Mengapa APSBARI Harus Lahir? Ini Identifikasi Masalahnya - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

APSBARI

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 27 Januari 2020 11:21 WIB
  • Peristiwa
  • Berita Utama
  • Mengapa APSBARI Harus Lahir? Ini Identifikasi Masalahnya

    Dibaca : 686 kali

    Rencana pembentukan Asosiasi Pembina Sepak Bola Akar Rumput Indonesia (APSBARI) mulai disusun.

    Diskusi antara Supartono (pengamat sepak bola nasional, pengamat pendidikan nasional dan sosial) dengan Dede Supriyadi (Direktur Indonesia Junior Soccer League) dan Manajemen IJSL, berlangsung pada Minggu, (26/1/2020) di sela-sela keriuhan anak-anak pesepak bola usia dini, Pekan Kedua Kompetisi Indonesia Junior Soccer League (IJSL) di NYTC Sawangan, Depok. Diskusi lahirnya APSBARI pun, lancar berjalan. 

    Sejatinya, diskusi tersebut juga akan dihadiri oleh Direktur Indonesia Junior League (IJL) Reza Lubis dan juga beberapa pihak lain, namun karena adanya kegiatan yang berbarengan, maka batal hadir. 

    Meski tak Hadir, melalui sambungan telepon, Reza pun menyampaikan hal yang sama seperti yang kami diskusikan hingga tercatat beberapa identifasi sebagai latar belakang mengapa APSBARi harus lahir.

    Bidan lahirnya APSBARI memang wajib dari kawah candradimukanya pembinaan dan kompetisi sepak bola usia dini, yaitu, IJSL dan IJL, khususnya di Jabodetabek, sebagai barometer pembinaan sepak bola akar rumput nasional. 

    Dalam kesempatan diskusi pembuka tersebut yang santai sambil menonton anak-anak usia dini bermain sepak bola, banyak ditelurkan butir-butir solusi mengapa pembinaan sepak bola akar rumput harus didampingi dan dilindungi. 

    Identifikasi masalah 

    Dari beberapa identifikasi masalah yang terjadi pada pembinaan sepak bola akar rumput, di antaranya, teridentifikasi bagaimana mudahnya lahir SSB, atau sejenisnya, bagaimana mudahnya seseorang menjadi pelatih SSB, bagaimana mudahnya seseorang menjadi pembina SSB dengan latar belakang yang jauh dari dunia sepak bola. 

    Lalu, bagaimana mudahnya seseorang menjadi pelatih SSB hanya berbekal sertifkat pelatih sepak bola, padahal SSB mengelola siswa yang sama seperti sekolah formal, dan pelatih adalah guru. 

    Seharusnya, tidak mudah untuk seseorang menjadi pelatih SSB, apalagi bila tak memiliki kualifikasi, meski sebagai mantan pemain sepak bola. 

    Lucunya festival, turnamen, hingga kompetisi antar SSB, yang campur-baur. Ada SSB yang asli pembinaan murni, ada SSB yang pemainnya seleksi, ada SSB yang pemainnya cabutan atau tarkam, ada SSB yang sukanya mengambil siswa/pemain dari SSB lain, ada SSB yang merasa menjadi anggota asosiasi ini dan itu, namun tenyata ikut dalam kompetisi yang sama mesti tetap dengan nama gaya-gayaan semacam akademi, soccer-soccer-an, dan sejenisnya, meski tempat, cara, dan segala bentuk pembinaannya juga sama seperti SSB pada umumnya. 

    Lebih miris, adanya pembinaan SSB yang menjamur, banyak Askot dan Askab yang masih bingung, sebab SSB belum terafiliasi menjadi anggota Askot dan Askab, sementara klub-klub anggota resmi Askot dan Askab justru banyak yang tidak memiliki SSB dan tidak memiliki pembinaan berjenjang, mulai dari kelompok umur akar rumput. 

    Lalu yang sangat menyedihkan, PSSI dan klub Liga 1 pun, demi kompetisi Elite Pro Academy (EPA) kini banyak yang main comot pemain SSB tanpa menghargai pembinaan SSB. 

    Bila ditelisik secara mendasar, begitu rumit dan kritisnya akar masalah di SSB. Namun, saat saya membentuk Asosiasi SSB pada 2001  yang tujuan awalnya demi mengakomodir pemain binaan SSB masuk dalam klub di wilayah bersangkutan, kini setelah saya serahkan ke teman-teman untuk mengelolanya, asosiasi tersebut juga malah melenceng dari tujuan dan visi-misi, dan malah menjadi semacam Event Organizer (EO) yang hanya menyelenggarakan festival atau kompetisi. Bukan itu tujuannya! 

    Dari sedikit identifikasi masalah pembinaan sepak bola akar rumput yang saya ungkap tersebut, seharusnya PSSI dan juga kepanjangan tangannya di daerah-daerah, yaitu Asprov, Askab, dan Askot menjadi pembina dan pelindung keberadaan SSB dan mengaku sejenisnya.

    Hingga kini, PSSI bukannya membina dan melindungi SSB, maalh bersama klub-klub juga malah merusak tatanan pembinaan yang benar, baik secara normatif maupun secara hukum. 

    SSB dan sejenisnya, semua yang ada di dalamnya harus ada pembenaran fungsi dan kedudukannya dalam tataran sepak bola nasional, seperti layaknya TK, SD, SMP, dan SMA dalam pendidikan formal. 

    Hingga sekarang keberadaan SSB dan sejenisnya masih ngambang tidak jelas, namun sangat jelas para pembinanya, para pelatihnya, para orang tuanya, masih sangat banyak yang belum layak menjadi bagian SSB dan sejenisnya karena banyak yang gagal paham aap sebenarnya SSB dan sejenisnya itu untuk apa. 

    Di sisi lain, juga sangat jelas, para siswa/pemain SSB hanya menjadi incaran rekrutan gratis sesama SSB dan sejenisnya demi keuntungan sendiri (peman/orangtua/SSB). Sangat-sangat jelas kini klub-klub yang regulasinya direstui PSSI, juga hanya comot-comot pemain gratis dengan berbagai dalih, malah ada klub yang memanfaatkan anak SSB seleksi terbuka dengan mencari "recehan". 

    Untuk itu, hadirnya APSBARI, memang sangat medesak. Terutama untuk mengawal fungsi dan kedudukan, pembinaan, dan perlindungan  SSB dan sejenisnya. Keberadaan APSBARI nantinya, akan mendorong segera bakunya fungsi dan kedudukan SSB khususnya di ranah Askot/Askab. 

    Berikutnya akan ada program pembinaan manajemen dan keorganisasian SSB dan sejenisnya secara formal. 

    Jangan sembarangan menggunakan kata sekolah atau akademi "sepak bola" bila apa yang ada di dalam SSB dan sejeninya belum ada standar yang disebut sekolah atau akademi. 

    Bila hal terkait manajemen dan keorganisasian nantinya sudah benar dan tertata, maka SSB dan sejenisnya yang memenuhi persyaratan pembinaan semacam sekolah/akademi formal baru akan ada pembinaan dan perlindungan. 

    Dengan demikian, bila di sekolah formal ada TK, SD, SMP, SMA atau SMK, maka di ranah SSB dan sejenisnya akan ada SSB pembinaan murni, SSB yang pemainnya pilihan/seleksi secara formal, dan dari jenis SSB tersebut, festival/turnamen/kompetisinya juga tidak boleh dalam satu atap. 

    Semoga hasil diskusi sederhana tersebut akan segera lahir APSBARI yang mendukung pembinaan sepak bola di akar rumput (usia dini dan muda)  yang cikal bakal nama Sekolah Sepak Bola (SSB) yang diinisiasi oleh Direktur Pembina Usia Muda PSSI (Almarhum Ronny Pattinasarany) pada tahun 1999 dalam wadah Kid's Soccer Tournament. 

    APSBARI, tentu akan melengkapi dan membantu arah pembinaan sepak bola akar rumput nasional, sehingga keberadaanya juga wajib didukung oleh seluruh stakeholder terkait terutama oleh pemerintah dalam hal ini Kemenpora dan Kemendiknas dan dilandasi oleh Undang-Undang karena pembentukannya nanti akan berdasarkan peraturan UU yang ada Meski sudah ada Badan Olahraga Profesional Indonesia yang selanjutnya disingkat (BOPI), yang berwenang melakukan pembinaan, pengembangan, pengawasan dan pengendalian terhadap setiap kegiatan olahraga profesional Indonesia, lalu ada, seperti Undang-undang Nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. 

    APSBARI juga akan mendukung keberadaan Asosiasi Pemain Sepakbola Profesional Indonesia (APPI) yang berdiri demi  melindungi para pemain profesional di Indonesia, termasuk para pemain asing di Liga Indonesia. 

    Selain APPI, saya juga mencatat telah hadir Asosiasi Pemain Sepakbola Nasional Indonesia (APSNI). Baik APPI dan APSNI,  visi-misinya sama seperti Professional Footballers' (PFA) yaitu Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional PFA lahir tanah Inggris.

    PFA didirikan sejak 1907, adalah serikat pekerja bagi para pemain sepak bola profesional di Inggris dan Wales. Organisasi ini adalah serikat pekerja olahraga profesional tertua di dunia, memiliki anggota lebih dari 4000, dan berafiliasi kepada Asosiasi Pemain Sepak Bola Skotlandia. 

    Semoga rintisan lahirnya APSBARI terus bergulir, hingga pada saatnya, akan ada peresmian APSBARI. Aamiin. 


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.