Dianggap Hina Jokowi, Inilah 5 Poin Super Sensitif yang Dilontarkan Rocky Gerung - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Akademisi, Rocky Gerung menjadi saksi fakta pada sidang lanjutan mendengarkan keterangan saksi terkait kasus penyebaran berita bohong atau hoaks yang dilakukan oleh terdakwa Ratna Sarumpaet di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa, 23 April 2019. Terdakwa hoax Ratna Sarumpaet mempertanyakan mengapa Rocky Gerung dan Tompi dihadirkan sebagai saksi dalam persidangannya. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

Andi Pujipurnomo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Oktober 2019

Rabu, 4 Desember 2019 20:31 WIB

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Dianggap Hina Jokowi, Inilah 5 Poin Super Sensitif yang Dilontarkan Rocky Gerung

    Politikus Junimart Girsang mengatakan akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan pengurus pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan soal melaporkan pengamat politik Rocky Gerung ke polisi. "Sedang koordinasi dengan DPP," kata Junimart lewat pesan singkat pada Rabu, 4 Desember 2019.

    Dibaca : 9.555 kali

    Politikus Junimart Girsang mengatakan akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan pengurus pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan soal melaporkan pengamat politik Rocky Gerung ke polisi. "Sedang koordinasi dengan DPP," kata  Junimart lewat pesan singkat pada Rabu, 4 Desember 2019.

    Sebelumnya, Junimart mengancam akan melaporkan Rocky ke polisi karena dianggap telah menghina Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Ancaman itu ia lontarkan saat acara Indonesia Lawyers Club pada Selasa malam, 3 Desember 2019.

    "Saya akan melaporkan bahwa Pak Gerung karena sudah menghina simbol negara pada malam ini," kata anggota Komisi Hukum DPR itu saat menjadi pembicara di ILC.

    Awalnya, Rocky Gerung diberikan kesempatan bicara mengenai polemik perpanjangan izin Front Pembela Islam. Di akhir sesi bicaranya, Rocky mengatakan bahwa presiden tidak mengerti Pancasila.

    "Polisi Pancasila atau Presiden juga enggak ngerti Pancasila kan, dia hapal tapi enggak paham. Kalau dia paham, dia enggak berhutang, kalau dia paham, dia gak naikin BPJS, kalau dia paham, dia nggak langgar undang-undang lingkungan," ujar Rocky.

    Berikut ini petikan poin-poin kontroversial sekaligus sensitif yang disampaikan Rocky dalam diskusi itu:

    1.Perizinan ormas
    "
    Dalam demokrasi, semua dizinkan, kecuali yang dilarang. Sekarang dibalik,  semua dilarang  kecuali minta izin. Semua ormas   berbeda dengan pemerintah. Kalau sama, namanya orneg, organisasasi negara. Jadi banyak logika yang kacau. Karena  apa? Karena  kita nggak tahu  apa dalil pertama bernegara..."

    2.Tidak Pancasilais beda dengan anti Pancasila
    "Kalau saya bilang…saya tidak Pancasilais, lalu orang usir saya dari NKRI. Saya bilang, saya tidak Pancasilais, bukan anti Pancasila.  Bagi saya tidak masuk akal, Pancasila  dijadikan ideologi negara.  Negara itu barang abstrak, benda mati pula. Yang berideologi itu orang. Punya keyakinan, hidup. Jadi negara yang berideologi itu dua kali ngaco. Saya terangkan ini secara pikiran, bukan dalam rangka politik.

    Jadi kalau dikatakan tadi, ideologi Pancasila sudah final. Di mana finalnya? Kalau sudah final itu berarti potensi pikiran manusia sudah berhenti, sudah di akhirat.. itu namanya final

    …Kalau saya misalnya, membeci pemerintah, lalu bikin Front Pembela Lingkungan. Saya akan membenci  pemerintah. Karena  pemerintah merusak lingkungan. Menterinya bilang begini,   ‘demi investasi…tak perlu pakai amdal.  Itu Pancasilais,  nggak?"

    Junimart Girsang dan Rocky Gerung

    3.Soal mengubah Pancasila
    "
    Kalau ada yang bilang, Pancasila tidak mungkin diganti, diubah.  Konstitusi bisa diubah gak?  Bisa.. kan.  Konsitusi sendiri mengatakan itu, ada syarat-syaratnya,  Pancasila ada dalam konstitusi. Begitu konstitusi  bisa diubah, ya Pancasila bisa diubah.  Jadi kita dibikin panik membicarakan hal yang secara konsepsional kacau.  Negara ini nervous melihat segal sesuatu."

    4.Sila Pancasila saling bertentangan
    "..Pancasila itu sebagai ideologi gagal karena bertentangan  sila-silanya. Saya pernah tulis  panjang lebar  di (majalah) Prisma. Saya terangkan bahwa Pancasila itu bukan ideologi dalam pengertian akademis.  Sila pertama  Ketuhanan yang Mahaesa… mengakui bahwa perbuatan manusia hanya diakui bermakna  kalau diorientasikan ke langit..  Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Apa artinya.? Saya boleh berbuat baik, tanpa menghadap ke langit. Itu humanisme. Kalau saya berbuat baik dengan tujuan dapat pahala dari surga..artinya kemanusiaan saya itu palsu.

    Lalu sila kelima, Keadilan sosial. Itu versi siapa? Liberalisme Libertalisme? Libertarianisme…?   Orang boleh isi sila kelima itu dengan marxisme. Boleh saja. Diisi dengan Islamisme ..boleh saja. Karena nggak  ada keterangan final.  Pemerintah melanggar lingkungan itu sudah bertentangan Pancasila, dengan Keadilan sosial.."

    5.Presiden hapal Pancasila tapi…
    "..Di awal tadi saya katakan.. saya tidak Pancasilais. Siapa yang berhak menghukum atau mengevaluasi saya.    Harus orang yang Pancasialis. Siapa di Indonesia?   Nggak ada.  Polisi Pancasila.  Presiden juga nggak ngerti Pancasila kan.  Dia hapal, tapi dia nggak paham.  Kalau dia paham, dia nggak berhutang tuh.. Kalau dia paham, dia nggak naikin BPJS.  Kalau dia paham,  dia nggak langgar Undang-undang  Lingkungan..."

    ****

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.