Di Tengah Invasi Covid-19, Jagalah Diri agar Tetap Waras - Analisa - www.indonesiana.id
x

Corona

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 22 Maret 2020 13:16 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Di Tengah Invasi Covid-19, Jagalah Diri agar Tetap Waras

    Dibaca : 2.092 kali


    Jika kita ikut bergabung dengan beberapa grup WA, maupun membaca berita di media online serta menonton televisi, kita akan melihat beragamnya respons terhadap invasi Covid-19. Dari Presiden hingga pedagang kaki lima, dari artis ternama dan selebgram hingga pengangguran.

    Sebagian orang bersikap cemas dan cenderung panik mengenai apa yang harus dilakukan menghadapi perkembangan keadaan: jumlah kasus positif bertambah, begitu pula yang meninggal dunia, walau ada pula yang sembuh. Sebaran geografisnya pun makin meluas, jauh dari ibukota negara.

    Sebagian orang memborong bahan kebutuhan pokok hingga hand sanitizer dan berburu masker, berapapun harganya tidak peduli. Ada pula yang setiap kali habis memegang sesuatu, membasuh tangannya dengan sabun. Seluruh ruang rumahnya disemprot dis-infektan. Barang-barang pribadi tidak boleh disentuh orang lain. Mendorong pintu rumah bukan dengan memegang gagangnya, tapi siku tangannya mendorong daun pintu.

    Sebagian lagi merasa memahami cara-cara menghadapi Covid-19. Mereka cenderung rasional dalam bersikap, dalam pengertian tidak paranoid tapi juga tidak meremehkan. Mereka merasa tahu tentang apa yang harus dilakukan agar tidak terpapar Covid-19, atau jika merasa tidak enak badan harus melakukan apa. Mereka merasa berkepentingan untuk mengedukasi orang lain di samping menjaga diri masing-masing.

    Sebagian di antara mereka percaya bahwa jika Sang Pencipta menghendaki mereka terpapar, maka hal itu bakal terjadi. Namun, mereka berusaha untuk menjaga diri agar tidak terpapar. Jika ikhtiar sudah dijalankan, selebihnya dikembalikan kepada Sang Pencipta, yang juga menciptakan virus Corona. Jurus bumi alias ikhtiar manusia dan jurus langit alias berdoa sama-sama dikerahkan agar selamat dan sehat.

    Sebagian lagi merasa bahwa Covid-19 tidak begitu berbahaya seperti diberitakan, sehingga mereka masih juga mengikuti acara wisata atau kumpul-kumpul reuni. Mereka merasa tahu bagaimana mengadakan kegiatan yang aman. Bahkan, ada 'pemberani' yang menggelar resepsi pernikahan yang mengundang ratusan tamu. Di Bandung, misalnya, Sabtu malam berlangsung resepsi pernikahan dengan tamu undangan yang banyak. Di Samarinda, Ahad ini, kabarnya akan dilangsungkan resepsi besar-besaran sebab yang punya hajat seorang pejabat publik.

    Sebagian lainnya menjadikan corona sebagai bahan olok-olok, kelakar, dan canda. Mereka ini niscaya tahu bahwa virus ini sudah memakan korban jiwa hingga ribuan dalam waktu singkat. Namun, selera humor mereka tetap berjalan, bahkan terkadang berlebihan dalam membuat candaan sehingga terkesan agak aneh. Entah mereka memang masih sehat secara kejiwaan, atau memang begitulah cara mereka meredakan kecemasan dan ketegangan atau bahkan membuli orang lain dan menertawakan kepedihan orang lain.

    Ada pula yang sepenuhnya pasrah dan mengembalikan semua urusan sehat dan tidak, hidup dan mati, kepada Sang Pencipta tanpa melakukan ikhtiar apapun. Ikhtiar itu umpamanya menghindari kerumunan orang, menjaga kebersihan tubuh, menjaga jarak dengan orang lain agar tidak terpapar virus. Mereka merasa tak perlu melakukan berbagai ikhtiar semacam itu. Jika sudah waktunya, ya terima saja.

    Di grup WA manapun juga ada orang-orang yang tanpa beban apapun mengirim berbagai macam gambar, video, atau tulisan mengenai Covid-19, dan terkesan tanpa pikir panjang. Entah gambar, video, atau tulisan itu sudah diperiksa kebenarannya atau belum, apakah itu hoax atau bukan, mereka tidak peduli. Pokoknya disebarluaskan. Materinya tentu saja beragam, tak semuanya berguna, malah banyak yang bikin sesak napas.

    Di tengah hiruk-pikuk respons yang beragam seperti itu, penting bagi kita untuk menjaga diri, bukan saja kesehatan jasmani kita agar tidak terpapar Covid-19, tapi juga menjaga kesehatan jiwa agar tetap waras melihat kebenaran dan kebaikan. Menjaga kewarasan agar kita bisa berpikir jernih sungguh penting di tengah kegalauan seperti sekarang. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: sapar doang

    5 jam lalu

    Pilkada Era New Normal

    Dibaca : 13 kali

    Setelah beberapa kali melaksanakan pilkada lansung mulai tahun 2005 dan pilkada serentak dimulai 2015,2017, 2018 dan 2020 di tengah pandemi covid-19, tenyata kita belum cukup berhasil untuk membuktikan bahwa pilkada lansung adalah jalan demokrasi lokal terbaik untuk menghasilkan pemimpin daerah yang sepenuhnya kompeten dan beritegritas. Bahkan, pilkada lansung tidak jarang terjadi ironi karena hanya menghasilkan kepala daerah korupsi.tidak hanya itu, proses pilkada lansung sering juga kali menjadi ajang politik idententitas dan politik uang. pemerintah akhirnya memutuskan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah(Pilkada) serentak 2020 dimundurkan, akibat pandemi virus corona yang melanda indonesia, yang mulanya akan diselenggarakan pada 23 September 2020 menjadi 9 Desember 2020, lewat peraturan pemerintah penganti undang-undang nomor 2 tahun 2020 tentang perubahan ketiga atas undang-undang nomor 1 tahun 2015 tentang penetapan peraturan pemerintah penganti undang-undang nomor 1 tahun 2014 tentang pemilihan gubernur, bupati dan walikota menjadi undang-undang (Perpu Pilkada), pemerintah berasumsi tahapan penyelenggaran pilkada bisa dilaksanakan dengan berakhirnya pandemi virus corona pada juni 2020. Sebelum Perpu nomor 2 tahun 2020 terbit, terdapat beberapa opsi skenario tentang penundaan pilkada serentak 2020 akibat pandemi virus corona, Opsi A pelaksaan pemungutan suara dilakukan pada hari Rabu 9 Desember 2020, Opsi B. pelaksaan pemungutan suara dilakukan pada hari Rabu 17 Maret 2021, Opsi C. pelaksaan pemungutan suara dilakukan pada Rabu 29 September 2021.dan opsi yang pertama yang dipilih oleh pemerintah dinilai sangat berisiko luas terhadap penyelenggaran pilkada secara luas, sebab kemunggkinan tahapan akan dimulai di awal Juni 2020 dan virus corona di indonesia masih menunjukkan angka meningkatan. Sebanyak 270 daerah akan meneruskan tahapan lanjutan pemilihan pada tanggal 15 juni 2020, dengan syarat seluruh tahapan pilkada harus dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan dan berkoordinasi dengan Gugus tugas Covid-19 serta tetap berpedoman pada prinsip-prinsip demokrasi. Kebijakan itu akan membuat tahapan pilkada dimulai 15 juni. Nah, salah satu yang menjadi kekawatiran banyak pihak soal pilkada kali ini, karena kemungkinan berbarengan dengan masih banyak covid-19. Tentu bisa saja covid-19 tuntas sesegera mungkin. Sehingga, pada desember 2020 sudah tak ada lagi pandemi covid-19. Jika pandemi tuntas, pilkada tak akan memiliki masalah dengan faktor kesehatan masyarakat. Pemilu atau pemilihan era New normal menjadi keniscayaan seperti yang dilaksanakan disejumlah negara. Semua yang menyelenggarakan pemilu menerapkan protokol new normal untuk mencegah penyebaran virus corona, pen ggunaan masker, penyedian sanitasi untuk cuci tangan serta physical distancing sudah menjadi keharusan. Pemerintah tentu sudah mempertimbangkan potensi resiko dan mengusulkan langkah- langkah dalam melanjutkan tahapan pemilihan ditengah pandemi, sebagai contoh pemberlakuan protokol kesehatan yang diusulkan pemerintah dalam melanjutkan tahapan pilkada serentak 9 desember 2020. Kita bisa belajar dan mencontoh negara yang telah berhasil melaksanakan pemilu di masa pandemi covid-19. Melakukan tahapan pemilihan dengan memamfaatkan media teknologi imformasi untuk menghindari kerumunan. Bahkan demi menjamin keselamatan warganya. Ada negara yang menyediakan TPS khusus bagi pemilih 60 tahun keatas. Andai pilkada serentak tetap lanjut di 270 daerah atau hanya di sebagian wilayah, tetap saja pemerintah dan penyelenggara pemilu perlu inovasi tambahan untuk menjaga kualitas pilkada. Karena cukup potensial terjadi hambatan, baik dari segi substansi maupun teknis. Dalam kondisi normal saja politik elektoral daerah kerap menyimpan sejuta catatan kritis. Apalagi pilkada di tengah pandemi, tentu bakal dihantui begitu banyak kesulitan yang mungkin bisa merusak kredibilitas demokrasi. Banyak hal perlu inovasi baru. Pertama, soal model kampanye. Setelah kampanye akbar dilarang, tentu harus ada medium lain yang disiapkan untuk menyampaikan gagasan kandidat. Penyelenggara maupun kontestan perlu berpikir keras memeras otak. Misalnya, metode kampanye melalui media sosial diutamakan meski tak semua daerah terpapar teknologi informasi. Atau metode door to door campaign dengan meminimalisasikan risiko penularan virus melalui alat pelindung diri. Jika tak ada kreativitas merekayasa model kampanye, bisa dipastikan kualitas demokrasi buruk karena visi-misi kandidat tak akan sampai kepada pemilih. Lalu apa yang akan menjadi preferensi pilihan politik jika pemilih tak kenal visi besar kandidat. Tentu semua pihak tak mau pilkada sebatas seremonial. Ritus tak bermakna. Kering substansi karena yang terjadi sebatas mobilisasi artifisial bukan partisipasi politik yang sehat. Kedua, memperbanyak tempat pemungutan suara (TPS) untuk mengurangi penumpukan massa. Jika selama ini ada opsi maksimal satu TPS berkapasitas 500 orang, di pilkada nanti setiap TPS maksimal 250 hingga 300 orang. Atau berupaya memperpanjang waktu pencoblosan mulai dari pagi hingga jelang petang menghindari kerumunan. Rekayasa semacam ini penting untuk mengamputasi sebaran korana yang kian agresif. Tak mudah memang, tapi inovasi baru perlu dilakukan jika pilkada tetap diselenggarakan di era new normal yang pandemi koronanya belum usai. Jangan pernah melakukan perjudian. Karena menyangkut nyawa dan keselamatan warga. Jangan cuma karena urusan politik elektoral. protokol kesehatan pemilih diabaikan. Apa pun harus dilakukan untuk memangkas sebaran korona. Masih banyak inovasi lain yang masih bisa dilakukan demi merawat kualitas pilkada serta menjaga kesehatan pemilih. Misalnya, masa kampanye diringkus menjadi 30 atau 40 hari saja, yang penting bisa menggairahkan pemilih. Di tengah kesulitan pasti terselip sebuah harapan. Menyelenggarakan pilkada di tengah pandemi bukan perkara mudah. Butuh tekad, keseriusan, dan ‘manuver tak biasa’ untuk tetap menjaga keadaban berdemokrasi. Inilah ujian sesungguhnya bangsa saat ini. Segala daya upaya ditantang untuk bisa mewujudkan perhelatan pilkada berkualitas di masa wabah korona. Kekuatan intelektual serta kreativitas ilmu pengetahuan dipaksa melahirkan inovasi baru dalam merekayasa pilkada serentak kali ini. Semua pihak paham, memaksakan pilkada serentak di tengah pandemi korona bukan sebatas regenerasi kepemimpinan daerah, tapi melainkan juga sebagai upaya menstimulasi ekonomi yang luluh lantak akibat terpaan badai korona. Roda ekonomi dipastikan kembali berdenyut saat pilkada. Kandidat, tim sukses, serta partai politik tentu mengapitalisasi segala sumber daya ekonomi mereka untuk memenangkan pertarungan meski harus berjibaku dengan wabah. Pandemi membuka peluang bagi kita untuk berkreasi dan berinovasi dalam menjalankan demokrasi. Semoga ikhtiar mengelar pilkada di era new norman memberi kemaslahatan bagi bangsa dan negara. SAPARUDDIN adalah Penggiat Demokrasi Aktif di Pemantau Pemilu menjabat sebagai Sekretaris Umum Komite Independen Pemantau Pemilu ( KIPP) Daerah Pasaman 2013-2016 dan Sebagai Ketua Umum Komite Independen Pemantau Pemilu ( KIPP) Daerah Pasaman 2016 -2019.dan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Pileg dan Pilpres 2019 dan tulisan Artikel telah di muat di ( Klikpositif.com, Kompassiana.com dan Indonesiana.com)