x

Iklan

Wahyu Susilo

Executive Director of Migrant CARE
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Becak dan Kota Dalam Puisi-Puisi Wiji Thukul

Ada belasan sajak tentang becak dan pengemudinya (bapaknya) dituliskan oleh Wiji Thukul pada dekade delapanpuluhan hingga awal sembilanpuluhan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Perkara becak kembali menyeruak tatkala Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melontarkan gagasan untuk mengijinkan kembali beroperasinya becak di kota metropolitan Jakarta. Dengan sisa bara kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2017 yang belum sepenuhnya padam, tentu saja gagasan ini menuai kontroversi, memunculkan pro-kontra dengan segala variasinya, baik dalam polemik di media massa maupun keriuhan wargamaya di platform media sosial.

Becak, sebagai moda transportasi manusia memang sangat terkait dengan perkembangan kota. Di ibukota Jakarta, setidaknya dalam dua dekade terakhir, becak telah dianggap sebagai bagian dari sejarah transportasi masa lalu seiring dengan penerbitan aturan yang melarang becak beroperasi di Jakarta.

Pada awal pemberlakuan larangan tersebut, sering terjadi razia becak dan hasil dari razia tersebut ditenggelamkan di Laut Jawa kawasan Kepulauan Seribu dan dimanfaatkan sebagai rumpon, tempat bersarang ikan laut. Razia-razia terhadap becak di Jakarta menjadi pengingat represinya Satpol PP di DKI Jakarta sebagai aparat penjaga keamanan dan ketertiban Jakarta.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Rekaman ingatan tentang kisah becak juga menjadi inspirasi dalam karya seni dan sastra di Indonesia, diekspresikan dalam lagu, film, esai, novel dan puisi. Tentu kita pernah mendengar lagu anak berjudul Naik Becak karya Ibu Sud. Lagu tersebut dengan riang menggambarkan keceriaan tamasya keliling kota dengan transportasi becak. Sebaliknya, film Pengemis dan Tukang Becak besutan sutradara Wim Umboh (dan dilanjutkan Lukman Hakim Nain) menggambarkan realitas kemiskinan yang terjadi pada masa Orde Baru. Film yang tayang pada tahun 1978 berkisah tentang kejamnya ibukota yang tak ramah pada orang miskin yang direpresentasikan (salah satunya) oleh tukang becak.

Kematian tragis Sukardal, tukang becak yang gantung diri gara-gara becaknya dirampas dalam razia aparat kota Bandung pada tanggal 2 Juli 1986 direkam secara getir dalam esai Catatan Pinggir Goenawan Mohammad  berjudul “The Death of Sukardal”.

Novelis cum Rohaniwan YB Mangunwijaya juga pernah merekam kisah tukang becak dalam novel “Balada Becak atau Sebuah Riwayat Melodi Yus-Riri” yang terbit pertama kali pada tahun 1985. Novelis yang akrab dipanggil Romo Mangun ini dengan paragraf-paragraf panjang di novel ini menggambarkan realitas kompetisi antara becak dan kolt angkutan umum bersaing di jalan-jalan aspal Yogya. Novel ini juga menggambarkan kisah-kisah seputar tukang becak dan bakul sebayanya, juga tentang kehidupan kampus UGM dan mahasiswanya.

Cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Setan Becak” yang menjadi salah satu Cerpen Terbaik TEMPO 2016 mungkin adalah karya sastra mutakhir berthema becak. Cerpen ini mengambil latar belakang tahun kegelapan 1966 dimana pembunuhan politik terjadi dan banyak beredar mitos tentang setan berprofesi sebagai pengemudi becak.

Di ladang puisi, ada belasan sajak tentang becak dan pengemudinya dituliskan oleh Wiji Thukul pada dekade delapanpuluhan hingga awal sembilanpuluhan. Berbeda dengan penulis lagu Ibu Sud, sutradara Wim Umboh dan Lukman Hakim Nain, esais Goenawan Mohammad dan novelis Romo Mangun yang merekam becak dalam karya-karya mereka dari sudut pandang yang berjarak, maka Wiji Thukul menulis puisi tentang becak dari jarak yang sangat dekat, sebagai anak tukang becak.

Dalam antologi puisi Wiji Thukul yang terlengkap “Nyanyian Akar Rumput” setidaknya ada 15 puisi yang menyebut becak di dalam syair-syairnya. Bahkan ada satu puisi berjudul “Nyanyian Abang Becak” yang biasanya dibacakan secara teatrikal oleh Wiji Thukul. Ini memperlihatkan betapa penyair yang hingga saat ini belum diketahui rimbanya sejak tahun 1998, memiliki ikatan emosional yang kuat mengenai becak dan pengemudinya.

Puisi pertama Wiji Thukul tentang becak adalah “Nyanyian Abang Becak” yang dituliskan pada tahun 1984. Puisi ini menggambarkan dampak beruntun dari kenaikan BBM. Dampak itu tidak hanya soal harga-harga yang semakin membubung tinggi tetapi juga memicu pertengkaran keluarga.

 

“jika harga minyak mundhak, simbok semakin ajeg berkelahi dengan bapak,

Harga minyak mundhak, Lombok-lombok akan mundhak, sandang pangan akan mundhak”.

Puisi ini juga ungkapan kemarahan atas kenaikan BBM yang dikatakan sebagai kebijaksanaan.

“siapa tidak marah bila kebutuhan hidup semakin mendesak,

Seribu lima ratus uang belanja tertinggi dari bapak untuk simbok”

…..

“jika BBM kembali menginjak namun juga masih disebut langkah-langkah kebijaksanaan, maka aku tidak akan lagi memohon pembangunan nasib”

Narasi yang sama juga ada dalam bait puisi “Apa Yang Berharga Dari Puisiku”:

“Apa yang berharga dari puisiku,

Kalau bapak bertengkar dengan ibu,

Ibu menyalahkan bapak,

Padahal becak-becak terdesak oleh bus kota,

Kalau bus kota lebih murah, siapa yang salah”

Puisi yang berjudul “Sajak Bapak Tua” mendiskripsikan beban berat yang harus ditanggung bapak sebagai pengemudi becak:

“bapak tua kulitnya coklat dibakar matahari kota

jidatnya berlipat-lipat  seperti sobekan luka

pipinya gosong disapu angin panas

tenaganya dikuras di jalan raya siang tadi”

Dalam puisi romantis “Jangan Lupa Kekasihku”, ajakan Wiji Thukul kepada perempuan yang dicintainya untuk berterus terang mengenai lingkungan sekeliling, tetangga, teman dan orangtua. Dia pun tak lupa mengungkapkan bahwa orangtuanya adalah pengemudi becak.

“jangan lupa, kekasihku

Jika kau ditanya siapa mertuamu

Jawablah: yang menarik becak itu

Itu bapakmu, kekasihku”

Sebagian besar puisi-puisi Wiji Thukul berkisah tentang kegundahan dan kemarahannya atas pembangunan kota yang serakah dan tak ramah pada tukang becak, seperti dalam bait puisi berjudul “Jalan”:

“jalan kiri-kanan dilebarkan

becak-becak melompong di pinggiran

yang jalan kaki, yang digenjot

yang jalan bensin, semua ingin jalan”

Jauh sebelum diskusi mengenai tata kota dan transportasi yang berkeadilan mengemuka, puisi-puisi Wiji Thukul memaparkan kompetisi tak seimbang antara becak dengan tenaga manusia dan kendaraan bermotor (bis kota).

Dalam puisi “Sajak Setumbu Nasi Sepanci Sayur” dikisahkan:

“bus kota merdeka berlaga di jalan raya

becak-becak berpeluh melawan jalan raya” 

Ini juga digambarkan sebagai mimpi buruk yang dibayangkan Wiji Thukul dalam puisi “Sajak Bapak Tua”:

“di dalam kepalaku

bus tingkat itu tiba-tiba berubah jasi ikan kakap raksasa

becak-becak jadi ikan teri yang tak berdaya”

Seperti di kota-kota lainnya, ruang gerak becak di kota Solo saat itu juga dibatasi atas nama keindahan kota. Dalam puisi “Kepada Ibuku”, Wiji Thukul bercerita kepada ibunya tentang pembangunan dan ketidakadilan:

“ibu,

aku tidak punya data komplet tentang ketidakadilan,

hanya mataku terpukau di ingar jalan raya aspalan,

kendaraan bikinan jepang, itali, amerika laju,

tetapi abang-abang becak disingkirkan

oleh kebijaksanaan pembangunan”

Dalam puisi “Pemandangan”, Wiji Thukul menemukan aturan baru daerah larangan untuk becak:

“di pojok ronggowarsito, ada aturan baru

becak dilarang terus (bus kota turah-turah penumpang!)”

Puisi “Jalan Slamet Riyadi Solo” juga menuliskan ancaman peminggiran becak:

“hanya kereta api itu masih hitam legam dan terus mengerang

memberi peringatan pak-pak becak yang nekat potong jalan,

“hei, hati-hati cepat menepi, ada polisi, banmu digembos lagi nanti!””

Kembali ke wacana yang dilontarkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk membolehkan kembali operasi becak di Jakarta yang memicu dugaan bahwa ini adalah kampanye populisme yang penuh agenda politik tampaknya memang bukan hal yang baru. Isu tentang becak bisa menjadi isu politik dan bisa mengemuka menjelang Pemilu. Dalam Pemilihan Gubernur DKI DI tahun 1999 yang masih dipilih oleh DPRD, Rasdullah yang dikenal sebagai pengemudi becak berani mencalonkan diri sebagai kandidat Gubernur meski akhirnya tak masuk nominasi. Di dua kali Pilkada DKI Jakarta yang dipilih secara langsung ( tahun 2012 dan 2017), masalah becak juga menjadi salah satu kampanye bahkan masuk dalam kontrak politik.

Jauh sebelumnya, Wiji Thukul juga merekam mobilisasi tukang becak untuk kepentingan Pemilu. Dalam puisi “Aku Lebih Suka Dagelan” yang berkisah tentang suasana Pemilu 1987 dituliskan:

“ada juga yang bertengkar padahal rumah mereka bersebelahan

penyebabnya hanya karena mereka berbeda tanda gambar

ada juga kontestan yang nyogok tukang-tukang becak

akibatnya dalam kampanye, banyak yang mencak-mencak”.

Tragisnya suara mereka hanya dibutuhkan dalam Pemilu dan tukang becak hanya menunggu janji-janji sampai mereka mati. Kisah tragis ini tergambar dalam puisi “Kuburan Purwoloyo”:

“disini

gali-gali

tukang becak

orang-orang kampung

yang berjasa dalam setiap pemilu

terbaring

dan keadilan masih saja hanya janji

disini kubaca kembali:

sejarah kita belum berubah!”

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Wahyu Susilo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB