x

Iklan

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Pesan Untukku

"Sampo dan kondisioner dalam satu botol adalah kontradiksi," katanya, saat dia mulai berlatih berjalan lagi, keluar masuk kamar mandi sendiri.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Setiap pagi, saat kuterjaga menghadapi hari baru, aku masuk ke kamar mandi untuk menghapus mimpi buruk sisa malam yang menghantui tidurku.

Mimpi tentang diriku dibangunkan dan terjaga sepanjang malam, karena dia masuk ke kamarku dan berkata, "Ada pesan untukmu," dan aku berusaha bangun untuk menerima telepon.

Karena aku tahu itu pesan penting.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Namun, tentu saja, begitu aku terbangun dia telah pergi, dan aku mengharapkan agar mimpi itu untuk datang lagi.

Selamat jalan, sayang.

Setelah mandi, kondisiku menjadi lebih baik, bahkan ketika hujan deras dari sebelum azan subuh.

Jadi, aku masuk ke kamar mandi dan berdiri di sana. Menyalakan air panas sepanas mungkin yang bisa ditanggung kulitku, mengeramas ramputku dengan sampo, dan kemudian—

Aku meraih botol itu.

Tentu saja tidak sama dengan yang dipakainya, tapi harumnya serupa.

Aku tak pernah memakai kondisioner rambut, sampai awal musim kemarau kemarin. Dia kembali dari rumah sakit dan menjelaskannya kepadaku.

"Sampo dan kondisioner dalam satu botol adalah kontradiksi," katanya, saat dia mulai berlatih berjalan lagi, keluar masuk kamar mandi sendiri.

"Pertama sampo, lalu dibilas, baru gunakan kondisioner. Diamkan sebentar, dibilas lagi. Baru kelihatan bedanya."

Aku memang baru tahu tentang hal itu darinya. Aku ingat dia menertawakanku dengan suara cemprengnya, tapi rambutku menjadi lebih sehat karena mengikuti petunjuknya.

Ketika dia kembali dibawa ke rumah sakit, karena tergesa-gesa, hanya botol itu yang tertinggal.

Tapi aku memakainya setiap pagi, dan dengan itu aku memulai hariku. Membantuku menghadapi dunia tanpa dirinya.

Maka ketika dia hadir pada malam hari, tersenyum dan berkata, "Ada panggilan untukmu," maka aku berusaha untuk bangun. Untuk mendengar suaranya lagi. Mencium harum rambutnya yang memudar dengan lembut terbawa angin menuju bintang-bintang.

Aku tidak akan melakukannya lagi. Ketika dia datang kepadaku di malam hari nanti, aku takkan terbangun.

Saat tidur, aku bisa mendengar apa yang dia katakan. Aku bisa mendengarkan pesan yang ingin dia sampaikan kepadaku. Namun, sebelum aku tahu aku ada di mana atau apa yang sedang aku lakukan, kelopak mataku terbuka, dan dia langsung lenyap.

"Aku ingin tidur," kataku pada dokter, yang terdiam menatapku cukup lama. Tapi aku pernah membaca bahwa dokter hanya butuh waktu lima menit untuk mengambil keputusan.

"Bisakah Anda memberi saya sesuatu?"

"Baiklah," katanya, setelah jeda 4 menit 29 detik.

Tepat lima menit aku telah memegang selembar kertas resep. Tiga puluh menit kemudian aku duduk di kafe sambil memandang ke permukaan danau. Mentari berkilau di atas air yang beriak dihembus angin, dan aku merasa ringan tanpa beban sama sekali.

Kali ini, ketika dia datang kepadaku, aku takkan bangun.

Datanglah padaku. Itulah pesannya.

Aku menimbang botol kecil di tanganku yang berkilau di bawah sinar matahari. Apa yang kubutuhkan sudah kudapatkan.

Setelah merapikan rumah sedikit dan meninggalkan sebuah catatan, aku membiarkan pintu belakang tak terkunci. Saat mandi sore, aku jauh lebih santai daripada... dibandingkan sejak dia kembali ke rumah sakit.

Malam ini aku akan menemuinya lagi. Malam ini, aku akan menemaninya. Dan kali ini aku takkan terjaga lagi selamanya.

Butuh dua gelas air untuk menggelontorkan kapsul-kapsul itu melewati tenggorokanku. Aku jarang minum obat. Namun, akhirnya aku tertidur, melayang ke alam mimpi dengan keyakinan dia akan datang untuk memberiku pesan yang belum selesai itu.

Akhirnya. Dia berjalan masuk ke kamar bagai seorang bidadari. Rambutnya yang hitam legam semerbak mewangi memenuhi indra penciumanku saat dia dengan lembut mendekatiku.

"Bangun!" serunya, memaksa. "Ada pesan untukmu."

Aneh. Sebelumnya dia tak pernah menyuruhku bangun. Aku tak bisa, gara-gara obat yang kutelan tadi.

"Berikan aku pesannya," kataku, dan dia menatap mataku tegas.

"Bangun! Kamu harus hidup! Aku ingin kamu hidup. Lakukan untukku. Hiduplah untukku!"

Ari matanya mengucur deras, dan kemudian dia memudar membawa pergi aroma rambutnya, seakan-akan aku harus bangun tidur. Tapi mataku berat dan aku tak bisa bergerak. Kata-katanya masih terngiang di telingaku.

Hidup? Dia ingin aku hidup?

Aku terjatuh ke lantai dan merangkak ke kamar mandi. Mataku masih berat. Aku bersandar pada bibir toilet dan tiba-tiba saja perutku bergejolak. Napasku terengah-engah, keringat dingin membanjiri dada dan punggungku. Memdadak aku muntah.

Terduduk di lantai yang dingin, aku menangis terisak-isak.

Dia takkan kembali lagi. Aku pasti pernah mendengar pesannya  sewaktu dia masih di rumah sakit.

Aku terbangun dengan kepala nyeri, masih tergeletak di lantai kamar mandi. Sinar matahari menerobos jendela kecil di atas toilet. Saat menekan tombol pembilas, aku memalingkan muka dari kekacauan yang kutinggalkan di dalamnya.

Aku menanggalkan pakaianku dan berdiri di bawah pancuran. Air hangat mengucur menjernihkan pikiranku.

Hiduplah  untukku.

Air dari pancuran bercampur dengan air mata mengalir di wajahku. Setelah menyampo rambut, aku meraih botol kondisioner.

Aku suka aromanya. Itu saja.

 

Bandung, 14 Januari 2018

Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler