Absurdnya Hidup di Tengah Pandemi, Nyatanya Lebih Absurd Pemerintah dalam Mengatasi Sampar Covid-19! - Analisa - www.indonesiana.id
x

Lalu Muh Salim Iling Jagat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Oktober 2019

Selasa, 7 April 2020 10:13 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Absurdnya Hidup di Tengah Pandemi, Nyatanya Lebih Absurd Pemerintah dalam Mengatasi Sampar Covid-19!

    Dibaca : 1.096 kali

    Pada 7000 tahun silam, kita mengawali sejarah ini dengan revolusi kognitif. Sekitar 12 ribu kita mempercepat sejarah dengan revolusi pertanian. Selama 500 tahun sedang berlangsung revolusi sains. Itulah tiga revolusi yang membentuk sejarah kita –entah sampai kapan dan apa serta bagaimana kelanjutannya— yang memenangkan pentas dunia dengan makhluk yang lain. Itulah sejarah kita, secara apik telah ditulis oleh sang futuris Yuval Noah Harari dalam buku Sapiens-nya.

    Telah berhasil kita taklukkan segalanya, kaki telah kita pijakkan di bulan melawan panasnya gesekan atmosfer, sampai-sampai –meminjam perkataan Danarto– Tuhan, kami ingin sekali menjadi yang kuasa! Ya, kita ingin menjadi yang kuasa.

    Sejarah lain mencatat, kita ini tak begitu berdaya menghadapi makhluk kecil yang tak kasat mata, yakni patogen. Sejarah telah mencatat, mulai dari Flu Spanyol (1918) yang telah menewaskan 50 juta jiwa, Flu Asia (1957) yang membunuh 1,1 juta jiwa, Flu Babi (1968) yang mematikan 18,5 ribu jiwa, dan sekarang Covid-19 telah merenggut 72.638 jiwa manusia (lihat https://google.com/covid19-map/?hl=en update 7/4/2020).

    Fenomena di atas, masih sebab dari patogen virus. Belum lagi patogen-patogen yang lain seperti bakteri, fungi, cacing, prion, serta protozoa. Kesemua patogen-patogen tersebut secara terus menerus menambah jumlah spesiesnya. Setidaknya, hingga 2005 silam telah ditemukan spesies baru dari patogen-patogen tersebut sebanyak 1.399 spesies (lihat Ecological origin of human pathogen karya Mark Wool House dan Eleanor Gaunt dalam buku  Microbial Evolution and Co-Adaption: A Tribute to the Life and Scientific Legalicies of Jushua Lederberg, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK45714/).

    Menurut peneliti, perubahan ekologi merupakan faktor pendorong munculnya spesies baru patogen-patogen tersebut. Seperti praktik agrikultur, praktik pengolahan makanan, perubahan ekosistem air, deforestasi dan reforestasi, serta perubahan iklim. Ulah manusia!

    Itulah kehidupan kita di masa depan. Saya hampir tidak bisa membayangkannya. Bahaya yang tak kasat mata, hantu yang lebih nyata daripada hantu pada umumnya.

    Hidup ini memang absurd! (meminjam kata Camus)

    Albert Camus bilang; manusia merupakan orang yang mati tertunda.

    Dalam karyanya, novel La Peste (Sampar) yang ia tulis 1947 silam, Camus menggambarkan kekacauan besar sedang terjadi di kota Oran, Aljeira. Kota itu terporak-poranda dibuat oleh sampar. Kekacauan besar terjadi! Pemerintah dalam mengatasi sampar tak satu kata (barangkali banyak kelakar), tenaga medis juga masyarakat demikian, tak ada kesatuan hati dan jiwa untuk melawan Sampar itu.

    Aduhaii..!

    Tak jauh beda dengan Indonesia, bukan? Rakyatnya merengut, pemerintahnya banyak kelakar. Teman-teman semua pasti tahu seperti apa kelakar pejabat negeri kita. Teman-teman pasti merasakan juga betapa garingnya kelakar mereka.

    Bukannya mereka sudah mengantisipasi sejak awal agar Covid-19 ini tak masuk ke negeri kita. Ternyata mereka membuat kebijakan yang absurd (tak masuk di akal), memberikan intensif kepada wisataman dengan diskon tiket pesawat, juga membayar influencer (saya ingin menyebutnya buzzeRp) dengan dana tak kecil, 72 Milyar! Sepertinya betul kata Cak Nun; rupanya pucuk pimpinan kalian merasa sayang untuk melewatkan pemasukan dari turis-turis.

    Padahal, sejak awal rakyat sambil merengut telah mengerutkan dahi mengingatkan mereka. Aduhai jangan sampai negeriku seperti kota Oran, jangan sampai Tuhan!

    Tenang, jangan panik, kira-kira begitu kata yang keluar dari mulut mereka. Padahal jika dilihat dari kebijakannya untuk megatasi krisis ini, nampak wajah kepanikan, gugup, dan gagapnya mereka. Mereka tak siap mengatasi ini semua. Teman-teman semua pasti telah membaca berita, fasilitas kesehatan kita kurang, tidak memadai, alat pelindung diri (APD) juga kekurangan untuk tenaga medis. Mirisnya hati melihat tenaga medis menggunakan jas hujan plastik.

    Hak rakyat atas kesehatan tidak dipenuhi! Dalam komentar umum komite hak ekosob PBB tentang hak atas kesehatan, setidaknya ada 4 (empat) komponen inti (core obligations) yang harus dipenuhi. Pertama, ketersediaan (availability). Kedua, akses (accessibility). Ketiga keberterimaan (acceptability). Keempat, kualitas (quality). Sayang sekali teman, fasilitas kesehatan kita tidak memenuhi empat komponen inti tersebut. Saya tidak bisa membayangkan susahnya tenaga medis kita yang berada di pelosok negeri.

    Sampar Covid-19 ini memang membuka tabir betapa buruknya fasilitas kesehatan kita. Alih-alih membangun fasilitas kesehatan dalam memenuhi hak atas kesehatan rakyat, pemerintah kita malah membangun infrastrukur lain demi investasi yang menyebabkan hutan dibabat, lingkungan dirusak dari segi kuantitas maupun kualitas, rakyat tidak mendapat apa-apa dengan mitos trickle down effect yakni pembangunan yang mengejar pertumbuhan itu.

    Pembangunan yang selama ini telah dijalankan, nyatanya tidak dapat mengurangi kesenjangan dan ketimpangan ekonomi. Pembangunan infrastrukur yang dicanangkan pemerintah dengan retorika untuk meningkatkan pemerataan dan kesejahteraan rakyat seperti yang banyak dilakukan terutama di dunia ketiga, belum tentu diartikan pembangunan oleh rakyat yang terdampak paling merugikan dari prosesnya. Bagi mereka yang tersingkir, proses itu lebih diartikan sebagai “peminggiran” karena dalam proses maupun sebaran manfaat hasilnya tidak jarang rakyat setempat hanya dijadikan “penonton” atau malah “korban kemajuan” (Bodley, 2015 dalam Oekan S. Abdoellah, Dede Mulyanto, 2019).

    Pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan demi pertumbuhan itu sendiri mau tak mau akan jatuh ke dalam kebekuan, berjalan di tempat, atau malah meruntuhkan peradaban yang sudah terbangun karena daya yang menopangnya, yakni alam, tak bisa lagi dieksploitasi (Bodley, 2015). Sampar Covid-19 ini, mestinya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengubah arah pembangunannya, fasilitas dasar publik semacam kesehatan dan pendidikan harus menjadi prioritas utama dalam pembangunan, daya dukung lingkungan juga harus menjadi pertimbangan (mengingat perubahan ekologi merupakan factor pendorong terbentuknya spesies baru pathogen).

    Itulah realitas pembangunan kita selama ini, fasilitas kesehatan kita buruk. Bagaimana dengan cara pemerintah mengatasi sampar Covid-19 ini? Seperti yang telah saya tuliskan di atas, banyak kelakar! Tidak hanya itu, tidak masuk di akal! Coba bayangkan, imbauan dan imbauan selalau disampaikan, semacam di rumah saja, working from home, physical distancing, self-isolation, dan lain sebagainya.

    Sementara mayoritas rakyat kita tak bisa di rumah saja, tak bisa bekerja dari rumah saja, terlebih dengan istilah yang tidak dikenal rakyat bawah itu, tentu saja semakin tidak bisa, mereka mayoritas melakukan kerja fisik. Selama lebih kurang tiga minggu imbauan itu disampaikan, tidak ada bantuan yang dikucurkan. Berdiam di rumah selama tiga minggu, bagaimana rakyat bawah bisa makan? Tentu beda dengan mereka yang memiliki privilese dalam bidang ekonomi, di rumah saja akan nyaman, working from home bisa dilakukan.

    Desakan dan desakan terus diteriakkan via daring oleh rakyat kepada pemerintah, tegaslah pemerintah! Jangan hanya imbauan! Karantina wilayah! Jamin kebutuhan dasar rakyat selama karantina! Segera pemerintah merespon desakan itu, dengan respon yang aduhai tidak masuk di akal, bukan karantina wilayah, tapi pembatasan social berskala besar atau PSBB. Sementara mereka mengimbau, jangan mudik, jangan pulang kampung, sementara PSBB secara normatif tidak melarang itu. Ditambah lagi, PSBB yang akan diiringi darurat sipil, semakin tidak masuk di akal, darurat kesehatan menjadi darurat sipil.

    Hidup di Indonesia semakin absurd nyatanya! Fasilitas dasar kesehatan kita buruk, cara-cara pemerintah mengatasi sampar Covid-19 tidak masuk di akal.

    Tapi sudahlah, mengharapkan pemerintah semacam fatamorgana, kelihatannya ada tapi nyatanya tidak. Untuk itu, bantulah tenaga medis dengan tidak menjadi pasien baru. Jagalah kesehatan kita semua.

    Tenaga medis kita seperti dokter Rieux (tokoh dalam novel Sampar) yang berjuang melawan kematian pasien-pasiennya. Tenaga medis adalah pejuang dan pahlawan kita, hormat saya setinggi-tingginya untuk mereka semua.

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.