Memberdayakan Para Ahli Untuk Membangun Negara - Analisis - www.indonesiana.id
x

Gambar pemberdayaan para ahli

Juandi Manullang .

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2019

Senin, 12 Agustus 2019 08:21 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Memberdayakan Para Ahli Untuk Membangun Negara

    patutlah kita mendorong dan berharap era pemerintahan sekarang, memberdayakan para ahli, pakar dan akademisi yang ada untuk pembangunan manusia demi terciptanya cita-cita pendiri bangsa dan kita juga yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa

    Dibaca : 1.593 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sekarang ini banyak orang yang berpendidikan tinggi, bukan mereka yang tamatan S-1 (sarjana), S-2 (Magister), S-3 (Doktor), tetapi ada juga yang Guru Besar (Profesor). Gelar yang didapat itupun tidak tanggung-tanggung, ada yang didapat dari luar negeri maupun universitas ternama di dalam negeri. Namun, dalam kesempatan ini, penulis ingin mengatakan bahwa ilmu dan gelar tersebut harusnya dipergunakan untuk kemajuan bangsa dan negara. Lebih dari itu, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Dengan kata lain, ilmu yang didapat itu dibagikan bagi masyarakat, mahasiswa maupun bagi kemajuan pemerintahan saat ini demi terwujudnya Indonesia yang maju, berdaulat, adil dan makmur. Itu penting!. Dari sekian banyak para ahli ataupun pakar, akademisi yang memiliki gelar prestisius, seharusnya ilmu yang dimiliki itu dibagikan untuk membangun negara. Setidaknya, ikut kritis atau bersuara untuk kemajuan bangsa.

    Hal itu senada dengan amanat pembukaan UUD 1945 alinea ke-4 yaitu ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari situlah akan seiring pula tercipta suatu kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. Ikut mencerdaskan bangsa berarti ikut dalam memenuhi cita-cita pendiri bangsa (The Founding Father) kita. Ikut dalam berperan penting memajukan bangsa dan negara yang mampu berdaya saing.

    Oleh karenanya, sangat layak bila kita mengajak para ahli, pakar dan akademisi yang bergelar prestisius itu ikut dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Pemerintah-lah dalam hal ini yang harusnya gencar mengajak para ahli, pakar, dan akademisi ikut dalam pemerintahan guna menuangkan pikiran inovatif bagi Indonesia.

    Memang harus kita akui, dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla sudah mengikutsertakan para ahli, pakar dan akademisi itu dalam pemerintahan, terutama dalam kabinetnya. Namun, di luar kabinet pun diharapkan ada juga para ahli, pakar dan akademisi turut serta membangun negara. Perlu pemberdayaan para ahli dan pakar itu agar perlahan amanat pembukaan UUD 1945 segera terwujud.

    Di masa pemilu saat ini, semoga kita harapkan pemimpin yang terpilih nanti memperhatikan hal tersebut. Hal itu agar para pakar, ahli maupun akademisi itu tidak diam saja, berpraktik di kampus saja, tetapi lebih jauh ikut dalam mencerdaskan bangsa Indonesia. Ikut membangun bangsa demi sebuah kemajuan. Saran ini harapnya dapat menjadi wacana pemimpin kita kedepan agar kita tidak terpuruk terus menerus pada kebodohan dan ketertinggalan pendidikan.

    Perlu disadari bahwa dengan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa akan menciptakan manusia-manusia yang berdaya saing, cerdas dan berakhlak mulia. Berawal dari itu, mereka akan mampu menciptakan lowongan pekerjaan bagi masyarakat lainnya. Atau dapat mencari dan memiliki pekerjaan untuk kemakmuran hidupnya. Dengan pendidikan yang baik akan menunjang kehidupan yang baik pula.

    Pendidikan menjadi penting dalam mewujudkan kesejahteraan umum tersebut. Pada era globalisasi ini dan canggihnya teknologi, butuh orang-orang yang cerdas dan berpendidikan agar mampu mengoperasikan teknologi tersebut. Setiap perusahaan pun membutuhkan manusia yang cerdas dan berpendidikan untuk mengembangkan perusahaannya.

    Maka, pemerintahan sekarang wajib menciptakan iklim pendidikan yang setara bagi seluruh bangsa. Untuk masa pemerintahan saat ini, pembangunan manusia yang cerdas, inovatif dan berdaya saing sudah menjadi wacana dari pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Presiden Jokowi pun sudah mengatakan itu. Itu pulalah bagian dari revolusi mental yang selama ini digaungkan Presiden Jokowi dalam nawacitanya.

    Dengan demikian, patutlah kita mendorong dan berharap era pemerintahan sekarang, memberdayakan para ahli, pakar dan akademisi yang ada untuk pembangunan manusia demi terciptanya cita-cita pendiri bangsa dan kita juga yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Jika bukan kita yang menggaungkan itu, siapa lagi?.

    Mari saling berkontribusi memajukan bangsa dan negara ini agar tidak terus terpuruk dan kalah bersaing dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura dan lainnya. Indonesia adalah negara yang besar, luas dan berpenduduk sekitar 260 juta. Dari nama besar itu, patut kita mampu untuk bersaing dengan negara tetangga yang notabene penduduk dan luas negaranya tidak seperti Indonesia. Kita tak boleh kalah, tetapi harus menang dalam persaingan.

    Indonesia pasti bisa semakin baik pendidikannya bila kita mampu memberdayakan para ahli yang ada untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Indonesia dihuni banyak orang-orang cerdas dan berintegritas. Karenanya, sangat layak bila kita mampu menjadi negara yang sumber daya manusia berprestasi. Kita pasti bisa dan akan sangat bisa mewujudkan apa yang dicita-cita The Founding Father yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Kita harus bersatu dan berpegangan tangan untuk dapat mewujudkan cita-cita itu. Semua akan mudah bila kita bersatu mewujudkannya. Mari kita membuka mata dan fokus pada pendidikan yang bermutu. Pemerintah pun harus terus bekerja keras demi kepentingan rakyat.

    Ikuti tulisan menarik Juandi Manullang . lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Hadirat Syukurman Gea

    1 hari lalu

    Analisis Sistem Jual-Beli Ijon pada Komoditas Mangga Berdasar Ekonomo Makro

    Dibaca : 168 kali

    Mangga merupakan salah satu komoditas buah yang digemari hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Mangga turut menyumbang perekonomian Indonesia karena menjadi komoditas yang di ekspor. Pada tahun 2015, ekspor mangga sebesar 1.515 jutatonyangsebagianbesarmerupakanjenis Mangga Gedong Gincu dan Mangga Arumanis. Kabupaten Kediri merupakan salahsatudaerahyang menjadikan mangga khususnya Mangga Podang sebagai oleh - oleh khas daerah dikarenakan banyaknya pohon mangga yang tumbuh di sekitar lereng GunungWilis.ManggaPodangkhasKediri banyak ditemukan di daerah sekitar lereng Gunung Wilis yaitu Kecamatan Banyakan, Tarokan, Grogol, Mojo, dan Semen. Semakin berkembang perekonomian suatudaerahmakasemakinberagam pula cara produsen dan konsumen melakukan jual beli.Salah satu sistem jual beli yang dilarang dalam Islam adalah jual beli yang mengandung unsur gharar. Sistem jual beli ijon adalah salah satu sistem jual beli yang mengandung unsur gharar sehingga dilarang oleh Allah SWT. Ijon berkaitan dengan perilaku produsen dan konsumen. Hal ini dapat dikaitkan dengan ekonomi mikro berupa keputusan pengusaha dan konsumen, terbentuknya harga barang atau jasa dan faktor produksi tertentu di pasar, dan alokasi sumber daya ekonomi.Penelitian ini menggunaka nmetode penelitian studi literatur. Jenis data yang digunakan berupa data sekunder dengan metode pengumpulan data berupa pengumpulan sejumlah studi pustaka. Berdasarkan studi literatur terkait sistem jual beli ijon dan ekonomi mikro, diperoleh hasil analisis bahwa sistem jual beli ijon dan ekonomi mikro saling berhubungan. Hal ini dikarenakan ijon berkaitan langsung dengan perilaku produsen dan konsumen dan ekonomi mikro turut mengatur perilaku produsen dan konsumen. Keywords: Ijon, Komoditas Mangga,Ekonomi Mikro