/watch?v=t2JBPBIFR2Y

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
JARAK STOP PEKERJA ANAK

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua