x

optimis

Iklan

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 31 Maret 2020 12:03 WIB

Nyawa Terus Melayang, Rakyat Butuh Sikap Tegas dan Optimis Pemimpin Negeri

Nyawa terus melayang akibat corona, namun kebijakan pemimpin negeri sangat lambat.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Fakta bahwa hanya dalam tempo 1 bulan sejak kasus pertama diumumkan (3/3/2020), korban meninggal akibat corona di Indonesia sudah mencapai angka 1.414.000 per (30/3/2020). 

Atas fakta itu, sejatinya apa yang mau diperdebatkan lagi? Inilah hasil kebijakan yang dianggap paling bijak oleh pemerintah pusat Indonesia (baca: Presiden), yang dari hari ke hari, kebijakannya juga coba dilawan oleh setiap pemimpin pemerintahan daerah. 

Siapa yang mau dianggap telah dengan sengaja menyebabkan 1.414.000 atau entah akan terus bertambah lagi nyawa rakyat Indonesia melayang? 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sudah pasti jawabnya, tentu virus corona. Tapi siapa yang membuat virus corona terus menyebar di Indonesia? Jawabnya orang-orang yang telah menyebarkannya. Mengapa orang-orang menjadi penyebar virus corona? Karena kebijakan pemerintahnya. 

Mungkin begitulah urutan pertanyaan dan jawaban, yang pada akhirnya mengerucut jawaban bahwa pemerintah pusat Indonesia telah menyebabkan 1.414.000 nyawa melayang akibat kebijakannya, dengan apapun alasannya. 

Oleh karena itu, saya juga sependapat dengan apa yang diungkapkan oleh mantan Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah yang mengatakan, ini saatnya pemimpin negara tampil dan berbicara. Sebab hari ini, publik perlu arah dan ketenangan. Pemimpin tak perlu ragu sebab tidak ada pejabat yang bisa mewakili pemimpin. Fahri pun berujar: “Jangan nampak bingung dan ragu, tidak ada pejabat yang bisa mewakili kepemimpinan inti. Jangan pion-pion yang tampil,” ujar Fahri lewat rilisnya, Senin (30/3). 

Sebetulnya, saya, bahkan mungkin banyak rakyat yang bisa jadi terhibur dengan pernyataan Fahri yang sebelumnya sangat aktif tampil ini. Fahri menyebut dalam situasi corona semakin gawat "pion-pion yang tampil". Memang, masyarakat juga sudah sangat gerah dengan hanya seringnya pion-pion ini muncul, tampil, diundang ke sana-ke sini media televisi, lalu bicara, ujungnya hanya meneruskan kebijakan Jokowi dibumbui pernyataan pribadi, yang sudah dapat ditebak arahnya. 

Benar kata Fahri, mungkin sekarang rakyat tidak butuh pion-pion, tetapi pemimpin yang asli! Bahkan Fahri pun menambahkan: “Jika pemimpin nampak lemah, seluruh rakyat akan merasa lemah. Jika pemimpin nampak kuat dan mampu menggerakkan bangsa, bersatu kita teguh. Ini saat pemimpin tampil mengajak rakyat bersama.” 

Fahri pun menambahkan bahwa “Negara kita adalah negara Pancasila yang memiliki perangkat budaya untuk melawan. Kecemasan lebih berbahaya dari corona. Maka tugas utama pemimpin adalah mengajak rakyat melawan rasa cemas.” 

Kini, atas kebijakannya yang mungkin karena sangat dikalkulasi, hingga nampak terlihat dan terasa lambat, lelet, ragu, dan lemah, akibatnya pemimpin inti daerah (Gubernur, Bupati, Wali Kota) pun tak patuh akan kebijakannya yang telah membikin 1.414.000 nyawa melayang. 

Atas kondisi ini, masyarakatpun ramai memposting tentang foto dan ucapan Presiden Ghana di berbagai media sosial. Postingan yang terus diteruskan dan disebarkan, tentu bukan maksud masyarakat hanya sekadar meneruskan dan menyebar, namun tentu ditujukan jelas arahnya ke mana, karena bisa menjadi sindirian, mengetuk hati, atau nada protes yang santun. 

Apa yang dilakukan Presiden Ghana ini? Hingga ucapan dirinya viral di dunia maya dan sampai juga ke netizen Indonesia? Presiden Ghana, Nana Addo Dankwa Akufo-Addo mengungkapkan bahwa pemerintahnya memiliki apa yang diperlukan untuk kembali menghidupkan ekonomi Ghana jika wabah Virus Corona COVID-19 saat ini menyebabkan perekonomian mati suri dalam beberapa bulan mendatang. 

Inilah pernyataan tegas, yang yakin membuat rakyat Ghana menjadi optimis dan tak panik, tidak seperti masyarakat Indonesia. Nana menyebut, ekonomi di seluruh dunia diperkirakan akan terhenti dalam beberapa minggu mendatang. Hal ini disebabkan oleh langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk membendung gelombang penyebaran virus corona sehingga ikut mempengaruhi perusahaan dan bisnis yang beberapa di antaranya telah menghentikan operasi. 

Itulah, Nana, Presiden Ghana yang tegas dan yakin akan kebijakannya, seperti dilansir dari Ghana Web, Minggu (29/3/2020). Yang semoga juga tidak akan terjadi peristiwa di India, karena perbedaan kultur, sosial, dan budayanya.

Yang pasti, atas sikap dan kebijakan yang optimis ini, Nana yang tentu juga sangat memahami ekonomi dan apa yang akan terjadi dengan rakyatnya, dalam pidatonya tentang virus corona yang telah mempengaruhi 137 orang dan membunuh 4 dari mereka di negara itu, Nana kembali menegaskan bahwa efek situasi Covid-19 pada ekonomi Ghana akan sangat mengerikan jika berlangsung untuk waktu yang lebih lama lagi. 

Tetapi setelah menghabiskan tiga tahun terakhir untuk memperbaiki ekonomi negaranya, Nana mengatakan, "Seperti yang telah kami tunjukkan selama tiga tahun terakhir, di mana kami mewarisi ekonomi yang tumbuh senilai 3,4% dan mengubahnya menjadi ekonomi yang tumbuh rata-rata 7% selama tiga (3) tahun terakhir, saya jamin Anda bahwa kami tahu apa yang harus dilakukan untuk menghidupkan kembali perekonomian kita." 

Nana pun menutup dengan mengungkapkan, "Apa yang kita tidak tahu bagaimana melakukannya adalah untuk menghidupkan kembali orang. Namun, kami bisa melindungi kehidupan masyarakat, kemudian mata pencaharian mereka." 

Meminjam istilah Fahri, bila pemimpin inti kita adalah Nana, maka tentu masyarakat tak akan cemas dan panik. Sudah begitu, para pion-pion di negeri ini juga malah kebanyakan tampil dan ditampilkan, sehingga semakin membuat masyarakat gerah. 

Kira-kira, apa berita dari pemimpin inti bangsa, hari ini? Sudahkan PP tentang Karantina Kewilayahan siap diluncurkan? Atau pemikiran darurat sipil? Atau pemikiran apalagi? Terus muter-muter, hanya demi menghindar dari kata lockdown.

Masihkah pion-pion itu akan terus beraksi yang hanya membikin kisruh dan keruh lagi. 

Masyarakat di sektor informal, kini sangat butuh uluran tangan, meski NKRI tak di lockdown, toh usaha mereka tetap tak dapat berjalan karena masyarakat tak lagi membeli jualannya atau menggunakan jasanya. 

Namun, mereka tetap berkeliaran demi perut dan keluarganya,  hingga corona terus mengancam. Andai pemimpin negeri ini sejak kasus pertama, langsung menelurkan kebijakan lockdown, dan menyiapkan bantuan mungkin tidak harus ada 1.414.000 nyawa melayang dan akan bertambah berapa lagi. 

Kini, rakyat sangat butuh sikap optimis pemimpin yang benar, tegas, dan cepat, mumpung belum begitu terlambat. 

Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan