Berdiam di Rumah, Kesempatan Kumpul Keluarga - Analisis - www.indonesiana.id
x

lustrasi keluarga besar. shutterstock.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 17 Maret 2020 19:07 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Berdiam di Rumah, Kesempatan Kumpul Keluarga

    Dengan berada di rumah, aktivitas isolasi diri dari aktivitas sosial merupakan wujud solidaritas yang baik untuk semua agar kondisi masyarakat kita segera pulih. Dengan tinggal di rumah, risiko diri sendiri untuk tertular Corona lewat interaksi sosial di tempat-tempat umum dapat dikurangi. Ikhtiar mesti tetap dilakukan, sendiri maupun bersama-sama. Soliter untuk solidaritas.

    Dibaca : 2.563 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya


    Bagi kebanyakan orang, menyendiri bukanlah langkah yang mudah. Banyak orang merasa lebih 'hidup' jika berada di antara orang-orang lain. Mereka merasa nyaman terjun di tengah kerumunan ataupun jadi bagian dari massa. Sebagian orang mungkin memang sudah terbiasa menyendiri, hidup soliter, bahkan di tengah hiruk pikuk sekalipun ia tetap bisa hidup di dunianya sendiri.

    Di zaman invasi Corona seperti saat ini, soliter dibutuhkan demi kebaikan bersama, bukan sekedar untuk kebaikan diri sendiri. Soliter untuk solidaritas, demi kesehatan bersama. Lagi pula sebenarnya bukan sungguh-sungguh soliter. Di rumah masih ada orang lain, ayah dan atau ibu, kakak, adik keponakan, suami atau isteri, anak, cucu, kakek nenek, dan kerabat lain. Jadi tidak benar-benar hidup sendirian.

    Dengan menetap di rumah, kita tidak benar-benar soliter. Kita masih bisa ngobrol dengan keluarga dan kerabat di rumah. Bahkan, orang tua dan anak yang biasanya hanya bisa makan bersama saat malam hari karena anak sekolah, kuliah, atau bekerja, kini punya kesempatan untuk sarapan bareng dengan tenang, tidak terburu-buru, serta punya waktu untuk makan siang bersama. Masih bisa berhaha-hehe bareng-bareng sembari nonton drakor. Kesempatan langka, bukan?

    Mestinya sih tidak sepi dan bete, walaupun tinggal di rumah. Tidak sepi kecuali jika masing-masing penghuni rumah asyik di kamar masing-masing, entah bermain gadget sendiri, nonton teve, dengerin musik pakai earphone, atau tidur sepanjang hari dan bangun ketika penghuni lainnya berangkat tidur.

    Jika seisi rumah sehat semua dan sama-sama sepakat tinggal di rumah, acara bersama dapat dikreasi. Masak bersama, mencoba resep masakan baru, bikin nasi kebuli. Lalu makan bersama yang jarang dilakukan kecuali di hari-hari istimewa. Nonton bioskop teve bersama, mau netflix atau yang lain.

    Di luar rumah, social distancing (alias menjaga jarak dari orang lain) penting dipraktekkan jika memang mesti ngantor atau ada pekerjaan darurat yang harus diselesaikan di tekape. Di dalam rumah, inilah peluang untuk dekat dengan keluarga tanpa harus melepaskan pekerjaan kantor. Rapat dengan tim atau melapor kepada bos bisa dilakukan melalui saluran videoconference.

    Dengan berada di rumah, aktivitas isolasi diri dari aktivitas sosial merupakan wujud solidaritas yang baik untuk semua agar kondisi masyarakat kita segera pulih. Dengan tinggal di rumah, risiko diri sendiri untuk tertular Corona lewat interaksi sosial di tempat-tempat umum dapat dikurangi. Ikhtiar mesti tetap dilakukan, sendiri maupun bersama-sama. Soliter untuk solidaritas.

    Sebenarnya sih, jaga jarak maupun isolasi mandiri di rumah tidaklah memadai, diperlukan tes masal untuk memastikan negativitas terhadap infeksi. Jadi, sewaktu berkumpul dengan keluarga, kita merasa nyaman sebab tahu bahwa kita sama-sama sehat. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.