Corona Case: Jujur dan Transparan Memudahkan Komunikasi

Kamis, 5 Maret 2020 18:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dalam situasi genting, komunikasi yang jujur dan transparan menjadi bagian terpenting, sebab dari sinilah sikap saling memercayai di antara stakeholders bangsa terbangun. Bila pemerintah menguasai benar pokok persoalannya dan mengerti apa langkah-langkah yang harus dan akan ditempuh, masyarakat akan mudah menerima kebijakan yang diambil.

Ujian bagi ketangguhan kepemimpinan berlangsung pada masa genting. Dalam situasi tertentu, kegentingan dalam isu politik dapat lebih mudah ditangani dibandingkan dengan isu kesehatan. Dalam politik, politikus dapat dengan relatif mudah melakukan manuver dengan menggunakan segala cara yang mungkin ia tempuh. Masyarakat yang ia hadapi pun boleh jadi majemuk atau terbelah ke dalam dua kubu yang berbeda pandangan--sebagian mendukungnya dan sebagian yang lain menentangnya. Bagi politikus yang lihai dan gemar bersiasat ('siasat' dalam tanda kutip dengan konotasi negatif), ia sanggup memainkan kedua kubu itu demi keuntungannya.

Dalam isu kesehatan, masyarakat tidaklah semajemuk itu, bahkan cenderung lebih homogen, sebab masyarakat memiliki kepentingan yang sama yaitu agar kesehatannya tetap terjaga. Tidak ada warga masyarakat yang mau sakit, apapun kecondongan politiknya. Karena itu, seorang politikus akan sulit bersiasat (lagi, 'siasat' dalam tanda kutip) sebab ia akan membentur bangunan yang satu--masyarakat yang bersatu karena kepentingan akan kesehatan mereka. Dalam isu kesehatan seperti Corona, politikus tidak akan bisa seenak udelnya untuk mempermainkan masyarakat--walaupun sebenarnya ini tidak harus menjadikan para anggota DPR terlihat gagap dalam merespons situasi.

Lantas apa yang perlu dilakukan politikus yang kebetulan tengah menempati posisi kepemimpinan dalam masyarakat ketika situasi genting dihadapi? Bersikap jujur, transparan, dan menyusun rencana dengan satu tujuan yaitu menyelamatkan masyarakat dari ancaman terhadap kesehatan mereka. Bukan waktu yang tepat untuk mengambil keuntungan atau advantage dari situasi kesehatan yang sedang genting, termasuk keuntungan ekonomi maupun politis.

Kejujuran adalah bekal penting untuk memahami persoalan yang sedang dihadapi: jika tidak tahu, bertanya kepada yang tahu; jika diingatkan, ya berterima kasih; jika keliru, mau belajar dan segera memperbaiki. Pendeknya, inilah sikap yang menggambarkan kesediaan seorang pemimpin [dalam konteks ini pejabat publik] untuk segera belajar dan adaptif terhadap situasi atau lazim disebut agile learning. Keengganan untuk bersikap jujur dan rendah hati berpotensi menyulitkan langkah berikutnya yang harus dikuasai, yaitu keprigelan dalam berkomunikasi.

Dalam situasi genting, apapun wujudnya--mungkin bencana alam gempa, banjir, atau wabah penyakit, komunikasi yang jernih dan jujur menjadi bagian terpenting, sebab dari sinilah sikap saling memercayai di antara stakeholders bangsa terbangun. Bila pemerintah menyampaikan informasi secara jujur dan transparan, serta menguasai benar pokok persoalannya dan mengerti apa langkah-langkah yang harus dan akan ditempuh, masyarakat akan mudah menerima kebijakan yang diambil.

Sebaliknya, apabila pemerintah terkesan tidak terbuka dalam menyampaikan situasi yang sebenarnya, masyarakat akan cenderung tidak percaya dan menduga bahwa pemerintah mempunyai agenda lain di balik situasi yang dihadapi. Misalnya saja, andaikan pemerintah memiliki informasi penting mengenai perkembangan Corona, namun karena agenda ekonomi harus dijaga agar dampaknya minimum, maka informasi itu lantas ditahan. Masyarakat umumnya sulit menerima perlakuan ini dan mereka akan mencari informasi dari sumber-sumber lain. Syukur bila sumber lain itu dapat diandalkan, bila tidak maka masyarakat dapat dengan mudah terjebak oleh hoax dan dis-informasi.

Akan lebih bagus bila pemerintah menyampaikan secara terbuka semua informasi yang dimiliki, langkah-langkah yang sedang dan akan diambil, memberi edukasi kepada masyarakat bagaimana menghadapi situasi, maka masyarakat akan menerima dan memberi dukungan. Karena tahu benar bahwa pemerintah mengambil langkah-langkah yang jelas dan terarah, kepanikan masyarakat justru dapat ditekan. Ekonomi mungkin tertekan, tapi tidak berlebihan sebab masyarakat memercayai pemerintahnya dan tetap aktif menjalakan aktivitas ekonomi dalam batas-batas tertentu. Panic buying pun dapat dihindari. Ekonomi juga dapat dipulihkan bila kesehatan masyarakatnya terjaga karena penyebaran virus dapat dibatasi.

Penting bagi masyarakat untuk mengetahui bahwa pemerintahnya mengerti benar situasi yang dihadapi dan tahu benar langkah-langkah yang harus dan akan ditempuh. Bila ini dilakukan, masyarakat tidak akan mudah digoyahkan oleh hoax maupun dis-informasi. Misalnya saja, jika rumah sakit di daerah memang belum memiliki ruang isolasi, pemerintah dapat mengatakan yang sebenarnya disertai pernyataan bahwa pemerintah segera menyiapkan ruang isolasi yang dibutuhkan--pernyataan ini jujur, transparan, dan masyarakat tahu apa yang hendak dilakukan pemerintah. Masyarakat pun tidak panik karena tahu apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Masyarakat akan memercayai kesungguhan pemerintah dalam upaya mengendalikan situasi apabila pemerintah bersikap terbuka dan berkomunikasi dengan cara yang benar. >>

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler