Batu Karang Pendidikan di Lakey - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Cover buku Batu Karang Pendidikan di Lakey

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 6 Oktober 2019 09:47 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Batu Karang Pendidikan di Lakey

    Dibaca : 79 kali

    Judul: Batu Karang Pendidikan di Lakey

    Penulis: Fasilitator Daerah dan Guru-Guru Program Sekolah Literasi Indonesia

    Tahun Terbit: 2019

    Penerbit: Khalifah Mediatama

    Tebal: xii + 212

    ISBN: 978-602-6323-90-3


    Guru dan kepala sekolah yang mendapat suntikan motivasi akan mengubah dirinya menjadi pendidik yang luar biasa. Pengalaman para guru dan kepala sekolah yang dimuat dalam buku ini adalah salah satu buktinya. Latar belakang pendidikan dan kondisi sekolah yang minimalis tidak menjadi kendala untuk membuat pendidikan yang bermutu. Dengan motivasi dan pendampingan yang intensif mereka mampu mengubah wajah pendidikan.

    Buku ini memuat kumpulan tulisan para fasilitator, guru dan kepala sekolah dari program Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Program SLI diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa dengan dukungan dari Program INOVASI untuk anak Indonesia atau lebih sering disebut INOVASI. INOVASI adalah program kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Australia untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar di Indonesia, khususnya di bidang lietrasi, numerasi dan inklusi. Sedangkan Dompet Dhuafa kita semua tahu. Dompet Dhuafa adalah sebuah Lembaga filantropi Islam bersumber dari dana zakat, infak, sedekah dan wakaf yang sangat getol berkarya di bidang pendidikan.

    Program SLI dilaksanakan di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Sekolah-sekolah yang didampingi adalah sekolah-sekolah yang cukup miskin di wilayah selatan Kabupaten Dompu. Ada 10 sekolah dan madrasah yang menjadi mitra program. Masing-masing sekolah mendapat pendampingan dari fasilitator program.

    Di setiap sekolah ada guru model dan kelas model. Guru model inilah yang didampingi secara khusus oleh fasilitator sehingga mereka bisa menjadi contoh bagi guru-guru lain di sekolah yang bersangkutan. Para guru dilatih bagaimana membuat anak-anak belajar dengan senang. Guru-guru model dikenalkan dengan berbagai gaya belajar anak (audio, visual dan kinestetik). Pengetahuan ini bisa digunakan oleh guru untuk mengenali gaya belajar anak dan menyesuaikan cara mengajar.

    Guru juga diberi cara bagaimana membuat kelas literat. Kelas literat dalah kelas yang merangsang anak untuk belajar dari pajangan yang ada di kelasnya. Kelas literat dilengkapi dengan ceruk baca/sudut baca yang diisi oleh buku-buku yang menarik minat baca anak. Pengetahuan yang dilatihkan kepada guru kemudian dituangkan dalam RPP untuk diterapkan di kelas.

    Kepala sekolah mendapatkan pelatihan managerial dan supervisi akademik. Keterampilan mengelola sekolah membuat kepala sekolah mampu mengelola sekolahnya sehingga menjadi tempat belajar yang nyaman. Sedangkan supervisi akademik membuat kepala sekolah bisa mendukung gurunya untuk meningkatkan proses pembelajaran yang memaksimalkan potensi anak. Hasil belajar dari program tersebut kemudian diterapkan oleh kepala sekolah di sekolahnya. Contohnya adalah H. Akbar H Karim Kepala Sekolah SDN 13 Hu’u. Akbar Karim membuat kebijakan membaca 15 menit sebagai bentuk konkrit dukungan kepada guru-gurunya yang mulai mengembangkan kelas literat.

    Selain menggambarkan program, tulisan-tulisan para guru dan kepala sekolah juga memuat pengalaman dan suka duka mereka menjadi pendidik. Sebagai pendidik di wilayah yang miskin, mereka mengalami banyak kendala dalam mengimplementasikan proses pembelajaran yang efektif. Anak-anak tidak mendapat dukungan yang cukup di rumah oleh keluarganya. Sehingga para guru ini mempunyai beban tambahan untuk membangkitkan semangat belajar siswa, selain dari teknik mengajarkan tema-tema yang harus dipahami para siswa. Apalagi kebanyakan dari para guru ini tidaklah bergelar S-1. Kalau ada yang bergelar S-1, kebanyakan didapat melalui Universitas Terbuka saat mereka sudah menjadi guru. Kuliah dalam jabatan.

    Program yang sangat singkat ini memang belum memberikan hasil yang purna. Namun kelihatan sekali bahwa program SLI telah membangkitkan semangat para guru dan kepala sekolah untuk memperbaiki proses pembelajaran. Memang program pendidikan seharusnya dilakukan minimal tiga tahun untuk bisa memberikan hasil yang solid.

    Melalui program kerjasama antara Dompet Dhuafa dengan INOVASI telah membuat motivasi para guru dan kepala sekolah begitu tinggi. Semoga program yang sudah berjalan ini bisa terus dilanjutkan. Terutama dilanjutkan oleh Dinas Pendidikan. Sebab Dinas Pendidikanlah yang mempunyai tanggung jawab dalam pengembangan persekolahan di wilayahnya.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.