x

Iklan

Rofiq al Fikri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Isu Pembebasan Basyir Hanyalah Manuver Yusril Untuk PBB

Menjawab Simpang Siur Isu Pembebasan Gembong Teroris Abu Bakar Basyir

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 Isu Pembebasan Basyir Hanyalah Manuver Yusril Semata Untuk PBB

 

Oleh : Rofiq Al Fikri (Koordinator Jaringan Masyarakat Muslim Melayu / JAMMAL)

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Beberapa hari terakhir publik dibuat terkejut dengan berita bahwa Abu Bakar Basyir, Gembong Teroris Indonesia akan dibebaskan karena alasan kemanusiaan, yaitu umurnya yang sudah menginjak 80 tahun. Berita itu lantas membuat banyak kalangan kecewa kepada Presiden Joko Widodo yang dianggap terlalu memberikan ruang kepada tokoh radikal demi alasan politik. Benarkah demikian? Tahukah anda jika itu sebenarnya hanya manuver seorang Yusril Izha Mahendra semata?

 

1. Presiden Jokowi di hadapan media tidak pernah menyatakan memberikan grasi atau pengampunan terhadap Abu Bakar Basyir. Yang dikatakan hanya membebaskan karena alasan kemanusiaan, karena umur Basyir yang sudah sepuh 80 tahun. Apakah itu pembebasan murni dan bersyarat tidak pernah keluar dari mulut Jokowi, itu yang perlu digaris bawahi. Menjunjung nilai kemanusiaan tentu adalah tugas seluruh pemimpin di dunia.

 

2. Yusril Izha Mahendra, Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) lah yang dihadapan media menjelaskan pembebasan dari Basyir itu adalah pembebasan murni yang didasari alasan kemanusiaan. Apakah itu faktanya? Tidak, Yusril hanya “menjual” nama Presiden yang memang mengatakan kepada Yusril sepakat membebaskan Basyir dengan alasan kemanusiaan, asalkan itu memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.

 

Presiden juga memerintahkan Yusril berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, seperti Kemkumham tentang teknisnya, namun ternyata Yusril lebih memilih bermanuver sendiri tampil di media menjelaskan sesuai framingnya sendiri. Ia menggunakan label penasihat hukum pribadi JKW yang sebenarnya juga baru didapatkannya belum lama ini.

 

Apa kepentingan Yusril? Jelas saja, kepentingannya adalah ingin melambungkan nama pribadinya sekaligus menaikkan elektabilitas partainya, yaitu PBB yang memang memiliki basis massa di kalangan Islam yang garis keras. Dengan dibebaskannya Basyir, apalagi dengan framing yang berperan besar adalah Yusril, PBB berharap dapat menyatukan massa Islam garis keras untuk memilihnya saat Pemilu nanti.

 

Hal itu dibutuhkan karena saat ini elektabilitas PBB jauh di bawah ambang batas 4 % lolos parlemen. Dalam berbagai survei, elektabilitas PBB tidak lebih dari 0,2%. Di pemilu 2014 pun partai yg dipimpin Yusril gagal lolos ke parlemen.

 

3. Manuver Yusril sebelum Debat Capres Pertama. Banyak pihak yang menilai, Yusril sengaja membisikan perihal pembebasan Basyir saat persiapan debat pertama Presiden Jokowi. Saat itu Yusril yang datang ke Jakarta Theater untuk memberi masukan presiden tentang debat tema hukum, ham, dan terorisme. Di situlah Yusril “mengompori” presiden untuk mau membebaskan Basyir. Presiden pun meminta Yusril berkoordinasi dengan Menteri terkait untuk menyelesaikan persyaratannya.  

 

Dengan alasan kemanusiaan, tentu Presiden setuju, karena memang Basyir seharusnya sudah bebas bersyarat sejak Desember 2018. Akan tetapi karena Basyir menolak syarat setia terhadap Pancasila dan NKRI, Basyir tidak bisa bebas bersyarat. Bebas bersyarat diberikan kepada seluruh NAPI yang telah menjalani 2/3 masa hukumannya, itu diatur dalam UU.

 

Namun yang terjadi, sekali lagi, Yusril menafsirkan pernyataan presiden dengan serampangan, di hadapan media ia tampil seolah pahlawan bagi para pendukung Basyir dan mengatakan pembebasan diberikan tanpa syarat.

 

4. Bukan Kepentingan Politik JKW. Menjadi konyol jika ada yang mengaitkan keputusan Presiden JKW membebaskan Basyir adalah karena alasan politik untuk meraih suara kalangan Islam. Non Sense, karena Basyir sendiri jelas mendukung Prabowo-Sandi (dari foto 2 jari Basyir yang tersebar), anak Basyir pun menyambut Sandiaga Uno saat berkampanye di Solo. Di mata rakyat, Basyir juga bukan ulama, ia adalah otak teroris yang menghilangkan ratusan nyawa warga tak bersalah.

 

Membebaskan Basyir tidak akan menambah suara JKW dari kalangan Islam Radikal yang telah solid mendukung Prabowo, yang terjadi justru menggerus suara para pendukung JKW yang terkenal toleran, dan pluralisme dan mengutuk aksi terorisme. Mereka yang kecewa tengah memikirkan golput, karena menganggap JKW memberikan ampunan kepada tokoh radikal yang jelas-jelas tidak mau setia kepada Pancasila dan NKRI.

 

5. Faktanya hari ini Presiden Jokowi jelas memberikan pernyataan bahwa akan membebaskan Basyir karena alasan kemanusiaan, namun dengan syarat-syarat yang diatur dalam hukum, yaitu bersedia setia kepada Pancasila dan NKRI. Syarat itu tidak bisa ditawar dalam negara ini.

 

Dari sini jelas bahwa isu pembebasan Basyir hanyalah manuver Yusril semata yang tengah berjuang mencari panggung pribadi dan menaikan popularitas partai yang dipimpinnya, yaitu PBB. Apa yang dilakukannya semata karena kepentingan politik.

 

Keputusan Jokowi yang menunda pembebasan Basyir sampai semua prosedur hukum dipenuhi sudah tepat, guna menghindari dugaan Jokowi mempolitisasi isu pembebasan Basyir, karena faktanya yang mempolitisasi adalah Yusril, bukan JKW!

Ikuti tulisan menarik Rofiq al Fikri lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler