Inikah Penyebab Demo Distop dan Pelantikan Presiden Dijaga Superketat - Analisis - www.indonesiana.id
x

Kepolisian melarang adanya demo yang diadakan pada 15-20 Oktober 2019 sehubungan dengan dilaksanakannya pelantikan presiden.

Anas M

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 Oktober 2019

Rabu, 16 Oktober 2019 20:55 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Inikah Penyebab Demo Distop dan Pelantikan Presiden Dijaga Superketat

    Polisi juga melarang demonstrasi selama 15-20 Oktober di Jakarta. Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Gatot Eddy Pramono mengatakan, tidak memberikan izin unjuk rasa pada hari-hari itu. .

    Dibaca : 4.009 kali

    Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden yang digelar di gedung  MPR/ DPR pada Minggu, 20 Oktober 2019 pukul 14.30,  akan dijaga ekstra ketat.  Perhelatan ini akan dihadiri anggota MPR dan tamu  kenegaraan  yang terdiri dari dua kepala negara, empat kepala pemerintahan, sembilan orang utusan khusus, dan 157 lebih duta besar.

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, mengatakan  kepolisian dan TNI siap mengamankan acara itu. “Aparat TNI dan Polri yang berjumlah 30.000 orang lebih siap mengamankan prosesi pelantikan presiden dan wakil presiden," kata  ujar Dedi.

    Polisi juga melarang demonstrasi  selama 15-20 Oktober di  Jakarta. Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Gatot Eddy Pramono  mengatakan, tidak memberikan izin unjuk rasa  pada hari-hari itu. .

    Presiden  Jokowi pun  akan menggelar syukuran pelantikan Presiden dan Wakil Presiden secara sederhana. Menurut Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko ,  tak akan ada karnaval. Sebelumnya sempat direncanakan karnaval budaya mulai dari  Jalan MH Thamrin hingga Jalan Merdeka Barat.

    Isu penggagalan pelantikan Presiden boleh jadi sudah reda. Apalagi kelompok yang diduga menginginkan hal itu sudah ditangkap. Tapi pemerintah mungkin  tidak mau mengambil resiko. Kelompok teroris masih berpotensi menganggu kendati agenda mereka berbeda dan tidak terkait langsung dengan pelantikan Presiden. Pelarangan demo diperkirakan untuk mengurangi komplikasi potensi gangguan keamanan.

    Isu Penggagalan
    Isu  menggagalkan pelantikan Presiden sudah reda, tapi belum tentu lenyap sama sekali.   Isu ini mula-mula mencuat dari kasus  Sri Bintang Pamungkas dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada awal September lalu.  Ia dituduh melakukan provokasi  untuk menggalkan pelantikan Jokowi  berdasarkan bukti rekaman video yang beredar di media sosial. 

    Upaya penggagalan  yang lebih serius  terungkap setelah kepolisian menangkap dosen IPB Abdul Basith bersama 9 orang lainnya.  Basith diduga menjadi pemasok bom molotov untuk membuat kerusuhan pada aksi Mujahid 212 yang berlangsung di depan Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Sabtu, akhir Maret lalu. 

    Mereka juga memiliki bom ikan. Kelompok ini diduga berencana membikin kerusuhan dengan tujuan menggagalkan pelantikan Presiden.  Organisasi yang diikuti Basith  rupanya mempunyai gagasan membentuk lima majelis di MPR yang diwakili tentara/polisi, buruh, akademikus, sultan/raja, dan organisasi profesi lain. “MPR yang akan memberikan mandat kepada presiden dan kembali ke Undang-Undang Dasar 1945. Sekarang kan pakai demokrasi liberal,”  ucap Basith

    Penangkapan Teroris
    Potensi gangguan keamanan  juga bisa datang dari jaringan teroris. Sejak insiden penusukan terhadap Menko Polhukan Wiranto,  Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri  sudah meringkus  26 orang terduga teroris.

    Empat  diantaranya adalah terduga teroris yang ditangkap  di Cirebon dan Bandung beberapa waktu lalu. Mereka diduga hendak  menyerang markas kepolisian dan tempat ibadah di Cirebon. “Bomnya sudah  dipersiapkan,”ujar Dedi,15 Oktober 2019.

    Polisi  pun mengklaim telah menggagalkan rencana kelompok Jamaah Ansharut Daulah  melakukan aksi bom bunuh diri.   “Di Yogya sudah disiapkan suicide bomber ada dua orang, sudah kita amankan. Demikian juga yang di Solo, sudah disiapkan pengantin suicide bombernya," kata Dedi. Sasarannya sama, kantor polisi dan tempat ibadah setempat.


    Kepolisian tampaknya, ingin memastikan jaringan teroris tidak mengambil kesempatan pada hari pelantikan Presiden.  Walaupun sudah banyak yang ditangkap, pengamanan tetap ketat  agar tidak kecolongan lagi  seperti  pada peristiwa penusukan terhadap Wiranto. ***



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.