Berdiam di Rumah, Kesempatan Kumpul Keluarga - Analisis - www.indonesiana.id
x

lustrasi keluarga besar. shutterstock.com

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 17 Maret 2020 19:07 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Berdiam di Rumah, Kesempatan Kumpul Keluarga

    Dengan berada di rumah, aktivitas isolasi diri dari aktivitas sosial merupakan wujud solidaritas yang baik untuk semua agar kondisi masyarakat kita segera pulih. Dengan tinggal di rumah, risiko diri sendiri untuk tertular Corona lewat interaksi sosial di tempat-tempat umum dapat dikurangi. Ikhtiar mesti tetap dilakukan, sendiri maupun bersama-sama. Soliter untuk solidaritas.

    Dibaca : 2.418 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya


    Bagi kebanyakan orang, menyendiri bukanlah langkah yang mudah. Banyak orang merasa lebih 'hidup' jika berada di antara orang-orang lain. Mereka merasa nyaman terjun di tengah kerumunan ataupun jadi bagian dari massa. Sebagian orang mungkin memang sudah terbiasa menyendiri, hidup soliter, bahkan di tengah hiruk pikuk sekalipun ia tetap bisa hidup di dunianya sendiri.

    Di zaman invasi Corona seperti saat ini, soliter dibutuhkan demi kebaikan bersama, bukan sekedar untuk kebaikan diri sendiri. Soliter untuk solidaritas, demi kesehatan bersama. Lagi pula sebenarnya bukan sungguh-sungguh soliter. Di rumah masih ada orang lain, ayah dan atau ibu, kakak, adik keponakan, suami atau isteri, anak, cucu, kakek nenek, dan kerabat lain. Jadi tidak benar-benar hidup sendirian.

    Dengan menetap di rumah, kita tidak benar-benar soliter. Kita masih bisa ngobrol dengan keluarga dan kerabat di rumah. Bahkan, orang tua dan anak yang biasanya hanya bisa makan bersama saat malam hari karena anak sekolah, kuliah, atau bekerja, kini punya kesempatan untuk sarapan bareng dengan tenang, tidak terburu-buru, serta punya waktu untuk makan siang bersama. Masih bisa berhaha-hehe bareng-bareng sembari nonton drakor. Kesempatan langka, bukan?

    Mestinya sih tidak sepi dan bete, walaupun tinggal di rumah. Tidak sepi kecuali jika masing-masing penghuni rumah asyik di kamar masing-masing, entah bermain gadget sendiri, nonton teve, dengerin musik pakai earphone, atau tidur sepanjang hari dan bangun ketika penghuni lainnya berangkat tidur.

    Jika seisi rumah sehat semua dan sama-sama sepakat tinggal di rumah, acara bersama dapat dikreasi. Masak bersama, mencoba resep masakan baru, bikin nasi kebuli. Lalu makan bersama yang jarang dilakukan kecuali di hari-hari istimewa. Nonton bioskop teve bersama, mau netflix atau yang lain.

    Di luar rumah, social distancing (alias menjaga jarak dari orang lain) penting dipraktekkan jika memang mesti ngantor atau ada pekerjaan darurat yang harus diselesaikan di tekape. Di dalam rumah, inilah peluang untuk dekat dengan keluarga tanpa harus melepaskan pekerjaan kantor. Rapat dengan tim atau melapor kepada bos bisa dilakukan melalui saluran videoconference.

    Dengan berada di rumah, aktivitas isolasi diri dari aktivitas sosial merupakan wujud solidaritas yang baik untuk semua agar kondisi masyarakat kita segera pulih. Dengan tinggal di rumah, risiko diri sendiri untuk tertular Corona lewat interaksi sosial di tempat-tempat umum dapat dikurangi. Ikhtiar mesti tetap dilakukan, sendiri maupun bersama-sama. Soliter untuk solidaritas.

    Sebenarnya sih, jaga jarak maupun isolasi mandiri di rumah tidaklah memadai, diperlukan tes masal untuk memastikan negativitas terhadap infeksi. Jadi, sewaktu berkumpul dengan keluarga, kita merasa nyaman sebab tahu bahwa kita sama-sama sehat. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Karmila Yusuf

    1 hari lalu

    Proyek Based Learning Melalui Media Daring Memanfaatkan Akun Media Sosial Menciptakan Merdeka Belajar dan Mewujudkan Pelajar Berprofil Pancasila dalam Pembelajaran Terbatas di Masa New Normal

    Dibaca : 74 kali

    Terlepas dari aturan pemerintah daerah yang menghimbau anak anak untuk tidak membawa Hp ke sekolah, justru sekarang sebaliknya anak anak malah harus membawa Hp tapi tetap dalam kontrol ibu bapak gurunya disekolah. Pada pertengahan Oktober lalau terkait penyebaran covid 19 dimana daerah NTB mulai memasuki zona orans ke hija, pemerintah daerah mengacu pada pernyataan mas menteri yang membolehkan daerah zona orens untuk melakukan kegiaatn simulasi pembelajaran dengan protokol kesehatan yang ketat. Sekolah kami melakukan kegiatan simulasi dengan model sip, sehingga anak anak disekolah belajar per mapel selama 45 menit. Berangkat dari itu maka semua guru diminta untuk menyiapkan materi esensial yaitu materi yang dianggap paling penting yang sudah disesuaikan dengan KD setiap bab mata pelajaran. Hal inilah yang memunculkan ide saya dalam mengEmbangkan model pembelajaran Projek Beased Learning, projek anak anak dipembelajaran ini cukup berbeda, anak anak disekolah hanya membahas materi esensial saja selebihnya 80% pembelajaran dilakukan secara berkelompok dirumah dan semua penilaian dilakukan melalui media sosial yaitu melakukan promosi hasil karya melalui WA, Fb, IG ataupun media sosial lainnya, mereka harus memiliki sebuah toko online yang di aplikasinya melalui Hp. Dalam pembelajaran ini anak anak secara tidak langsung akan terlihat kemampuan sesuai dengan profil pancasila yaitu yaitu gotong royong, kreatif, bernalar kritis dan mandiri serta anak anak dapat berekspresi sehingga terwujudnya merdeka belajar. Merujuk dari pemikiran Ki Hajar Dewantara yang mengatakan semua anak itu berbeda dan setiap perbedaan adalah unik, guru itu bukanlah menuntut anak untuk harus mengikuti segalaa proses pembelajaran yang di dalam kendalinya namun guru tuganya menuntun anak sesuia kodrat yang melekat pada diri anak, dimana seoarang guru tidak dapat merubah kodrat anak melainkan hanya dapat menuntun kodrat tersebut layaknya seorang petani yang sedang menyemai padi. Tumbuhnya padi tidak bisa dipaksa seperti tumbuhnya tanaman jagung atau tumbuhan yang lainnya, tumbuhnya padi hanya bisa dioptimalkan menjadi padi yang tumbuh subur dan mengasilkan padi berkualitan tinggi. Anak anak SMA memang sudah lama mempelajari PKWU ( Prakarya dan Kewirausahaan ), anak anak sangat mumpuni dalam bereksperimen, mengenai alat alat rumah tangga seperti sendal jepit dan bermacam macam aksesoris lainnya, banyak jenis gaun gaun dari hasil limbah plastik yang merupakan hasil karya anak anak SMA di pelajaran dan seni budaya prakarya. Namun baru dua tahun ini anak anak dipokuskan pada makanan olahan tradisional yang digabung dengan makanan modern terkait dengan program pemerintah yaitu meningkatkan pengetahuan budaya lokal, anak anak praktik pengolahan makan sekaligus mempresentasikan olahan mereka sendiri yang dilakukan disekolah, sebagai tim penilai adalah Ibu Bapak guru disekolah. Berangkat dari potensi itu saya berpikir bahwa anak anak selain berkarya memang harus belajar berwirausaha terkait anak anak memang sudah memiliki modal utama yaitu mampu memproduksi makanan atau barang aksesoris lainnya. Selain itu pendidikan kewirausahan juga menguntungkan siswa dari semua latar belakang sosial ekonomi karena mengajarkan anak anak untuk berfikir luas, mengasah bakat dan keterampilan yang tidak konvensional. Lebih jauh lagi, ini dapat menciptakan peluang kerja, menjamin keadilan sosial, menanamkan kepercayaan diri dan merangsang ekonomi. Oleh karena itu saya mengajak anak anak untuk melihat dunia pasar yaitu pasar online, anakpun sekarang sudah lihai berseluncur ke dunia media sosial, saya hanya menuntun potensi mereka untuk mengidentifikasi media sosial, anak anak menemukan beragam toko toko online berseliwerran. Saya menanyakan kembali apakah anak anak siap beewirausaha bersma ibu guru sambil berkata jika memang ada pembelajaran wirausaha menurut anak anak yang membuat anak anak nyaman silahakan kita diskusikan bersama “untuk menciptakan merdeka belajar yaitu belajar atas dasar kemauan sendri”. Anak anakpun dengan semanagat mengatakan kami mau belajar berwirausaha bu guru. Dengan begitu saya mulai mengajak anak anak untuk merencakanan produk andalan apa yang akan diproduksi untuk di promokan ke media media sosila mereka, dengan membetuk kelompok kerja kemudian memberikan tips serta ilmu berwirausaha. Anak anak langsung saya minta mulai dari sekarang. Jadi anak anak membuat produk dan melakukan promosi dengan tetap saya kontrol melalui photo photo dan vidio vidio yang diunggah di media sosial atau dikirim langsung ke WA saya. Disekolah anak anak hanya membahas materi esensial saja terkait proses dalam memproduksi, tehnik mengemasan produk, dan tehnik pemasaran. Pada kesempatan inilah anak anak berkolaborasi anatar kelompok, dengan memperkenalkan produk produk ungggulan mereka bersamaan dengan proses serta kendala kendala yang anak anak temuan di lapangan. Disini terbentuk sebuah sinergi, saling mensuport, belajar saling menghargai serta memberikan masukan masukan berbentuk nilai nilai positif yang nantinya mampu memajukan iptek dan wawasan dunia luar secara bersama sama.






    Oleh: Tri Harjanto

    1 hari lalu

    Implementasi Merdeka Belajar Melalui Pembelajaran Daring Berdiferensiasi Pada Masa Pandemi Covid-19

    Dibaca : 107 kali

    Guru dituntut untuk semakin kreatif dan inovatif dalam upaya untuk mewujudkan merdeka belajar terlebih pembelajaran melalui daring karena masih dalam suasana pandemi Covid-19. Upaya mengimplementasikan merdeka belajar pada mata pelajaran Biologi SMA Kelas X, diterapkan melalui strategi pembelajaran daring berdiferensiasi pada pokok bahasan tentang virus. Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Untuk menentukan kebutuhan murid, guru harus memetakan kebutuhan belajar murid melalui kesiapan belajar (readiness) murid, minat murid dan profil belajar murid. Strategi pembelajaran berdiferensiasi terdiri dari diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Pada masa pandemi Covi-19 pembelajaran yang menarik, menantang, kolaboratif, komunikatif harus tetap berjalan. Upaya mewujudkan hal tersebut digunakan google meet sebagai media pembelajaran. Pada pembelajaran ini murid mendengarkan penjelasan seolah-olah bertemu di kelas, masih ada interaksi, umpan balik, diskusi dan unjuk karya produk hasil pembelajaran. Pembelajaran juga didasarkan pada minat yang dipetakan oleh guru sebelumnya, sehingga guru sudah mengetahui minat murid terhadap apa yang akan dipelajari saat itu. Pembelajaran dilaksanakan berdasarkan RPP pembelajaran berdiferensiasi yang telah dibuat sebelumnya oleh guru. Pokok bahasan pembelajaran adalah Virus, dengan kompetensi dasar 4.4 melakukan kampanye tentang bahaya virus dalam kehidupan terutama bahaya AIDS berdasarkan tingkat virulensinya melalui berbagai media informasi. Strategi pada tahap diferensiasi konten, murid bebas memilih virus yang menjadi target materi. Diferensiasi proses, murid yang tersebar dalam kelompok yang belum memahami materi, guru akan memberikan pembimbingan individual atau meminta teman satu kelompoknya yang sudah paham untuk membantu menjadi tutor sebaya atau mencari sumber belajar lain. Tahap selanjutnya adalah diferensiasi produk, dalam menyajikan proyek setiap kelompok bisa membuat dalam bentuk PPT, poster atau video sebagai media presentasi kampanye yang diunggah ke you tube. Pada pembelajaran daring berdiferensiasi ini, muird-murid terlihat merdeka belajarnya, hal ini dapat dilihat dari antusias, ketepatan menggunggah tugas, kemampuan diskusi, variasi produk dan sumber belajar yang dipakai. Pembelajaran berdiferensiasi mampu membantu murid mencapai hasil belajar optimal, karena produk yang mereka hasilkan sesuai minatnya.