x

Iklan

Luhur Pambudi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Mereka yang Membaca dan Menulis Sajaknya

Diperuntukkan untuk mereka yang tak sungkan menoleh kebelakang,membaca dan memahami sejarah, dirinya

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Memang benar andaikan Chairil Anwar hidup dijaman yang lebih baru, kata Gunawan Muhamad, lebih baik ia jangan menulis sajak. Esai dari rubrik catatan pinggir tanggal 1 Februari 1986 itu membuat saya berdecak sekaligus bergeming, tentang seorang penyair, cendikia dan aktivis harus mewarnai zamannya demi terwujudnya peradaban yang bergerak pelan nanti dimasa yang akan datang, meski harus terserat dari kanan ke kiri, bahkan sebaliknya.

Membaca Muhamad Yamin atau Haji Oemar Said Tjokroaminoto di edisi dan majalah yang sama, pergulantan zaman yang mengerutkan kerah leher kemeja suatu bangsa kental sekali dengan pergulatan politik, manifesto, mobilisasi massa, pemikiran dan kepalan tangan, progresifitas dan ideologi. Tapi lain diedisi yang paling baru, tempo, mengisahkan sekelumit kisah tentang romantisme kepahlawanan di sempat menjadi renda-renda hiasan pra atau paska kemerdekaan, yang sepertinya menjadi tak lagi menarik untuk didongengkan kepada adik-adik, anak-anak, cucu cucu kita di era serba kilat dan cepat seperti sekarang. Bahwa pertengkaran yang mengukuhkan harga diri seorang inlander terhadap tanah airnya, juga diwarnai perlawanan secara heroik melalui ide, gagasan dan pemikiran yang tertuang menggunakan pena, dalam medium kertas dan tegangan urat syaraf kontemplasi dibalik meja. Bahasa, menulis dan karya sastra menempati posisinya sendiri dibalik dalam kancah itu, setelah nyaris dianggap tak lebih penting, selain menganggkat popor senapan, parang dan bambu runcing.

Sastra belakangan mereka menyebutnya, Chairil seorang yang memberikan udara segar baru dari kosakata bahasa Indonesia, entah karena kosakata yang ada ketika itu tak mampu atau cukup terbatas sebagaai bahan baku membahasakan realitas. Atau karena unsur magis yang angker tentang kosakata asing yang diindonesiakan paksa, nyaris mustahil tapi sarat makna, dari seorang yang sering kali menginterupsi  forum diskusi pamannya, Sjutan Sjahrir, hanya untuk meminta sebatangduabatang cerutu. Mana kiranya yang benar-benar mungkin dari kekuatan menulis dan karakter penggunaan kata sajak-sajak Chairil Anwar.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apalah itu Chairil Anwar, hari ini kita kembali membacanya, telah terbukti benar memberikan sumbangsih pada kemajuan peradaban melalui kekayaan bahasa negara ini. Sjuman Djaya pernah mencoba menulis skenario panjang yang begitu detail menerangkan seluk beluk, pernak pernih kehidupan sastrawan angkatan 45 secara otentik. Naska rampung, deratan daftar aktor dan aktris yang siap memainkan peran di film tersebut tercatat jelas, tapi Tuhan tak berkenan lebih dari itu.

Tuhan lebih berkenan jika naskah itu tetap menjadi naskah skenario yang dibukukan, tanpa harus berlanjut hingga menjadi sebuah tayangan film tentang Chairil lengkap beserta kisah-kisah sang sastrawan, dan tanpa lagi misteri tentang hidupnya. Sjuman Djaya berpulang dengan misinya yang tak rampung ia pungkaskan, untuk menguak rasa penasaran publik terhadap sosok ceking, bermata merah seperti kurang tidur dan aroma nafas tembakau.

Chairil tetap menjadi misteri, dari tahun 1945 hingga di tahun 2017 kini. Menarik jika kita ragukan Sjuman Djaya, tentang bagaimana ia menulis seotentik itu, tentu dengan kecermatan menangkap fakta dan begitu kayanya literasi ulasan yang ia kumpulkan, sampai-sampai menghilangkan buku dan beberapa lembar catatan tulisan tangan dari ayahnya yang disimpan oleh Evawani, anak perempuan Chairil, setelah mendengar kabar Sjuman Djaya wafat dengan gegap gempita prestasi perfilman dan dunia seni Indonesia yang pernah almarhum torehkan.

Diberi judul “Aku” skenario panjang itu akhirnya menjadi buku, hanya untuk dibaca entah kapan tiba suatu saat benar-benar akan dihidupkan lewat layar kaca. Tulisan berisi konteks realita, sejarah, sosok, identitas, pemikiran yang tak sama sekeli diam, mati dan membeku, apakah benar tetap menjadi tulisan. Lalu untuk apa jika tulisan berhenti sebagai tulisan, jika hal yang dituliskan adalah sebuah situasi atau konteks yang pernah hidup entah kapan itu. Sepertinya tulisan adalah hidup, begitu pula sebaliknya konteks juga bagian dari tulisan itu sendiri. Berarti tulisan adalah mencakup kesemuanya saya pikir, tanpa terkecuali untuk menandaskan bahwa konteks sebenarnya, adalah tulisan.

Jacques Derrida memulai ini sebuah dengan membongkar, entah diartikan merusak, itu terserah saja, namun yang lebih penting adalah sampailah kita dipemahaman paling dalam, substansial, asalai, dan asasi. Apa menariknya. Tulisan tetap saja entitas yanga tak bergerak, mustahil untuk bisa hidup, tapi  apakah si penulis benar-benar menginginkan tulisannya itu tetap mati, tak bergerak setelah dibukukan, diterbitkan dan diperbanyak rimbuan eksemplar.

Tak lagi penting, andaikata kita bantah disertasi dari Putu Wijaya tentang konsep besar mengenai apa itu tulisan yang bagus. Bahwa akhirnya di sisa-sisa kekuatan fisik tubuhnya, yang separuh mati dan separuh hidup akibat penyakit stroke, disebuah diskusi. Sastrawan yang mengakui jika dirinya tidak suka membaca buku itu menandaskan, jika tulisan yang bagus adalah yang gak rumit untuk dipentaskan. Lalu bagaimana peran bahasa? Akhirnya dapat dipentaskan ketika bahasa itu telah berhenti sampai pada makna asalinya, hingga memutuskan agar upaya mematerialisasikan bahasa ini menjadi lebih hidup, dipilihkan sebuah setting pementasan. Karena bahasa sepertinya terbatas oleh pengetahuan mereka yang membaca. Dan kenampakkan visual cukup membantu agar pesan dari bahasa yang berjibaku oleh penulis susun kalimatnya tak sia-sia, untuk dipahami mereka yang membaca.

Berarti benar dong jika bahasa itu tak bergerak alias mati? Siapa yang berani memastikan jika puisi dan sajak romantisme mengharu biru dan beraliran humanisme universal, dipahami sama oleh mereka yang membaca, sebagaimana pemahaman yang diinginkan si penulis. Salah salah, sajak itu justru diartikan sebaliknya, entah sebagai sajak pembunuhan, bunuh diri, atau sajak orang gila akibat ditingkal nikah oleh sesosok orang yang menjadi objek rerasan  didalam sajak romantisme itu. Siapa yang berani dan bisa memastikan.

Atas keterbatasan bahasa, si penulis menyadari jika itu butuh unsur magis dari kosakata yang ia pilih untuk menyusun kaliamt-kalimat yang sekiranya mampu mewakili letupan-letupan ide neuron di otaknya. Untuk apa? untuk mengantisipasi keterbatasan bahasa yang rentan disalahartikan oleh mereka yang membaca. Derrida tak bergeming dengan kompleksitas bahasa, bahwa tulisanpun pada akhirnya kembali lagi pada bagaimana mereka yang membaca menangkap “apa”. “Apa” disini bisa saja pesan, tanda, kisah, makna, himbauan. Sapardi Djoko Damono memberikan sedikit kewaspadaan untuk mereka yang sedang menulis karena itikad ilmiah atau itikad sastra, yang ternyata ada ceruk besar yang membedakan dalam penggunaan dan pemilihan bahasa. Pemilihan kata yang presisi untuk tulisan ilmiah adalah pertaruhan paling penting ketimbang pemilihan kata ambigu yang khas, kadang bermajas, kita kenali dalam karya sastra; maka tak ada jang membalas/menggema suara/irama bagi njanji angin, sajak charil Anwar tanpa judul, tanpa tanda akhir pemungkas sajak, belum pernah terpublish dan ditemukan masih dalam tulisan tangan.

Menulis puisi, sajak, atau prosa tanpa harus mengabstraksikan atau mengandaikan akan dibaca dengan penggalan kalimat dan nada suara yang bagaimana, tak lagi penting bagi mereka yang menulis. Bagi mereka yang membaca, ucapan selamat layak saya haturkan kepada anda, yang memperoleh kesempatan menafsirkan sesuka hati, sekuat nalar dan setajam intuisi. Hanya saja, bersiaplah untuk merasakan sensasi rasa kebingungan saat membaca tulisan mereka yang hanya mau menulis, tanpa mau dikritik atau sekedar membaca karya orang lain.

Ikuti tulisan menarik Luhur Pambudi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler