x

Iklan

Syarif Yunus

Pemerhati pendidikan dan pekerja sosial yang apa adanya
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Super Blue Blood Moon; Gerhana Bulan yang Aneh

Super blue blood moon; gerhana bulan yang aneh. Jika tidak mampu menjadikan manusia untuk bersyukur

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kemarin malam udah pada lihat gerhana bulan belum? Si blood sama si moon moon itu? Udah ya. Super blue blood moon, namanya keren banget ya itu gerhana. Gerhana bulan yang aneh, kalo gak mampu menjadikan kita lebih bersyukur.

Terus kalo udah lihat, gimana?

Ya gak gimana-gimana sih. Itu cuma fenomena alam. Tapi satu yang pasti, ada yang atur itu semua terjadi. Ada yang atur, ada yang tentukan harus begitu. Siapa lagi kalo bukan Yang Maha Esa, Allah SWT.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kita manusia, sering kali kagum pada produk Allah. Sering kali heboh dan salut pada apa saja yang sudah diatur Allah. Tapi di saat yang sama, manusia itu "jarang kali" mau bersyukur. Mensyukuri karunia dan anugerah Allah itu penting.

Syukur itu. Memang soal sederhana. Dan semua orang juga paham. Tapi gak banyak orang yang mau wujudkan syukur. Kagum, heboh terhadap apa yang dilihat kasat mata. Tapi seringkali gak heboh dalam mewujudkan syukur. Kerjanya ngeluh, kerjanya sibuk sama urusan orang lain.

Gimana gak syukur?

Kata kita, orang lain hidupnya enak. Sementara orang lain bilang kita hidupnya enak. Semua itu cuma kasat mata saja. Seperti gerhana bulan, indah dilihat dan kasat mata menakjubkan. Maka seketika "mata melihat" di situ seringkali syukur dilupakan. Orang kalo udah "terjebak" urusan dunia, di saat itu pasti lupa syukur bahkan lupa bakal mati.

 

Bukan bersyukur.

Giliran kemarau, malah pengen hujan.

Giliran hujan, malah pengen kemarau.

Lagi diam di rumah pengennya pergi. Ehh, udah pergi pengen buru-buru pulang ke rumah. Lagi tenang pengen cari keramaian. Ehh udah di keramaian, mengeluh pengen cari ketenangan.

Apalagi coba kalau bukan bersyukur.

 

Banyak orang yang hidup di gunung, merindukan pantai. Banyak orang yang hidup di pantai, merindukan gunung.

Banyak orang yang tinggal di desa, pengen hidup ke kota. Banyak orang yang tinggal di kota, pengen hidup ke desa. Aneh dan kebalik-balik. Mungkin kurang rasa syukur.

 

Bersyukur aja kalo pemimpinnya bisa jadi imam sholat di negara lain. Gak usah sibuk mikir dan komen yang gak-gak. Aneh.

 

Makanya bersyukur.

Biar kita gak terlalu banyak "ngintipin" urusan orang lain. Biar gak keenakan memusatkan diri pada apa yang diinginkan bukan pada apa yang dimiliki. Buat apa sibuk ngurusin nikmat orang lain. Sementara kamu lupa pada nikmat yang kamu punya. Kamu itu kurang bersyukur. Pantas, kalo akhirnya kamu menganggap Allah tidak memberi apa-apa atas apa yang kamu miliki sekarang.

 

Gerhana itu terjadi sebagai bukti syukur.

Ada saat terang ada saat gelap. Bahkan kadang terang pun tertutup gelap. Begitu pula sebaliknya. Itu semua udah hukum Allah. Tiap gelap pasti diikuti terang. Sebaliknya gak mungkin terang melulu pasti ada gelapnya.

 

Makanya bersyukur.

Biar kalo punya masalah sedikit jangan langsung merasa orang paling merana sedunia. Lagi-lagi aneh...

Memang, apa saja yang kamu lihat. Pekerjaan, rumah, uang, harta, sakit, orang lain, pemimpin, ini, dan itu. Semuanya paling gampang dikeluhkan, paling gampang dimasalahin. Tapi itu semua bukan berarti "boleh" melupakan syukur.

 

Jadi, bersyukurlah.

Karena SESUATU itu tampak indah karena belum kita miliki. Hingga kita dibuat lupa apa yang patut kita syukuri.

 

Asal tahu saja. Bahagia itu gak bakal didapat selama kita hanya memikirkan apa yang belum ada, apa yang kurang. Bahagia itu gak bakal ada jika kita mengabaikan apa yang sudah kita punya. Kita memang boleh memiliki apa yang kita cintai. Tapi di saat yang sama, kita harus bersedia mencintai apa yang kita miliki. Harus dan harus...

 

Jadilah pribadi yang SELALU BERSYUKUR.

Karena semua yang kita miliki saat ini adalah anugerah dan karunia yang pantas untuk kita. Karena bersyukur itu akan menambahkan nikmat yang sedikit dan melipatgandakan sesuatu yang banyak.

 

Jangan tutupi bumi yang luas dengan selembar daun yang kecil. Syukuri yang ada maka "tambahan" itu datang dengan sendirinya. Seperti gerhana, itu terjadi karena bulan dan matahari beredar di garis "syukur"-Nya. Okehh... salam ciamikk

Ikuti tulisan menarik Syarif Yunus lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Interpolasi

Oleh: Taufan S. Chandranegara

21 jam lalu

Terpopuler

Interpolasi

Oleh: Taufan S. Chandranegara

21 jam lalu