Timnas U-22 Harus Cetak Banyak Gol, Jangan Menjadi Beban - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sepak Bola SEA Games 2019

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 3 Desember 2019 15:35 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Timnas U-22 Harus Cetak Banyak Gol, Jangan Menjadi Beban

    Dibaca : 670 kali

    Setelah ditekuk Vietnam, dipastikan, seluruh penggawa Timnas U-22 di SEA Games secara otomatis ada tekanan mental. Digadang-gadang dapat mengulang prestasi emas SEA Games 1991 di negara yang sama, Filipina, setelah takluk dari Vietnam, maka untuk lolos ke semi final, tetap harus berjuang keras.

    Meski secara matematis dua lawan berikut berada di bawah level Evan Dimas dan kawan-kawan, gara-gara bermain harus berpikir ciptakan banyak gol, maka akan ada dua persoalan yang dihadapi pemain di lapangan.

    Pertama, demi terciptanya banyak gol, strategi serangan juga harus bervariasi, sebab dipastikan lawan akan menumpuk pemain di daerah pertahanan mereka. Bisa lawan ditarik naik, baru dipukul serangan balik.

    Setiap menit harus berkualitas, tidak membuat banyak kesalahan, tidak membuang kesempatan, tidak egois, berikan momen terbaik ciptakan gol kepada siapa pun yang lebih menguntungkan. Wajib cerdas intelegensi dan personaliti (tidak banyak membikin pelagaran dan emosional).

    Kedua, bila upaya buntu, harus ada kreativitas dan cepat ambil keputusan, ubah strategi bermain, ubah cara penyerangan, hingga tarik pemain yang menghambat dan ganti yang cerdas.

    Menghadapi Brunei Darussalam pada laga keempat Grup B SEA Games 2019 di Stadion Binan, Selasa malam (3/12/2019), meski berpotensi akan hujan gol, namun lawan juga pasti akan berjuang tidak banyak kebobolan.

    Sementara Timnas Indonesia U-22 wajib meraih kemenangan dengan jumlah banyak gol untuk bisa terus bersaing mendapatkan tiket ke babak semi final dan sambil berharap Thailand kalah atau imbang dengan Vietnam.

    Misi menang dengan banyak gol bisa jadi akan mudah, bila komposisi pemain yang diturunkan sesuai standar dan strategi pun tepat. Namun menjadi tak akan mudah bila Brunei Darussalam yang sudah tak memiliki kepentingan lagi di SEA Games 2019, karena menjadi juru kunci dan sama sekali belum meraih poin akan bermain demi menjaga harga diri bangsa dan negaranya.

    Brunei tentu akan bermain tanpa beban.
    Inilah yang patut diwaspadai Timnas Indonesia U-22.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Napitupulu Na07

    20 jam lalu

    Keadilan Agraria dan Peningkatan Produksi Pangan Melalui Konsesi Lahan Pertanian Luasan 10 –80 ha, kepada Badan Usaha Perorangan.

    Dibaca : 75 kali

    Salah satu dari 9 masalah fundamental multi dimensi bangsa Indonesia adalah “masih rendah, terbatas dan timpang pembangunan dan kesejahteraan baik antar lapisan / strata masyarakat maupun antar daerah dan pulau”. Perwujudan sila ke 5 dari Pancasila yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 yakni “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” masih jauh dari harapan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9, bertajuk ‘Apa kabar Reforma Perhutanan Sosial’ Selasa 3/4/2018, Dalam paparan berjudul ‘Evolusi Kawasan Hutan, Tora dan Perhutanan Sosial, mengungkapkan: Ketimpangan pemberian lahan dan akses dari sektor kehutanan ini terdata sampai tahun 2017. Perbandingan ketimpangannya? Luas lahan di Indonesia yang yang sudah keluar ijin pengelolaanya adalah 42.253234 ha dari total 125.922.474 KH Indonesia. Dari 42.253.234 ha lahan yang diberikan ke swasta-masyarakat-kepentingan umum, 95,76 %-nya dilelola oleh swasta luas totalnya 40.463.103 ha. Perkembangan Luas Areal Kelapa Sawit, dari data peta RePPProT, pada tahun 1990 luasnya 7.662.100 ha, dari data baru tahun 2015 menjadi 11.260.277 ha, berarti kenaikan rata-rata 142.000 ha/tahun. Tahun 2016 menurun sedikit menjadi 11.201.465 ha. Tahun 2017 terhadap angka 2016 meningkat drastis 25 % lebih, menjadi sebesar 14.048.722 ha. Tahun 2018 naik menjadi 14.327.093 ha, Tahun 2019 naik menjadi 14.677.560 ha. Areal usaha perkebunan kelapa sawit tersebut didominasi oleh hanya puluhan pengusaha besar swasta. Ke depan apa yang bisa dilakukan? untuk mengurangi ketimpangan penguasaan / hak kelola Pengusaha Besar Swasta (PBS) atas tanah kawasan hutan (40.463.103 ha) dan Perkebunan kelapa sawit (14.677.560 ha), totalnya 55.140.663 ha setara 29,5 % luas daratan Idonesia 187.000.000 ha. Penulis menyarankan Solusi pengurangan ketimpangan secara bertahap, namun sekaligus bisa menangani permasalahan besar lain yaitu kemandirian pangan Indonesia yang sangat lemah / rapuh karena terkendala terbatasnya ketersediaan lahan garapan. Pada kesempatan ini diusulkan untuk Ekstensifikasi Pertanian pangan dengan membuka daerah irigasi (DI) Baru dengan Pola Pertanian Pangan UKM. Strateginya membangun Lima Pilar Pertanian Beririgasi Modern di luar P. Jawa meliputi: P1: Penyediaan air irigasi; P2: Pembangunan infrastruktur irigasi baru; P3: Pencetakan sawah baru petakan besar yang sesuai mekanisasi pertanian untuk para UKM dengan konsesi lahan 30-80 ha; P4: Mempersiapkan sistem pengelolaan irigasi; P5: Membangun sistem konsesi UKM pertanian mekanisasi padi komersial terpadu, mulai tanam, panen, sampai siap dipasarkan. Untuk keadilan agraria dan sekaligus penyediaan lahan garapan daerah irigasi baru, juga untuk lahan peternakan dan perikanan terlihat 2 kemungkinan yakni: (i) Mengatur pemberian puluhan ribu konsesi lahan luasan kecil 10 ha untuk peternakan, perikanan, hortikultur (mix farming), serta luas 30 - 80 ha untuk irigasi baru. Sebagai tahap pertama memanfaatkan cadangan areal untuk Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) seluas 4,1 juta ha, diberikan konsesi 30 tahun kepada badan usaha perorangan; dan (ii) Mengubah konsesi sawit lama yang habis masa konsesinya menjadi konsesi 30 tahun UKM sawah beririgasi 30 ha - 80 ha.