Curhat Seorang PRT dari Malang

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kisah PRT dari Malang yang bersyukur mendapatkan kesempatan belajar di sekolah keterampilan dan ingin memperjuangkan hak-haknya.

Kisah PRT Malang bersyukur mendapatkan kesempatan belajar di sekolah keterampilan dan berjuang untuk mendapatkan haknya sebagai pekerja.

 

Jam menunjukan pukul 3.30 pagi, rasanya badan masih malas bangun tapi sudah harus memulai hari dengan semangat. Bangunlah badan ini, dalam otak ini sudah ada banyak hal yang harus dikerjakan segera. Aku harus masak, menyiapkan sarapan untuk suami yang mau berangkat ke ladang dan anak yang mau berangkat sekolah. Saya terburu-buru karena anak-anak berangkat sekolah jam 6 pagi, belum lagi yang kecil sarapan harus disuapin, sementara saya sendiri harus berangkat kerja jam 7 pagi. Begitu membuka mata, saya bergegas berangkat belanja sehabis sholat subuh, ngga taunya warung yang dekat rumah belum buka, berlarilah saya ke warung yang agak jauh dari rumah. Sesampainya  disana apa yang saya cari dan mau saya beli tidak ada. Hati ini sedikit marah dan dongkol karena hari sudah semakin siang waktu sudah menunjukan jam 05.30! Oala, ono ndok nyeplok endok ae lak beres (ada telor dibuat telur celok saja kan beres), pikir saya dalam hati, karena sebentar lagi saya berangkat kerja, soalnya lewat 5 menit saja ditanya yang macam-macam.

Saya bekerja di majikan yang sudah sangat tua, kalau ngga salah umurnya sudah 90 tahun. Kalau menyuruh membersihkan apa-apa selalu diulang-ulang ngomongnya, padahal sekali disuruh langsung saya kerjakan. Maklumlah orang sudah tua. Sebenarnya saya kerja di 3 orang, tapi yang lain orangnya biasa saja aja. Saya mau ceritakan majikan saya yang ke 3 ini. Ya Allah, terima kasih saya ketemu majikan yang ini, orangnya sangat baik biarpun suaranya kayak petir di siang bolong. Suaranya keras tapi lembut hatinya, ngga tegaan orangnya.

Pernah waktu itu saya sakit kurang darah, padahal baru dua minggu kerja di rumahnya. Oya, saya panggilnya ibu untuk majikan ini. Waktu itu hampir satu minggu lebih saya nggak masuk, pagi-pagi tiba-tiba ibu telpon, saya disuruh datang hari itu juga. Aduh pasti disuruh berhenti, pikir saya dalam hati. Sayapun datang walaupun badan masih lemah. Datang langsung diajak ke dapur, di meja dapur sudah ada nasi dan lauk, teh panas dan kue. Iki mba, panganen sek terus sampean ta jak nang dokter pribadiku, sampean iku cek ndang waras katanya dengan logat Jawa (ini mbak makan dulu, nanti saya ajak ke dokterku supaya mbak cepat sembuh). Ah teori pikir saya dalam hati, karena kebanyakan majikan-majikan itu baik kalau kita baru masuk, lama-lama kelihatan aslinya. Tapi memang benar hari itu juga saya diajak ke dokter dan alhamdullilah sembuh.

Ternyata pikiran saya selama ini salah, waktu pertama masuk sampai sekarang ibu nggak berubah tetap baik hati orangnya. Sering juga ibu cerita masalahnya, dulu ibu itu miskin, dengan sabar, tekun dan pantang menyerah ibu bisa kayak sekarang, tapi sayang ibu ini tinggal sendirian di rumahnya yang besar karena suaminya meninggal 8 tahun yang lalu. Pernah di sela-sela ibu cerita masa lalunya saya langsung tanya, Bu, gimana PRT kaya saya bisa jadi bos, kasih saya resepnya bu. E.... gak tahunya saya malah dimarahi. Mba, sampeyan iku kudune bersyukur ojo ndongak, ndingkluk’o. Iseh akeh wong ndek isore sampean. Masi dadi PRT sampean duwe omah, iso nyekolahno anak, keluargane sampean nggak sampe kelaparan, waseno wong-wong seng ndek isore jembatan iku kepengen sampean koyok ngono (Mba, kamu harusnya bersyukur, jangan melihat ke atas, lihatlah ke bawah. Masih banyak orang di bawahmu. Biar jadi PRT, kamu punya rumah, bisa menyekolahkan anak, tidak kelaparan, lihat orang di bawah jembatan yang kepengen sepertimu). Setelah saya pikir dan saya renungkan betul juga kata-kata ibu: PRT bukanlah kerjaan yang hina bukan kerjaan memalukan, PRT adalah contoh ibu-ibu yang tangguh demi keluarga, demi masa depan anak-anaknya, PRT pantang menyerah. Terima kasih ibu, akan saya jadikan inspirasi untuk kehidupan saya. Terima kasih juga atas dukungan pada saya untuk ikut berorganisasi dan sekolah PRT selama ini.

Dari hati yang paling dalam saya sangat berterimakasih sekali pada para pendamping dari LPKP Jatim yang selama ini memberikan sekolah PRT.  Tanpa campur tangan mereka, PRT di Malang bukanlah apa-apa di mata majikan dan di mata banyak orang, tanpa beliau PRT dipandang sebelah mata. Dengan adanya organisasi dan sekolah PRT kami jadi tahu apa hak-hak PRT yang harus dipenuhi majikan. Dari kita tidak tahu menjadi tahu. Dari bungkam dan takut bicara menjadi percaya diri, kita temukan banyak teman banyak saudara. Dari pasif menjadi aktif.

Untuk bapak ibu yang duduk di kursi DPR bantulah kami dengarkanlah aspirasi kami untuk mewujudkan hak-hak kami. Perjuangan kami untuk menjadi pekerja layak seperti pekerja-pekerja yang lain, dan saya yakin bapak-bapak yang duduk di kursi DPR di rumah pasti ada PRT dan jangan lupa busana yang bapak-bapak pakai untuk rapat-rapat besar menyambut tamu dari luar, bertemu kedutaan dari negara-negara sahabat, bertemu Presiden dan ada acara-acara lainnya bapak kelihatan gagah dan wibawa itu ada campur tangan PRT di rumah bapak. Maka dari itu kami mewakili PRT-PRT yang lain mohon dukungan dari semua yang ada di DPR. Mohon supaya segera disahkannya UU Perlindungan PRT supaya kami dalam  bekerja merasa aman dan terlindungi. Untuk Presiden kita Presiden Indonesia, Bapak Jokowi dukunglah organisasi kami, organisasi PRT ini supaya kami tidak merasa dianaktirikan di negaranya sendiri, negara persatuan negara Indonesia.

 

Salam buat bapak dan ibu,

Salam satu jiwa dari PRT Malang Raya

Wassalamu’alaikum wr.wb

(Tulisan seorang PRT bernama Hariati)

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
JARAK STOP PEKERJA ANAK

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua