Cara Menghindari Ghoflah atau Lalai - Urban - www.indonesiana.id
x

ghoflah atau lalai

Allifna Rohmatal ' Aza

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Januari 2020

Selasa, 4 Februari 2020 10:33 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Cara Menghindari Ghoflah atau Lalai

    Ghoflah atau lalai merupakan salah satu penyakit hati yang maknanya mengikuti kemauan dirinya yang menyebabkan terlalaikannya sesuatu dan Allah tidak akan menurunkan sebuat penyakit kecuali ada obatnya.

    Dibaca : 3.206 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Ghoflah atau lalai merupakan salah satu penyakit hati yang maknanya mengikuti kemauan dirinya yang menyebabkan terlalaikannya sesuatu dan Allah tidak akan menurunkan sebuat penyakit kecuali ada obatnya. Nah, mari kita bahas bagaimana penyembuhan dari penyakit ini berdasarkan pemahaman dari Al-Quran, hadist, dan beberapa pernyataan dari para ‘ulama.

                       Yang perlu kita ketahui pertama kali yaitu ilmu. Ilmu yang dimaksud adalah bagaimana kita mengetahui dan memahami ke-esaan Allah ta’ala. Selain itu, ilmu syar’i seperti Al-Quran dan Sunnah, fiqih, akhlak Islamiyah, siroh nabawiyah, sejarah Islam, serta ilmu tentang lalai itu sendiri dan bagaimana perilaku lalai itu dicela dalam Al-Quran dan Sunnah serta ancaman bagi pelakunya.

                       Ilmu sering dikaitkan dengan al-khosyah (takut kepada Allah), bahkan siapa yang belum merasa takut kepada Allah, tidak bisa dikatakan berilmu, seperti  yang difirmankan Allah ta’ala yang artinya “Bahwasanya yang merasa takut kepada Allah adalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Agung dan Maha Pengampun”.

                       Yahya bin Ammar berkata : “Penyakit hati dan penyembuhannya menurut Syaikh Islam Ibn Taimiyyah yaitu ( ilmu yang lima ) : ilmu tauhid yaitu kehidupan agama, ilmu kegizian agama yaitu Al-Quran dan Sunnah, ilmu obat agama yaitu ilmu fatwa, ilmu penyakit agama yaitu perkataan yang tidak bermanfaat, dan ilmu yang mematikan agama yaitu ilmu sihir dan sejenisnya.”

                       Yang kedua, menerima dengan lapang dada peringatan dan nasihat orang lain yang berkenaan dengan Alllah ta’ala,, ayat-ayat Nya, dan hari kiamat. Allah ‘azza wa jalla telah mengabarkan kepada Nabi Nuh ‘alaihissalaam ketika dia menyerukan dakwah kepada kaumnya tentang tanda-tanda kebesaran Allah yang tertuang dalam Q.S. Nuh ayat 10-20. Diantara tanda kebesaranNya yaitu turunnya hujan yang deras, tanda-tanda penciptaan makhluk di langit dan bumi, kenikmatan Allah ta’ala yang diberikan kepada mereka berupa harta dan anak-anak, tanda-tanda penciptaan asal manusia dari tanah, kenikmatan berupa perkebunan, persawahan, sungai, dan buah-buahan, dan tanda kebesaranNya ketika hari kebangkitan setelah kematian.

                       Yang ketiga, mengingat keesaan Allah secara berkala dan selalu merasa takut kepadaNya. Cara yang dapat dilakukan yakni :

    1. Menerima sebuah peringatan dan memulai dengan perbuatan yang positif.
    2. Melakukan perbuatan tersebut secara terus-menerus atau istiqomah dan ikut mengingatkan dan memberi manfaat kepada mereka yang lalai.
    3. Meneruskan pembelajaran atau peringatan dengan ilmu yang bermanfaat, juga mempengaruhinya dalam ketakwaan.
    4. Berbuat kebaikan dengan ilmu tersebut.

                       Yang keempat, al-yaqidzhoh atau kesadaran. Maksudnya adalah menyadarkan hati agar selalu waspada terhadap hal-hal yang membuatnya lalai.

                       Yang kelima adalah berdoa, yang merupakan jurus untuk menghindari lalai, baik doa untuk menghindari lalai itu sendiri atau doa yang berkenaan dengan masalah. Keutamaan doa sangat banyak dan sudah tidak diragukan lagi, karena dia merupakan wasilah bagi Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam kepada Rabb-nya, dan tali penghubung bagi seorang hamba kepada Pencipta-nya untuk mengadukan berbagai persoalan hidup yang dihadapinya.

                       Yang keenam, menjaga sholat lima waktu. Sholat juga merupakan tali penghubung seorang hamba kepada Rabb-nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu “Siapa yang menjaga sholat lima waktu, maka dia tidak termasuk ke dalam golongan orang yang lalai.”

                       Yang ketujuh, menjaga sholat malam atau tahajjud. Sesungguhnya sholat malam merupakan tanda orang-orang sholih. Betapa banyak pujian yang diberikan Allah kepada mereka yang senantiasa menjaga sholat malam dalam firman-Nya, dan mengajak serta mengimbau umatnya untuk bertahajjud.

                       Yang kedelapan, ketakwaan. Jika orang-orang bertakwa masuk dalam lingkaran syaitan atau kelalaian yang akan menjerumuskan mereka kepada sebuah dosa, maka Allah akan langsung mengiring mereka kembali kepada kebenaran dengan rahmat-Nya, dan menuntun kepada ketakwaan, juga keistiqomahan. Allah berfirman yang artinya “Sesungguhnya Allah ta’ala bersama orang-orang yang bertakwa dan mereka merupakan ornag-orang yang baik.”

                       Yang kesembilan, selalu mengingat Allah, mengingat nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya serta selalu memuji-Nya juga menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang tidak pantas untuk Allah.

                       Yang kesepuluh yaitu tilawatul quran dan tadabbur quran. Cara ini sangat ampuh dan bermanfaat untuk menghilangkan penyakit ghoflah. Di dalam Al-Quran, terdapat hukum syariat seperti halal dan haram, juga ancaman dan balasan terhadap semua perbuatan yang dilakukan manusia.

                       Yang kesebelas, membaca dan tadabbur hadits Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam.

                       Yang kedua belas, zuhud terhadap dunia dan pengetahuan tentang kehidupan dunia yang fana. Menghayati perumpamaan yang diberikan Allah dalam Quran dan hadits juga mampu menjadi obat dari kelalaian.

                       Yang ketiga belas, banyak mengingat kematian dan hari kiamat. Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya “Perbanyaklah kalian dalam mengingat kematian.” Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam dalam hadits ini tidak memerintahkan kita untuk mengingat kematian sekali atau dua kali, namun dengan kata “perbanyaklah” yang berarti secara terus menerus.

                       Yang keempat belas, berteman dengan orang yang banyak mengingat Allah. Cara ini sangat  bermanfaat karena dapat mempengaruhi secara cepat. Maka dari itu, kita harus memilih teman yang baik agar menjadi lebih baik.

                       Yang kelima belas, menjauhi perbuatan buruk yang menjadi kebiasaannya, serta menjauhi maksiat. Maksiat dan kelalaian merupakan dua sebab kerusakan sebuah generasi. Jika kita menghindari maksiat, maka secara tidak sadar kita telah menolong generasi tersebut dari sesuatu yang tidak diinginkan.

                       Yang keenam belas, mengatur waktu agar tidak terbuang sia-sia, karena kehidupan manusia di dunia agar terhenti ketika ruh di dalam tubuhnya keluar. Maka ketika itu, tidak ada sesuatu yang dapat mengembalikannya kepada keadaan semula.

                       Dari  pembahasan tersebut, semoga kita dapat mengambil banyak pelajaran dan lebih berhati-hati dalam beramal, karena setiap amal perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban.

     

    Referensi :  Kitab al-Ghoflah karangan Syaikh Abdurrahman bin Abdul Qodir Al-Ma’maly

     

    Ikuti tulisan menarik Allifna Rohmatal ' Aza lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Mulia Zachrie

    Jumat, 13 Januari 2023 21:58 WIB

    Digital Marketing di Era 4.0

    Dibaca : 466 kali