x

Iklan

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Selasa, 7 Januari 2020 13:34 WIB

Ria Irawan dan Hikmah "Biarkan Aku yang Pergi"

Ria Irawan telah menghadap keharibaan-Nya. Di tengah sakitnya, ia ingin berkata "Biarkan aku yang pergi ..."

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Di usia 50 tahun, aktris Ria Irawan berpulang untuk selamanya pada Senin, 6 JUanuari 2020 kemarin. Akibat kanker getah bening yang diidapnya. Menurut suaminya, sebelum mengembuskan napas terakhir, Ria Irawan sudah mengisyaratkan bahwa umurnya sudah tak lama lagi. Kata-kata terakhir yang diucapkan kira-kita “Sakitnya bikin capek", begitulah kira-kira.

Memang, kondisi sakit kanker yang menyerang Ria Irawan sebelumnya cukup parah. Karena yang diserang dua organ, otak sama paru. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Apa hikmahnya?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sekit bisa saja terjadi pada siapapun, pada setiap manusia. Sakit pun datangnya bisa diduga, bisa tidak terduga. Namun satu yang pasti, apapun yang terjadi pada manusia. Semua sudah menjadi kehendak-Nya. Manusia hanya bisa ikhtiar dan doa. Selebihnya Allah SWT yang menentukan.

 

Ria Irawan telah pergi.

Seperti hidup, tiap perjalanan pun harus berakhir. Mengakhiri, karena kita sudah memulai. Tidak ada sama sekali yang abadi selain Zat-Nya dalam hidup kita. Maka siapapun, harus siap untuk mengatakan, "biarkan aku yang pergi".

 

Pergi untuk menuju keharibaan-Nya.

Karena itu, jangan pernah menjauh dari-Nya. Jangan pernah menganggap enteng hubungan dengan-Nya. Jadikanlah setiap menit dan jam, untuk selalu mengingat-Nya. Malam-malam yang digunakan untuk bersenggama dengan Zat-Nya.

 

Karena sedetik pun manusia melepaskan-Nya. Untuk apa cinta dunia, bila akhrnya mengikis buaian cinta dan asmara dengan-Nya. Di antara gelaran sajadah hingga tetesan air mata. Air mata pengakuan tidak berdaya seorang anak manusia, yang terlalu mudah diombang-ambing ego, logika hingga emosi yang tak menentu.


Biarkan aku yang pergi.

Aku mengaku betapa kecilnya manusia di bentangan asma agung-Nya. Aku mengaku betapa banyaknya dosa anak manusia yang tidak disadari. Hingga tetesan air mata itu, kembali mengucur deras ketika menyentuh dinding-Nya, ketika mencium sajadah-Nya. Ketika menggapai pintu berkah-Nya. Maka katakan, "biarkan aku yang pergi".


Sedih. bila aku harus meninggalkan-Mu. Sungguh, terlalu banyak noda yang aku perbuat. Terlalu banyak duka yang aku tebar. Terlalu banyak celoteh yang tak berguna. Sementara DIA seakan terdiam membisu. Lalu, akal sehatku sempat bergeming "akulah segalanya". Aku angkuh, aku arogan, aku telah mengambil hak-Mu untuk memvonis, lalu menyalahkan yang lainnya.

Kini, aku tersadar bahwa aku bukan siapa-siapa, juga bukan apa-apa. Maka "biarkan aku yang pergi"...

Ciuman hangat-Mu, senyuman kasih-Mu di setiap nafasku adalah pertanda DIA tidak pernah sudi membiarkan aku menghadapinya sendiri. Zat-Mu selalu ada dan dekat dengan umat-Mu.


Aku pun terperanjak. Sadar. Bahwa berada di pangkuan-Mu yang lembut itu lebih baik daripada merasa bahagia dalam dekapan dunia. Aku hanya seorang hamba yang hina, papa. Aku yang harus mencintai-Mu. Aku pula yang wajib menyenangkan-Mu. Entah apapun, rasa dan keadaanku. Karena anugerah dan karunia-Mu terlimpah begitu besar padaku. Allahu Akbar.

Biarkan aku yang pergi.

Karena aku ingin sekali menjunjung-Mu dalam anganku. Aku ingin mempersilakan-Mu ada dalam hatiku. Aku ingin membiarkan-Mu menjadi impianku. Dan aku ingin terbang dalam dekapan-Mu.

Sebentar lagi, setiap manusia. Akan katakan biarkan aku yang pergi. Walau memelas pinta, merintih duka. Aku kan tetap mencari keabadian cinta-Mu.


Aku tahu. Bersama malam.

Kamu paham, siapa jiwa yang mengancam; siapa jiwa yang terancam. Hingga semua terlebur dalam kelam. Terkubur alam. Hingga sakit dan pahit itu terasa menjerit.

 

Maka tiada guna  harta pangkat dan jabatan. Bila tidak digunakan untuk menyenangkan-Nya. Bila tidak untuk mempedulikan umat-Nya. 


Biarkan aku yang pergi. Meninggalkan sesak menjauh dari-Mu. Melangkah jauh dalam bentang jalan-Mu. Agar jangan lagi aku ada tanpa-Mu. Karena DIA tahu. Aku sudah lebih kuat. Aku harus lebih baik dari penghakiman orang atas nama-Mu.

 

Maka di sisa usia, siapapun.

Hiduplah kita bersama manusia sebagaimana pohon yang berbuah. Sekalipun mereka melemparinya dengan batu. Tapi kita membalasnya dengan buah…  Wallahu a'lam bishowab

Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Interpolasi

Oleh: Taufan S. Chandranegara

22 jam lalu

Terpopuler

Interpolasi

Oleh: Taufan S. Chandranegara

22 jam lalu