Dinamika Politik Praktis Dianggap Sensitif atau Sekedar Cari Sensasi? - Analisis - www.indonesiana.id
x

foto ini diambil dicirebon jawa barat

Alhemo Nawir Chanel

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Desember 2019

Senin, 24 Februari 2020 06:40 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Dinamika Politik Praktis Dianggap Sensitif atau Sekedar Cari Sensasi?

    Politik demokrasi berawal yang lahir di sebuah daerah di Yunani lebih tepatnya di Athena  pada tahun 508-507 SM pada kepemimpinan Cleisthenes. Jadi di Athena terdapat sebuah lapangan dimana semua kaum laki - laki yang sudah cukup usianya kemudian berkumpul guna berpartisipasi dalam pengambilan keputusan bersama

    Dibaca : 2.621 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Penulis : Nhawir Alhemo

    Bahwa politik demokrasi berawal yang lahir di sebuah daerah di Yunani lebih tepatnya di Athena  pada tahun 508-507 SM pada kepemimpinan Cleisthenes. Jadi di Athena terdapat sebuah lapangan dimana semua kaum laki-laki yang sudah cukup usianya kemudian berkumpul guna berpartisipasi dalam pengambilan keputusan bersama.  Berawal dari Athena, kemudian demokrasi modern terus di kembangkan hingga kini menjadi sistem politik yang banyak diadopsi oleh berbagai negara, termasuk Indonesia menganut politik seperti ini.

    Bahwa politik yang dianut Indonesia adalah politik demokrasi yang berlandaskan Pancasila, dinamika politik di negeri ini sangat menarik diskusikan di kalangan intelektual. Politik dianggap kaum muda, tidak lepas kita berbicara dari cara pandang mahasiswa menganggap politik itu sangat sensitif masuk di ruang lingkup kampus.

    Dinamika yang terjadi dalam ruang lingkup kampus tidak lepas dari bagaimana mahasiswa mampu membaca nalar politik praktis, politik yang dianggap kaum akademisi, dimana politik yang terjadi di Indonesia bisa dikatakan dalam keadaan tidak sehat. Bahwa politik bukan lagi sebagai pengatuhuan  yang mengatur mengenai ketatanegaraan atau kenagaraan, yang meliputi system pemerintahan dan masyarakat, demi mencampai masyarakat yang adil dan makmur. Tapi politik terjadi hari ini hanya sekedar bagaimana mencari ruang dan tuan, memperkaya partai politik, kelompok tertentu, maupun memperkaya individu politikus itu sendiri. Sehingga masyarakat tidak dipikirkan lagi, waktu kampanye pilkada maupun pilpres, mereka dengan semangat menyuarkan keadilan dan kemakmuran masyarakat lewat visi dan misi yang mereka buat, itu sebenarnya jebakan betmen, kalau sudah masuk perangkap gak bisa keluar lagi.

    “Ya siapa suruh masuk kalau gak bisa keluar, ya mendingan diam diri, tunggu nasi bungkus datang biar kenyang”  Ya! Itu, memang begitu konsep politik, politiknya gak sehat, karena yang dikomsusi kurang vitamin dan protein, jadi wajar yang diproduksi otak dan otot lebih banyak lemak ketimbang vitamin dan protein.

    Ujung-ujungnya   harus saling menjatuhkan, bagaimana harus bisa kuasai panggung, duduk santai dikursi kekuasaan yang empuk. Cari sensasi kan wajar, biar dapat panggung, biar kita bisa pesta bareng-bareng rayakan kemenangan, ujung-ujung cari kesenangan, bahwa kita pernah berjuang bersama-sama meleburkan kampanye dimana-mana dengan jargon yang penuh dengan sensasi, jargon dipasang dibaliho paslon dengan kalimat yang unik dan menarik, sehingga masyarakat bisa tertarik. Banyak yang mengeluarkan taring kepengen cari mangsa  dimana-mana, ada pula figur yang diam-diam cari ruang sebunyi dibalik jubah kekuasaan demi numpang nama, harus rebutan biar dapat jatah jabatan. 

    Apa yang dimaksud politik praktis?

    Kata “praktis” di sini memiliki arti yang mengacu pada “berdasarkan praktik (kbbi.web.id)”, sedangkan praktik berarti perbuatan menerapkan teori. Dalam tulisan ini kita membahas bagaimana  bisa memetahkan politik praktis yang bersifat membangun atau sebaliknya?

    Bahwa politik wajar dipandang secara sensititif dikalangan mahasiswa dan masyarakat, barometer penilaian mahasiswa dan masyarakat bahwa politik dianggap sebagai system yang hanya bergerak pada aspek kepentingan partai politik, memperkayaan aset-aset partai, kemudian mementingkan elit-elit politikus. Sehingga jelas terbelakangi kepentingan masyarakat, demi memperbaiki keadaan diruang lingkup kelompok tertentu.

    Pada hakikatnya politik  tidak lepas dari kehidupan kita setiap hari. Segala bentuk kehidupan maupun kebutuhan kita tidak lepas dari kebijakan politik. Naik dan turunya  kebututuhan masyarakat, baik dari kebutuhan sembako maupun kebutuhan kecantikan tidak lepas dari kebijakan politik, kemudian mahal nya Pendidikan juga tidak lepas dari kebijakan politik.

    Ibnu sina berpendapat bahwa politik tidak dapat dipisahkan dari agama, karena hampir dari cabang ilmu -ilmu islam ada hubungan nya dengan politik. Misalnya tentang “terjadinya dan berakhirnya” yang dinamakan mabda wa al-ma’ad, nubuwah dan da’wah (kenabian dan propaganda agama) bahwa Nabi dan Rasul menyebarkan ajaran agama tidak lepas dari konsep politik.

    Edukasi politik yang dibangun oleh kaum intelektual terhadap masyarakat harus politik yang bersifat etis bukan pada wilaya politik yang bersifat transaksi sehingga dapat menghancurkan demokrasi dan Pancasila sebagai landasan negara. Politik yang bersifat transaksi ini ujung-ujung lebih dominal pada sifat finasialisasi. Maka lahirnya politik kepentingan, memanfaatkan segala sesuatu demi mencapai apa yang diinginkan oleh elit-elit politisi.

    Perlu kita melibatkan diri di ruang lingkup masyarakat memberikan edukasi politik, bahwa kesadaran masyarakat perlu diubah baik dari pola pikir maupun bertindak untuk menganalisis lebih dalam tentang politik yang terjadi dinegara ini. Pemerintah dan pemimpin selalu berhadapan dengan masyarakat dan kelompok-kelompok. Proses politik yang dianut oleh pemerintah harus berlandaskan pada aturan yang berlaku, harus merujuk pada referensi yang sudah diuji kebenarannya, sehingga dapat menambah wawasan berpolitik, sehingga tidak terjebak pada politik praktis yang kurang etis, bisa melahirkan sikap berpolitik yang adil, mengedepankan kepentingan masyarakat maupun kelompok-kelompok, dan harus nya pemimpin itu berdiri di atas semua golongan tampa membedakan etnis maupun kultur, keadilan harus diemban oleh pemimpin bagaimana bisa mengsejahterahkan masyarakat baik dikalangan ekonomi, sosial, maupun politik itu sendiri.

     

    Yogyakarta 23 febuari 2020

    Ikuti tulisan menarik Alhemo Nawir Chanel lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.