Ironi Sarjana Berujung Jadi Petani - Urban - www.indonesiana.id
x

Foto inindiambil ladang jagung lare'u doridungga

Alhemo Nawir Chanel

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 Desember 2019

Sabtu, 11 April 2020 06:20 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Ironi Sarjana Berujung Jadi Petani

    Apa gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota kikuk pulang ke daerahnya

    Dibaca : 1.808 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Penulis : Nhawir Alhemo 

    Mengutip seperti syair lagu Iwan Fals
    Engkau sarjana muda
    Resah mencari kerja
    Mengandalkan ijazahmu
    Empat tahun lamanya
    Bergelut dengan buku
    'Tuk jaminan masa depan.

    Empat tahun lamanya bergelut dengan buku, dan skripsi, dengan harapan untuk jaminan masa depan. Lantas kenyataan yang terjadi dikalangan sarjana begitu kelam, lantaran ijazah hanya sekedar piagam pengetahuan berakhir pada laci meja dan lemari pakaian. Karena minimnya inovatif terhadap minat dan bakat sehingga terbelenggu dengan keadaan, pengangguran menjadi pilihan utama. Faktor minimnya ketersediaan lapangan kerja, atau generasi yang ingin serba instan. 

    Apa gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota kikuk pulang ke daerahnya?
    ~ WS Rendra

    Dari kutipan kalimat diatas bahwa pentingnya pendidikan, dapat memberikan wawasan pengetahuan, baik berpotensi untuk pengembangan diri, kemudian berpotensi juga pada masyarakat. Ironinya ketika saya membalikkan kalimat diatas, ketika sarjana tidak memiliki potensi pada bidangnya atau tidak memanfaatkan produk ilmu pengetahuannya dikalangan masyarakat. Apa jadinya ketika ilmu pengetahuan yang didapat dikampus kemudian, tidak semata-mata diterapkan dalam ruang lingkup masyarakat.

    Kemudian bukan hanya menglitik dan menyinyir ketika sarjana tidak mampu memberikan perubahan terhadap masyarakat, lantas apa gunanya pendidikan tinggi. Lantaran hanya sekedar menjadi pion masyarakat, hilang jati diri idealisme, berujung pada keadaan yang simpar siur, sarjana tidak mampu memberikan edukasi terhadap masyarakat.

    Pendidikan, semata-mata mencerdaskan kehidupan bangsa, lantas pada hakikatnya pendidikan yang terjadi hari ini, tidak seindah slogan pada eranya. Pendidikan hanya memarginalkan kaum terdidik, hanya sekedar bergelut dengan buku dan pena saja, sehingga melahirkan generasi hanya bisa mencatat, dan menghafal. Pendidikan bukan bermain pada wilaya itu saja, tapi yang perlu diasah dalam pola pendidikan adalah bagaimana kaum pendidik dengan kaum terdidik mampu efek timbal balik antara pengetahuan yang dipelajari, sehingga dapat melahirkan generasi yang aktif dan progresif.

    Tokoh dunia Nelson Mandela bahkan pernah berkata, "Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia." Jangan pernah bermimpi menjadi bangsa yang besar dan disegani negara-negara lain bila masalah yang melilit dunia pendidikan tak kunjung dibenahi dan diselesaikan.

    Sistem pendidikan yang digagas oleh K.H. Dewantara adalah sistem pendidikan yang memerdekakan dan berkemanusiaan. Namun kini dua azas tersebut mulai digeser oleh asas yang digagas oleh pasar. Sekolah di Indonesia saat ini tak ubahnya sebuah pabrik yang dikendalikan oleh kapitalis. Dimana siswa menjadi buruhnya dan guru menjadi mandornya.

    Paulo Freire dalam karyanya yang terkenal adalah Pedagogy of The Opressed (Pendidikan Kaum Tertindas). Pendidikan kaum tertindas berangkat dari penerjemahan filosofis situasi sosial ke dunia pendidikan yang tujuan akhirnya adalah pembebasan dan pemanusiaan. Dalam dua tujuan itulah ia melihat penyadaran merupakan inti pendidikan. Tujuan pembebasan diperantarai oleh hubungan dialektis lain, yaitu kesadaran manusia dan dunia.

    Dalam tulisan ini, saya pribadi terlahir dari rahim petani, lumbung nyawa dan harapan adalah sawah dan ladang, tinggal didataran tinggi, mayoritas masyarakat bertani. Dari hasil pertanian digunakan untuk biaya sekolah dan kuliah, sehingga mampu mencentak sarjana muda pertahun, dengan gelar yang berbeda-beda. Karena tuntutan orang tua bahwa pendidikan sangat penting, kemudian gelar sebagai pembeda kultur sosial. Lantaran tuntutan status sangat penting. Untuk mendapatkan eksistensi ruang publik.

    Jadi petani memang profesi yang mulia, bertani atau bercocok tanam harus mempersiapkan fisik yang kuat, penuh tantangan panasnya matahari dan dinginnya musim hujan, sibuk diladang dan sawah.

    Untuk menghindari pola berfikir yang sensitif dalam artikel ini saya tegaskan, bukan masalah profesi sebagai petani, saya mengkaji tapi pada wilayah pendidikan yang didapat selama di kampus, kemudian pengetahuan yang didapat selama kuliah. Sehingga tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya ketika kembali ke kampung, lantaran dengan profesi yang berbeda-beda mampu memberikan edukasi ke masyarakat sesuai pengatahuan yang digeluti.

    Contohnya yang berprofesi sebagai sarjana pertanian, bagaimana bisa memanfatkan ilmu tentang pertanian, untuk memberikan pendidikan tentang bercocok tanam yang baik, pengolahan bibit dan pupuk yang baik, sehingga bisa menghasilkan hasil pertanian yang baik. Mampu mengsejahterakan masyarakat setempat. Sehingga ilmu dan pengetahuan sangat bermanfaat bagi masyarakat umum.

    Begitu pun dengan profesi-profesi yang lain, mampu memberikan edukasi kemasyarakat demi menambah wawasan dan pengetahuan bagi lingkungan masyarakat tersebut. Kemudian disisi lain minimnya kesadaran Pemerintah desa untuk melibatkan sarjana dalam mengembangkan potensi pada sumber daya manusia dan sumber daya alam,  sehingga ironi banyak sarjana jadi petani, karena minimnya ketersediaan lapangan kerja oleh Pemerintah .

    Doridungga 11 April 2020

    Ikuti tulisan menarik Alhemo Nawir Chanel lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: web seo

    Minggu, 26 Juni 2022 12:08 WIB

    Cara Membersihkan Thorttle Body pada Motor

    Dibaca : 465 kali