PRT, Pekerjaan yang Membutuhkan Tekad dan Perjuangan!

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Seorang PRT Malang merasakan pentingnya ikut organisasi PRT untuk memperjuangkan nasib dirinya dan teman-temannya.

Ini adalah kisahku selama aku jadi PRT.

Namaku Anita, aku berasal dari salah satu dusun terpencil di daerah Malang. Usiaku 37 tahun, aku belum lama jadi PRT, kira-kira baru tujuh bulan aku bekerja di satu keluarga yang berkewarganegaraan Korea.

Pekerjaan ini aku dapat dari saudaraku yang terlebih dahulu bekerja sebagai PRT di keluarga Korea. Kebetulan teman majikan saudaraku sedang mencari PRT, maka akupun ditawari untuk mencoba pekerjaan ini. Aku bekerja mulai jam 07.00 sampai dengan jam 14.00. Majikanku mempunyai 6 orang anak, yang 2 laki-laki dan masih duduk di bangku TK. Anak-anak majikanku sangat sopan dan sangat menghormatiku, mereka tidak pernah menyuruh-nyuruhku. Setiap kali aku membersihkan kamarnya mereka selalu bilang terima kasih, hal sekecil apapun yang kulakukan untuk mereka, tak lupa mereka selalu bilang terima kasih. Begitu juga kedua majikanku ini sangat menghargai semua pekerjaanku, jika ada pekerjaanku yang salah majikanku selalu mengingatkanku dengan sopan dan tersenyum. Aku sangat bersyukur, ku slalu ucap Alhamdulillah di setiap waktu karena aku mendapatkan majikan yang begitu baik, perhatian dan sangat menghargaiku. Meski aku pulang jam 14.00 aku setiap hari mendapat jatah makan siang.

Ini pengalaman pertamaku jadi PRT, ternyata bekerja dengan orang “asing” tidak seperti yang aku pikirkan saat aku belum masuk kerja. Sebenarnya ada juga anggota keluargaku yang kurang mendukungku jadi PRT, tapi yang terpenting bagiku, suami dan anak-anakku terus menyemangatiku. Aku tidak hiraukan omongan orang. Aku akan tunjukkan kalau PRT juga bisa berkualitas melebihi mereka yang berpendidikan tinggi.

Banyak orang di sekelilingku yang menggosip, membicarakan orang tanpa tahu situasi yang sebenarnya. Ada juga sebagian orang yang menghina pekerjaanku, memandang rendah apa yang dilakukan PRT dan memandang sebelah mata profesi ini. Tapi aku tak hiraukan itu, karena aku yakin itu pekerjaan yang halal dan mendapat dukungan dari suami dan anak-anakku. Orang lain terkadang hanya memandang sesuatu dari sisi luarnya saja. Mereka tidak tahu bahwa PRT itu sebenarnya juga sama seperti pekerjaan yang lainnya, sama-sama punya tanggung jawab dan tugas yang harus diselesaikan dengan profesional.

Aku dan saudaraku selalu berangkat kerja bersama. Kami PRT, kami bangga menjalani pekerjaan ini. Salah satu hal yang kami lakukan adalah mempersiapkan diri dengan berpenampilan rapi. Kami sepakat untuk memakai sepatu saat berangkat kerja, rasanya lebih nyaman dan kelihatan rapi. Tapi ternyata penampilanku seperti ini menuai pro dan kontra di sekelilingku. Ada juga lho yang mencibir dan menghina. Suatu hari ada yang berkata dengan logat Jawa “alah mbabuae sepatuan” (alah jadi pembantu saja pakai sepatu). Hatiku sedih sekali. “Apakah salah kami mengenakan pakaian yang rapi untuk berangkat kerja?”.  Aku mencoba maklum saja karena aku hidup di dusun yang orang-orangnya mungkin kurang informasi mengenai keberadaan PRT saat ini.

Aku juga sering mendapatkan komentar-komentar yang menyakitkan manakala aku update status di FB mengenai PRT dan kegiatan bersama teman-teman PRT lainnya, tapi aku tidak menyerah. Dengan mengikuti kegiatan sekolah keterampilan yang diadakan oleh ILO dan bimbingan dari LPKP dan JARAK, aku akan tunjukkan kalau PRT itu berkualitas, punya sopan santun dan etika. Buktinya, saat ini kami PRT di Malang bisa membentuk organisasi yang dinamakan Anggrek Maya, yang sudah mendapat persetujuan dari banyak pihak. Terima kasih semua yang telah mendukung Anggrek Maya. Aku makin yakin bahwa melakukan pekerjaan ini, sama bermartabatnya dengan pekerjaan lain.

Aku senang bisa berorganisasi, aku jadi banyak pengetahuan dan benar-benar paham apa hak-hak PRT itu. Dengan berorganisasi, mendapat ilmu-ilmu baru yang belum pernah kudapat sebelumnya. Benar kata orang, pengalaman itu guru yang berharga. Kami sangat terbantu dengan adanya organisasi PRT ini. Banyak pengalaman yang sangat berkesan bagiku dan teman-teman lainnya.

Ah, sepertinya masih ingin terus bercerita. Aku bertekad untuk tetap semangat menjalani pekerjaan ini. Terus mengajak teman lain yang belum mengenal organisasi dan manfaat ikut sekolah keterampilan. Doaku, semoga dengan kami mengikuti organisasi Anggrek Maya, para PRT bisa mendapatkan haknya , kita menuju PRT yang bermartabat, kita perjuangkan kemerdekaan bagi PRT.

 

Kisah Anita, seorang PRT yang bergabung di Organisasi Anggrek Maya di Malang, Jawa Timur.

 

#prtadalahpekerja

#prtmenulis

#stopprta

#anggrekmaya


 

Bagikan Artikel Ini
img-content
JARAK STOP PEKERJA ANAK

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua