x

Iklan

Denny Galus

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Deforestasi dan Ancaman Musnahnya Kehidupan

Pembabatan hutan yang menjamur di seluruh pelosok negeri membawa dampak bukan saja bagi ketidakseimbangan ekosistem melainkan juga pada musnahnya peradaban

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pertanyaan yang paling menukik berkenaan dengan hilangnya kekayaan hutan Indonesia adalah, seberapa banyakkah hutan yang masih tersisa di tanah air?

Sungguh sebuah kenyataan yang mencemaskan bahwasannya dalam dua dekade terakhir, Indonesia telah kehilangan sebagian dari kawasan hutannya. Buku laporan State of the World’s Forests, FAO (Food and Agricultural Organization) melaporkan bahwa dalam rentang waktu 2000-2005, laju kerusakan hutan Indonesia telah mencapai 1,87 juta hektare. Kegagalan ini mengantar Indonesia pada peringkat ke-2 dari sepuluh negara, dengan laju kerusakan hutan tertinggi di dunia.

Data miris kembali tersaji di hadapan kita tatkala 10 tahun berikutnya. Pada 2015 terjadi kebakaran hutan dan lahan yang paling dahsyat,  yang membakar daerah seluas empat setengah kali ukuran Pulau Bali dan menyebabkan kerugian negara hingga Rp 211 triliun, belum terhitung dampak kesehatan dan sosial yang ditimbulkan. Inilah wajah Indonesia yang katanya negeri yang kaya akan susu dan madu. Berhadapan dengan kenyataan pahit ini, lantas kita serentak bertanya, mungkinkah orang Indonesia seserakah itu hingga rumahnya sendiri tega dibakar habis-habisan?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sistem pertanian yang berpindah-pindah ditambah lagi dengan aktus pembakaran hutan yang meningkat tiap tahunnya, disinyalir memicu terjadinya kerusakan hutan di tanah air. Sementara itu, dari pihak pemerintah, pemberian lisensi kepada perusahaan transnasional untuk mengembangkan tanaman Industri baru seperti karet, kelapa sawit dan bubur kertas turut memberi kontribusi bagi kerusakan hutan.

Mungkin bagi kita kehilangan hutan hanya akan memberi dampak bagi berkurangnya air atau meningkatnya pemanasan global. Akan tetapi, kehilangan hutan berarti pula musnahnya peradaban manusia khususnya peradaban manusia Indonesia. Sudah terlalu sering di tanah air ini, kita mendengar bahwa rakyat Indonesia membangun peradaban dan menunjang kehidupannya melalui pertemanannya dengan alam. Kita bukanlah orang Eropa yang seluruh kehidupannya, didasarkan pada hasil Industri.

Kita sesungguhnya adalah orang Indonesia yang menggantungkan seluruh kehidupan kita pada kemurahan alam. Dari alam itulah kita hidup dan dari alam itulah kita dapat bertahan. Dengan demikian, jelas bahwa kehilangan hutan bagi kita orang Indonesia seharusnya juga adalah kehilangan peradaban. Lihatlah di ujung tanah Papua sana, bagaimana orang begitu berdamai dengan alam atau cara hidup tradisional orang dayak yang mengembangkan hidupnya dengan mengolah hutan.

Kehilangan hutan bagi mereka adalah kehilangan hidup sebab dari mana lagi saudara kita ini dapat memperoleh hidup kalau alam saja yang menjaminnya telah dibabat habis-habisan. Dalam refleksi yang lebih jauh, hutan sesungguhnya pula adalah bagian dari masyarakat. Indonesia dalam kenyataannya adalah bangsa yang memilki ragam budaya yang plural. Setiap ragam budaya memiliki keunikan masing-masing, namun dalam keberagaman itu, satu hal yang pasti bahwa, semua ragam budaya menempatkan alam dalam posisi yang sejajar dengan manusia.

Hutan menjadi tempat di mana ritus-ritus adat biasanya dilakukan dan dengannya pelestarian hutan adalah juga pelestarian adat sebaliknya penggundulan hutan merupakan pemusnahan secara paksa atas kekayaan khazanah budaya tanah air. Tambahan pula, Peradaban kita orang Indonesia sebagian besar dibangun melaui pertanian.

Nah, kalau lahan hutan dialihkan menjadi tempat pembangunan lahan industri atau tempat bertumbuhnya benih yang berorientasi pada kebutuhan pasar global, maka perlahan-lahan arah hidup orang Indonesia beralih dari pertanian ke industri. Persoalannya bukan pada anggapan bahwa sektor Industri lebih menguntungkan dari pada sektor pertanian.

Namun, sektor pertanian jauh lebih memberikan nilai hidup bagi rakyat Indonesia. Pertanian tradisional menjadi lahan subur bagi tumbuhnya benih gotong royong dan semangat kerja sama yang menjadi warna khas dari peradaban tanah air. Dengan demikian, jika industri tetap dibangun atau pertanian beralih ke sistem pertanian modern maka, Indonesia harus pula siap kehilangan manusia yang punya semangat kerja sama dan gotong royong.

Benar bahwa deforestasi untuk berbagai kepentingan dan tujuan yang individulistik menjadi ajang pemusnahan peradaban bangsa Indonesia. Berhadapan dengan relaitas kebobrokan manusia terhadap ibu bumi yang memberikan kehidupan, maka sudah saatnya bagi kita untuk bertindak. Janganlah kita lambat untuk bertindak, sebab kalau tidak sekarang, kapan lagi; kalau bukan kita siapa lagi.

Haruskah kita menunggu sampai bumi ini hancur, baru kita bertindak? Tidak, sekaranglah saatnya, selamatkan hutan dan ibu bumi dari ancaman deforetasi yang memusnahkan kehidupan. Sudah saatnya untuk menjadi pribadi yang sadar ekologis. Menjadi pribadi yang sadar ekologis tidaklah susah dan menguras banyak energi.

Semuanya berawal dari kesadaran dan kesediaan untuk membagikan kehidupan dengan alam. Tidak perlu menjadi orang yang besar dan istimewa untuk menjaga terlestarinya hutan. Cukupkanlah diri kita dengan melakukan hal-hal yang sederhana yang bisa kita jangkau. Tak perlulah kita jauh-jauk ke Papua atau ke Kalimantan untuk menghidupkan kembali hutan yang telah gundul. Semuanya mulai dari lingkungan sekitar kita. Pekarangan rumah kita bisa dijadikan tempat yang ramah untuk memulai sebuah revolusi besar. Mulailah dengan menaman satu batang pohon untuk kehidupan.

Tidak ada yang sia-sia bila kita setia untuk sesuatu hal yang kecil. Ingatlah bahwa satu pohon yang kita tanam menyelematkan bumi yang besar ini. Jika semua orang di atas muka bumi memiliki kesadaran yang sama, maka niscaya, bumi hunian ini akan menjadi tempat yang damai dan ramah bagi setiap mahkluk yang mendiaminya.

Ikuti tulisan menarik Denny Galus lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu